oleh

Ki Ageng Pandhanarang, Wali Tutup Yang Di Kenal Sebagai Sunan Bayat

-Budaya-63 views

LOKABALI.COM-Tak banyak yang mengetahui siapa sebenarnya sosok Ki Ageng Pandhanarang yang di kenal sebagai Sunan Tembayat.

Selain di kenal sebagai wali tutup menggantikan Syech Siti Jenar agar jumlah wali genap menjadi sembilan ( Walisongo ), jasa Sunan Pandhanarang dalam mensiarkan Islam di daerah selatan yang berbatasan dengan pegunungan seribu ( gunung kidul ) juga di akui dalam berbagai serat dan babad.

Kawasan pegunungan seribu dikenal merupakan basis pelarian para ajar ( pertapa buda ) di masa akhir kejayaan Majapahit.

Kedatangan Sunan Pandhanarang di Tembayat atas perintah Sunan Kalijaga. Ia di beri tugas tidak hanya melakukan siar, tetapi juga mengislamkan para ajar. Beberapa ajar yang berhasil diislamkan dan menjadi muridny diantaranya Ajar Menakbawa, Ajar Prawirasakti ( penguasa Gunung Gambar ), Ki Ageng Sutowijaya ( Majasto ) dan para ajar lainya.

Di kutip dari berbagai sumber dan Serat Pandhanarang. Ki Ageng Pandhanarang atau yang dikenal dengan julukan Sunan Tembayat merupakan wali tutup menggantikan peran Seh Siti Jenar.

Di dalam komplek makam Sunan Tembayat terdapat delapan gapura yang harus di lewati para peziarah diantaranya, Gapura Segaramuncar, Gapura Dhuda, Gapura Pangrantunan, Gapura Sinaga, Gapura Panemut, Gapura Pamuncar, Gapura Bale kencur dan Gapura Prabayeksa.

Keterangan gambar : Salah satu gapura di makam Sunan Bayat / Foto: Lokabali

Di dalam bangsal prabayeksa terdapat gentong padhasan kyai naga.
Disisi sebelah kanan gapura segoro muncar terdapat sengkalan berbunyi, ‘ Murti sarira jleking ratu’. Sengkalan tersebut menandakan di bangunya gapura sekitar tahun 1488

Di dalam ruangan makam Sunan Tembayat terdapat makam dua orang istrinya yakni, Nyai Ageng Kaliwungu dan Nyai Ageng Krakitan ( Nyi Endang ).

Selain dua makan tersebut juga ada makam Nyai Agêng Madalêm, Pangeran Jiwa, Kyai Sèh Sabuk Janur, Kali Dhatuk, Pangeran Winang, Kyai Malanggati, Kyai Banyubiru, Panêmbahan Kabul, Kyai Panêmbahan Masjid Wetan dan Kyai Panêmbahan Sumigit Wetan.

Sebelum di angkat menjadi wali mukmin berjuluk Sunan Tembayat, Ki Ageng Pandhanarang adalah bupati semarang yang sangat senang dengan kemewahan harta duniawi.

Setiap hari kerjanya hanya mencari harta. Sementara itu di Demak Bintoro, para wali tengah berkumpul di masjid meminta kepada Sunan Kalijaga, agar mencari seorang wali untuk melengkapi jumlah genap sembilan menggantikan Seh siti Jenar.

Di sampaikan oleh Sunan kalijaga, jika sudah ada wali yang akan menjadi wali tutup, akan tetapi tinggal menunggu waktunya saja. Wali tutup yang di maksud nantinya adalah Ki Ageng Pandhanarang yang saat ini masih di liputi nafsu duniawi.

Untuk menyadarkan Ki Ageng Pandhanarang menjauh dari nafsu duniawi, beberapa kali Sunan Kalijaga mencoba menyadarkanya, akan tetapi tetap saja Ki Ageng Pandhanarang belum juga sadar.

Sampai akhirnya Sunan Kalijaga datang langsung kepada Ki Ageng Pandhanarang dan berkata, jika hidup didunia tidak akan lama. Kelak semua akan kembali ke alam keabadian. Jikalau sangat senang duniawi itu kurang baik, karena harta duniawai akan menjadi perusak, serta menjauhkan manusia dari kebaikan dan jalan menuju surga. Harta benda yang banyak akan menutupi tujuan hidup utama manusia. Juga tidak akan dibawa turut serta ke alam baka.

Di surga kebaikan dan kemewahan di sediakan, ibarat orang mencangkul, satu cangkulan saja mudah untuk mendapatkan emas.

Nasehat perumpamaan yang di sampaikan oleh Sunan Kalijaga tidak membuat Ki Ageng Pandhanarang sadar, akan tetapi justru membuat ia marah dan berkata kepada Sunan Kalijaga, ucapanmu bohong, seperti orang yang sudah pernah melihat surga. Mana ada orang mencangkul mendapatkan bongkahan emas.

Mendengar perkataan Ki Ageng Pandhanarang, Sunan Kalijaga lantas mencangkul tanah di halaman Kadipaten Semarang dan melemparkan kehadapan Ki Ageng Pandhanarang.

Tanah yang di lemparkan Sunan Kalijaga jatuh berubah menjadi bongkahan emas.

Melihat kejadian tersebut Ki Ageng Pandhanarang sadar, sosok yang berdiri didepannya bukanlah orang sembarangan, melainkan seorang wali linuwih.

Kepada Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandhangaran merasa bersalah dan mengaku keliru. Ia lantas menanyakan siapa sebenarnya orang yang berdiri di hadapanya.

