oleh

Menangkal Wabah Pagebluk Melalui Mulat Sariro Hangrasawani

-Budaya-719 views

LOKABALI.COM-Upaya penanggulangan wabah pandemi corona sampai saat ini masih terus dilakukan oleh Pemerintah, baik melalui upaya lahir maupun bathin. Berbagai langkah sudah di tempuh, namun wabah pandemi covid19 tak pernah kunjung usia serta masih jauh dari harapan pengendalianya. Lantas sampai kapan wabah ini akan terus berlangsung?

Wabah pandemi covid 19 yang terjadi di dunia, khususnya di Indonesia tidak hanya harus di sikapi dengan berbagai cara ihtiar, namun juga mengharuskan kita untuk mawas diri, instropeksi terhadap segala perilaku yang sudah kita jalani selama ini.

ITB-STIKOM-Bali

Wabah pandemi oleh masyarakat adat sering disebut pagebluk ini tidak bisa di selesaikan melalui kemampuan medis saja, tetapi upaya bathin juga harus di lakukan. Berkaca dari peristiwa sejarah di Nusantara, pagebluk pernah datang silih berganti, akan tetapi melalui kearifan yang ada semua dapat di tanggulangi.

Dari berbagai literasi yang pernah ada, wabah pagebluk di masa lalu di yakini jauh lebih mengerikan di bandingkan dengan wabah pagebluk saat ini. Esuk sakit, sore mati, begitupun sebaliknya. Upaya penanggulan wabah tidak dilakukan dengan cara medis karena belum adanya tehnologi saat itu. Akan tetapi di lakukan melalui upaya kearifan lokal yang sudah di pegang selama ribuan tahun.

Konsep memayu hayuning bawana, menjaga keselamatan dan kelestarian alam semesta menjadi kunci bagaimana para leluhur jaman dahulu menanggulangi, serta menjaga agar wabah pagebluk tidak datang membawa penyakit dan bencana.

Ilustrasi : Sedekah Mahesa Lawung sebelum masa pandemi yang di gelar Kraton Solo di Hutan Krendawahana / Foto: Lokabali ( th 2014)

Tradisi sedekah bumi, sedekah laut, bersih desa dan tradisi adat lainya yang pernah di lakukan oleh masyarakat Nusantara sebenarnya cara bagaimana para leluhur menangkal pagebluk. Tradisi tersebut sebagian memang masih di lakukan, salah satunya oleh Keraton Mataram di Surakarta dan Jogjakarta.

Sedekah Mahesa Lawung di Hutan Krendawahana, larungan di laut selatan, sesaji di Gunung Lawu dan Gunung Merapi, adalah bukti upaya dari para leluhur Mataram bagaimana mereka menjaga keselamatan dan kelestarian alam semesta beserta seluruh isinya.

Di era kejayaan Demak Bintoro, sedekah Mahesa Lawung kala itu pernah di tiadakan, namun imbasnya, wabah pagebluk datang menyerang. Melalui para wali, Sultan Demak lantas meminta walisongo mencari tahu bagaimana menanggulangi wabah pagebluk.

Oleh para wali kemudian di sampaikan jika pagebluk datang lantaran di tiadakanya sedekah Mahesa Lawung di Hutan Krendowahono, padahal sedekah sesaji tersebut sudah di lakukan Prabu Sitawaka dari kerajaan Gilingaya sejak tahun 378M yang di tandai dengan sengkalan ‘ Pujaning Brahmana Guna ‘

Peristiwa sejarah yang pernah ada di Nusantara ini hendaknya dapat menjadi cermin bagi sekarang bagaimana para leluhur Nusantara menanggulangi pagebluk. Apalagi saat ini masih banyak raja dan sultan di seluruh Nusantara duduk sebagai pemangku adat dan budaya yang masih memegang teguh kearifan lokal dari para leluhur leluhurnya.

Semua mahkluk yang ada dimuka bumi ini, baik yang besar wujudanya sampai yang terkecil sekalipun ada yang menggerakan, ada yang menggembala, demikian di sampaikan oleh Empu Totok Brojodiningrat, pakar astrologi Jawa yang juga Pangarsa Padepokan Keris Brojodiningrat melihat pagebluk pandemi saat ini dari kacamata budaya kearifan lokal.

Ahli pawukon dan perbintangan Jawa ini menyampaikan, jika di balik semua peristiwa yang saat ini tengah terjadi dan tidak mengenakan, apapun bentuknya tentu ada hikmah kebaikan yang terselip di dalamnya. Para leluhur jaman dahulu memberi contoh bagaimana mereka berkomuniakasi dengan penggembala mahkluk kecil tidak kasad mata yang menimbulkan pagebluk. Pendekatan para leluhur dalam situasi seperti sekarang ini bisa kemudian ‘ Mulat sariro hangrasa wani’.

‘ Yang artinya melakukan intropeksi diri yang mendalam, adakah diri kita yang kurang bersyukur. Berani mencontoh para leluhur dalam berucap syukur dengan cara sedekah bumi, sedekah laut dan sedekah lainya ‘ Jelas Empu Totok Brojodiningrat mengungkap hikmah dari persoalan berat wabah pagebluk yang tengah di hadapi bangsa ini.

Saat melakukan ‘ Mulat sariro hangrosowani ‘ biasanya kita akan tersadar, memang banyak kearifan lokal yang sudah kita tinggalkan. Contoh yang paling sederhana adalah bersih desa yang di lakukan oleh masyarakat desa tiap tahun sebagai wujud atau bentuk penghormatan kepada yang mbahurekso atau penunggu yang tidak kasad mata. Saat ini sudah banyak di tinggalkan akibat santernya budaya luar yang menggerus kearifan lokal Nusantara.

Jangan salah mengerti, di semua tempat pasti ada yang mbahurekso dan mereka bukan syaithon, akan tetapi mahkluk Tuhan berbadan halus tidak kasad mata yang mendiami tempat tempat tertentu sebelum di huni oleh manusia. Dan yang mbahurekso inilah sebenarnya yang menghalau atau mengusir segala sesuatu yang bersifat buruk pembawa malapetaka. Hal itu di lakukan dengan sendirinya apabila keberadaan mereka di mengerti oleh masyarakat yang ada di sekitarnya dengan cara sedekah bumi, sedekah laut yang masing masing memiliki cara adat yang berbeda beda.

Tradisi mencuci tangan usai bepergian sebelum masuk rumah menjadi bukti bagaimana mereka menghindari wabah ( pagebluk ) yang sampai sekarang oleh sebagaian masyarakat masih di akui manfaatnya.

Mpu Totok Brojodiningrat jelaskan, jika pagebeluk bersifat lokal maka di adakan sedekah bumi secara lokal. Akan tetapi jika sifatnya global menimpa negeri, maka negara yang hadir melaksanakanya melalui tetua atau seseorang yang di percaya untuk mengadakan sedekah bumi. Lebih tepatnya di lakukan sesuai dengan kebiasaan tempat atau daerah, jika situasinya seperti sekarang ini.

Sebab secara fitrah, bumi juga butuh istirahat dari bising dan hiruk pikuknya manusia. Kita memohon maaf pada bumi, sebagai bentuk penyerahan diri kepada Sang Maha Pencipta yang mengatur jagad beserta seluruh isi di dalamnya. / Jk



Komentar

Berita Lain