Alangkah kagetnya Slamet saat tiba di lokasi melihat makam mbah Klabang yang dulu berupa gundukan tanah di urug dengan batu, sudah berubah bentuk seperti makam lain pada umumnya. Padahal selama ratusan tahun gundukan makam tersebut di pertahankan.
Dari cerita tutur simbah simbah dulu, makam mbah klabang gundukan seperti itu. Warga tidak berani merubah karena para sesepuh juga mempertahankan bentuknya. Warga takut kena pageblug dan balak jika merubah atau melanggar tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun sillam.
‘ Umur saya 72th, sejak kecil saya sudah melihat bentuk makam mbah klabang gundukan tanah di urug batu’ Jelas Slamet menegaskan.
Akibat perbuatan yang di lakukan terduga AP bersama dengan teman temannya, warga marah dan meminta makam mbah klabang di kembalikan lagi kebentuk semula. Semua benda atau batu nisan kuna yang ada di makam pinta warga harus di kembalikan ke tempatnya semula. Tak satupun ada yang boleh di ambil.
Sedangkan dari pengakuan salah satu warga yang tak lain masih kerabat Pak Slamet Saputra, di ketahui jika masih ada satu benda yang di duga berbahan batu dengan bentuk menyerupai alu gada atau golong gilik yang masih di pertanyakan keberadaanya.
Dari pengakuan Pak Slamet saat mediasi dengan para terduga pelaku dan warga di Polsek setempat diterangkan, jika benda tersebut kata para terduga pelaku pembongkaran sudah di kembalikan dipendam ke dalam makam. Akan tetapi warga meragukan pengakuanya , sebab belum melihat dengan kepalanya sendiri.
Warga mengingingkan benda yang di ambil para terduga pelaku di tunjukan agar tidak ada keresahan di masyarakat. Warga juga berharap para perilaku terduga pembongkaran makam punden desa di berikan hukuman yang setimpal dan di tellusuri motif yang mendasari pembongkaran.
Saat melihat makam mbah klabang di lokasi, Slamet Saputra menunjukan akar pohon sebesar paha orang dewasa dengan panjang kurang lebih tiga meter. Dari keteranganya, akar tersebut di potong oleh para terduga pelaku saat membongkar makam. / Jk













Komentar