Di jawab oleh Sunan Kalijaga jika ia adalah Seh Malaya atau Sunan Kalijaga.
Lanjut perkataan Sunan Kalijaga kepada Ki Ageng Pandhanarang, jikalau berniat berguru, Ki Ageng Pandhanarang di perintahkan menyusul ke Jabalkat di tanah Tembayat.

Atas nasehat Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandhanarang kemudian meninggalkan semua kemewahan membagikan hartanya untuk orang miskin, mendirikan masjid dan pesantren, kemudian mengikuti jejak gurunya ke Jabalkat.

Bersama istrinya Nyai Ageng Kaliwungu, Ki Ageng Pandhanarang menempuh perjalanan menuju Jabalkad.

Dalam perjalanan ke Jabalkad, tanpa sepengetahuan suaminya, Nyai Ageng Kaliwungu membawa emas dan berlian yang ia simpan di dalam tongkat gading wuluh.

Meski dilakukan diam diam, tetapi Ki ageng Pandhanarang mengetahuinya. Hingga sampailah suatu ketika saat di tengah perjalanan, Ki Ageng Pandhanarang di cegat dua orang begal yang akan merampoknya.

Oleh Ki Ageng Pandhanarang begal tersebut di ijinkan merampok, jika berniat mengambil harta maka di persilahkan mengambil tongkat wuluh gading yang di bawa istrinya, akan tetapi tidak boleh mengambil yang lain.

Mendengar perkataan Ki ageng Pandhanarang, kedua begal tersebut lantas mengambil tongkat yang di bawa Nyai Ageng Kaliwungu.

Tak puas hanya mendapatkan tongkat berisi emas, dua orang begal tersebut lantas berusaha mengambil pakaian yang di kenakan Nyai Ageng Kaliwungu. Akan tetapi belum sempat mengambil, tiba tiba tubuhnya jatuh lunglai ke tanah.

Sebelumnya Ki Ageng Pandhanarang sudah mengingatkan agar tidak menggangu istrinya, akan tetapi dua begal tersebut nekad ingin mengambil pakaian yang dikenakan Nyai Ageng Kaliwungu.

Melihat kondisi begal yang lunglai seperti ular dan domba, tiba tiba keduanya berubah wajah menjadi domba, sedangkan begal yang satunya berperilaku seperti ular.

Melihat kesaktian orang yang di rampoknya, kedua begal lantas meminta maaf dan ingin berguru agar wujudnya kembali seperti sedia kala. Dua orang begal yang berubah wujud lantas di beri sebutan Seh Kewel dan seh Domba.

Setibanya di jabalkad Seh Kewel dan Seh Domba di kembalikan lagi wujudnya oleh Sunan Kalijaga

Di daerah tembayat, Ki Ageng Pandhangaran di kenal sebagai Sunan Tembayat dan mengislamkan para ajar yang bermukim di daerah tembayat dan sekitarnya.

Sunan Tembayat juga memperistri Nyi Endang yang di kemudian hari di kenal dengan sebutan Nyai Ageng Krakitan.
Selain versi Sunan Tembayat adalah Ki Ageng Pandhanarang Bupati dari semarang, juga ada versi lain yang di yakini oleh masyarakat sekitar.

Di kisahkan, pasca runtuhnya Kerajaan Majapahit, Prabu Brawijaya diam diam meninggalkan kerajaan di temani Sabdopalon dan Noyogenggong.

Saat dalam pelarian menuju pegunungan seribu, Prabu Brawijaya bertemu dengan Sunan Kalijaga dan di tanya alasanya sampai pergi sejauh itu.

Dikatakan Prabu Brawijaya, jika perjalananya ke selatan tak lain ingin menyatu dengan leluhurnya, Ratu Kidul, yang kala itu bernama Dewi Wilutama.

Dalam pertemuan antara Sunan Kalijaga dan Prabu Brawijaya terjadi banyak diskusi berbagai hal persoalan gaib. Sabdopalon dan Noyogengong yang mendengar diskusi dua orang linuwih tersebut mengakui, keduanya tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.
Semua memiliki maksud dan tujuan yang sama.

Hanya saja Sunan Kalijaga telah menggunakan jaman baru, yang harus di ikuti tatananya. Oleh karena alasan ini, Prabu Brawijaya akhirnya mengikuti apa yang menjadi kemauan Sunan Kalijaga.

Di sarankan oleh Sunan Kalijaga, agar Prabu Brawijaya bersedia menjadi Bupati Semarang beralih nama menjadi Ki ageng Pandhanarang.

Hal itu di lakukan bukan untuk mengembalikan kembali Prabu Brawijaya menjadi raja, akan tetapi menjadikannya ia sebagai wali tutup menggantikan peran Seh Siti Jenar.

Sementara itu dalam cerita yang lain, asal susul Sunan Tembayat dalam serat kandha di terangkan, yang menjadi bupati semarang dengan nama Ki Ageng Pandhanarang adalah Raden Made Pandhan, putra Raden Sebrangwetan yang juga cucu Sultan Demak.

Dalam serat kandha, Radèn Made Pandhan menerima perintah dari Sunan Bonang untuk membuka tanah Tirangampèr, serta mengislamkan para ajar yang ada di sekitarnya. Setelah menetap di Tirangamper, Raden Made Pandhan terkenal dengan nama Ki Pandhanarang.

Dari informasi yang terpampang di komplek makam, kawasan makam Sunan Tembayat pernah di renovasi oleh Sultan Agung, hal tersebut tentunya menandakan, jika Sunan Pandhanarang bukanlah sosok wali biasa, tetapi memiliki keistimewan di mata Sultan Agung./ dbs



Komentar

Berita Lain