oleh

Asal Usul Keangkeran Hutan Donoloyo Dan Kutukanya

-Budaya-60 views

LOKABALI.COM-Alas Donoloyo di Desa Watusoma, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri di kenal sebagai salah satu hutan yang paling angker dan wingit di tanah Jawa. Tak satupun masyarakat berani mengambil secuil benda yang berasal dari pohon jati Hutan Donoloyo, apalagi menebangnya.

Kayu yang berasal dari Hutan Donoloyo biasanya hanya di pakai untuk membangun keraton. Itupun pemanfaatanya hanya untuk bagian bangunan tertentu, seperti tiang saka guru atau balok penuwun.

ITB-STIKOM-Bali

Kayu bekas bangunan keraton yang berasal dari Jati Donoloyo juga kerap menimbulkan masalah jika di bawa pulang ke rumah. Selain membuat suasana rumah menjadi panas, penghuni rumah juga kerap kerasukan roh atau jin.

‘ Tak jarang ada juga yang sakit gegara membawa pulang secuil kayu jati donoloyo dari bekas renovasi bangunan keraton ‘ Cerita Untung, salah satu warga keraton yang pernah melihat kejadian aneh menimpa para pekerja bangunan saat renovasi bangunan keraton Solo.

Banyak warga mempercayai Hutan Donoloyo adalah kerajaan ghaib tempat para jin dan lelembut bersemayam. Pohon jati yang tumbuh di Hutan Donoloyo saat ini di perkirakan usianya sudah lebih dari lima ratus tahun.

Sejarah keberadaan hutan Donoloyo tak lepas dari peran Ki Ageng Donoloyo yang meminta bibit jati kepada kakak iparnya, Ki Sokabaya, namun tidak di beri.

Kisah ini berawal dari runtuhnya kerajaan Majapahit, pasca Prabu Brawijaya moksa di Gunung Lawu, banyak punggawa beserta putra putri Prabu Brawijaya pergi mengungsi. Salah satunya adalah Pangeran Donokusuma dan kakaknya Raden Ayu Donowati yang turut mengungsi bersama suaminya, Pangeran Meleng.

Berjalan kearah barat kemudian menuruni lereng Gunung lawu di sisi sebelah selatan, sampailah mereka bertiga di Dusun Sokabaya. Pangeran Meleng dan Raden Ayu Donowati kemudian menetap dan membangun rumah di Sokabaya.

Sedangkan Pangeran Donokusuma meneruskan perjalanan sampai ke Dusun Watusoma di daerah Gunung Braja kemudian menetap disana.

Masyarakat Watusoma tak pernah menyangka jika Pangeran Donokusuma yang memiliki sifat baik suka menolong ini, sebenarnya putra kerajaan Majapahit. Di tempat persinggahan yang baru, Pangeran Donokusuma kemudian di kenal dengan sebutan Ki Ageng Donoloyo.

Sejak berpisah dengan kakak perempuan dan iparnya, Ki Ageng Donoloyo mendengar kabar, jika pohon jati milik kakak iparnya di Sokabaya tumbuh subur. Berniat ingin melakukan hal yang sama , Ki Ageng Donoloyo lantas meminta bibit jati kepada kakak iparnya yang sudah berganti nama menjadi Ki Sokabaya.

Akan tetapi permintaan Ki Ageng Donoloyo di tolak oleh kakak iparnya. Mendengar adiknya berkeinginan meminta bibit pohon jati namun tidak di berikan oleh suaminya, Raden Ayu Donowati secara sembunyi sembunyi memberikan bibit pohon jati kepada adiknya, dengan cara menaruh bibit jati ke dalam bumbung minuman dari bambu.

Oleh Ki Ageng Donoloyo bumbung yang di dalamnya berisi bibit pohon jati kemudian langsung di tanam di belakang rumah, anehnya keesokan hari sudah tumbuh pohon jati. Pohon jati yang tumbuh di belakang rumah tersebut kemudian di kenal dengan nama Jati Cempulung.

Berawal dari tidak di berikanya bibit pohon jati kepada Ki Ageng Donoloyo, perseteruan antara Ki Sokabaya dengan Ki Ageng Donoloyo akhirnya berlanjut secara turun temurun seakan menjadi kutukan.

Bahkan sampai saat ini warga masyarakat Sokabaya dengan warga Watusoma tidak di perbolehkan melakukan perjodohan. Jika di langgar maka akan ada akibatnya.

Sementara itu pohon jati yang terus berkembang di Donoloyo akhirnya di dengar oleh Sultan Demak yang saat itu bersama walisongo akan membangun sebuah masjid.

Atas permintaan Sultan Demak melalui utusanya Sunan Giri, pohon jati Donoloyo kemudian di minta oleh Sunan Giri untuk dijadikan sebagai tiang saka guru masjid Demak.

Oleh Ki Ageng Donoloyo pohon jati tersebut di berikan dengan syarat kelak jika terjadi prahara besar, anak cucu Ki Ageng Donoloyo di beri perlindungan dan keselamatan. Setelah syarat tersebut di sanggupi oleh Sunan Giri, pohon Jati lantas di tebang.

Sampai sekarang hutan jati Donoloyo terasa masih tetap terasa angker dan wingit. Setiap waktu tertentu, seperti malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, banyak orang datang melakukan ritual di Hutan Donoloyo. Tak jarang kayu Donoloyo juga kerap di pakai untuk keperluan tertentu, tergantung dari niat orang yang membutuhkanya. /Jk



Komentar

Berita Lain