oleh

Jalan Terjal Kembalinya Daerah Istimewa Surakarta

-Budaya-3.576 views

‘Akan tetapi karena situasi dan kondisi saat itu yang tidak kondusif, rupanya belum bisa di lakukan.’ Ujar Surojo dalam paparanya.

Dikarenakan munculnya kelompok gerakan anti swapraja di Surakarta bernama Persatuan Perjuangan yang di prakarsai oleh Tan Malaka, di dukung para tokoh seperti Buntaran, Abikusno, Iwa Kusuma Sumantri dan Mayjen Soedarsono.

Surakarta di pilih basis oposisi untuk menggoyang Pemerintahan RI yang di pimpin Sutan Syarir. Keraton Surakarta kala itu di anggap sebagai penghalang gerakan oposisi yang ingin menguasai negara.

Puncaknya pada bulan Juni 1946 gerakan oposisi antiswaprja menculik PB XII dan KGPH Suryohamijaya untuk tidak meneruskan pemerintahan DIS.

Kekacauan sosial politik di picu oleh kelompok oposisi yang menuntut penghapusan DIS dan meminta penggantian PB XII sebagai kepala DIS.

Puncaknya, gerakan oposisi menculik Patih Sosrodiningrat V dan melakukan pembumi hangusan kepatihan dan membakar seluruh arsip arsip penting negara.

‘Dampak dari hilangnya status DIS, Keraton sebagai lembaga pemangku adat dan budaya nyaris tidak terpelihara dengan baik. Bangunan dan benda benda bersejarah yang ada rusak karena ketiadaan anggaran perawatan.’ Ujarnya

Konstelasi politik praktis imbuh Surojo, juga membawa dampak hubungan kurang baik antar personal keluarga keraton.

Namun terlepas dari usaha  keluarga Keraton yang ingin mengembalikan status daerah khusus Surakarta, Keraton sebagai pemangku adat dan budaya tentunya harus kita jaga dan lestarikan keberlangsunganya.

Apalagi saat ini keraton memiliki peran sangat penting dalam menjaga karakter dan jati diri bangsa.

Yang sama, Ketua Pelaksana  sekaligus pengasuh Ponpes Kyai Ageng Sela,  Kyai Heri Sarwoko Rekso Pujadipura menyampaikan, alasan di gelarnya sarasehan budaya adalah untuk memberikan edukasi kepada para generasi muda khususnya di kalangan pesantren.

Sejarah merupakan bagian dari  perjalanan sebuah bangsa yang harus kita jaga. Meski di dalamnya ada kelam dan terang, namun semua peristiwa adalah catatan sejarah.

Pesantren saat ini memiliki andil sangat besar dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara. Peran pesantren tidak hanya di bidang keagamaan saja, akan tetapi juga sosial, ekonomi dan budaya.

Oleh karena itu penguatan budaya dalam jaringan pesantren harus kita lakukan, guna menjaga keberlangsungan sejarah yang ada, pungkas pengasuh PP Kyai Ageng Sela.

Sarasehan budaya yang berlangsung di PP Kyai Ageng Sela Tulung Klaten, menghadirkan tiga narasumber diantaranya, RM Hernowo ( Gusnowo), Drs. R. Surojo dan M Yaser Arafat, M.A selaku peneliti nisan. / Jud

Follow Lokabali.com di Google News



Komentar

Berita Lain