oleh

Memaknai Esensi Tradisi Halalbihalal

-Budaya-186 views

LOKABALI.COM-Di tengah segala keterbatasan sosial menyambut perayaan hari raya idul fitri 1442 H, umat muslim hendaknya tetap mematuhi protokol kesehatan menjaga penyebaran covid19 yang telah bermutasi menjadi beberapa varian, pesan ini di sampaikan oleh wakil Ketua Lakpesdam PBNU, KP.Dr.Andi Budi S, S.H, M.Ikom

Pria yang akrab di panggil Gus Andi ini menyampaikan, melalui keihklasan dan tawakal kita kepada Allah SWT, dengan tidak mengurangi segala ihktiar dan usaha, Gus Andi berharap, Allah SWT menjauhkan bangsa Indonesia dari penyakit, wabah dan balak. Agar hari raya Idul Fitri tahun depan umat muslim di Indonesia dapat menjalin silaturahmi dengan sanak saudaranya di daerah daerah, sehingga lengkaplah sudah perayaan hari raya Idul Fitri.

ITB-STIKOM-Bali

Di akui Gus Andi, perayaan Idul Fitri di Indonesia dengan negara lain berbeda, sebab semangat idul fitri di Indonesia tidak hanya menjalankan kewajiban agama sebagai umat muslim, akan tetapi juga menjaga persatuan dan kesatuan bangsa melalui tradisi halal bi halal.

Oleh karena itu meski pelaksanaan halal bi halal di selenggarakan dengan cara daring, mudah mudah hal itu tidak mengurangi esensi makna kerukunan dalam tradisi halal bi halal.

Di kesempatan ini Kanjeng Pangeran Dr. H. Andi Budi Sulistijanto, S.H, M.ikom mengucapkan ‘ Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H, Minal Aidin Wal Fa Idzin Mohon Maaf Lahir Dan Batin ‘

Halal Bi Halal dalam sejarahnya berawal pada pertengahan ramadhan1948. Saat itu salah satu tokoh pendiri NU, Kyai Wahab Chasbulah dan Bung Karno tengah berembuk mencari solusi untuk bangsa dari ancaman disintegrasi yang di lakukan oleh kelompok DI/TII dan PKI.

Kiai Wahab mengusulkan silaturahmi nasional. Oleh Bung Karno ide ini dianggap sangat bagus, namun istilahnya harus dimodifikasi. Kiai Wahab lantas mengusulkan istilah ‘Halalbihalal’.

Maksud dan arti yang ingin dirujuk adalah masing-masing pribadi saling memberikan kehalalan atas kesalahan-kesalahan yang terlanjur sudah diperbuat. Dari ide menyatukan seluruh anak bangsa tersebut, Bung Karno lantas mengundang semua tokoh politik ke Istana Negara untuk menghadiri silaturahmi bertajuk ‘Halal Bihalal’.

Dari silaturahmi halalbihalal para elit politik dapat berkumpul kembali, duduk dalam satu meja untuk kembali menyusun kekuatan dan persatuan bangsa. Instansi-instansi pemerintah kemudian juga menyelenggarakan halalbihalal yang diikuti oleh warga masyarakat secara luas dan menjadi tradisi setiap lebaran. /Tk



Komentar

Berita Lain