oleh

Sejarah Ringgit, Wayang Dalam Perjalanan Dakwah Walisongo

-Budaya-14.380 views

LOKABALI.COM-Perjalanan siar walisongo di tanah Jawa tentunya tidak dapat di lepaskan dari keberadaan ringgit (wayang) sebagai sarana siar dan dakwah para wali. Dalam perkembanganya, ringgit sudah ada jauh sebelum walisongo menggunakanya sebagai media siar. Keberadaan ringgit dari masa ke masa terus mengalami proses perkembangan dari sejak awal di buat dalam bentuk gambar oleh Prabu Jayabaya di Mamenang, Kediri, sampai dengan bentuk dan wujud asli seperti sekarang ini di era modern.

Baca Juga : Ritual Her Samirono Menjaga Kelestarian Sumber Mata Air

Pemanfaatan wayang sebagai media siar dan dakwah tak lepas dari kecintaan masyarakat Jawa yang lekat sekali dengan budaya ringgit, hal itu di sadari betul oleh Sunan Kalijaga.

Sebagai satu satunya wali Jawa yang masih memiliki garis keturunan dengan raja raja Majapahit, ia memahami betul kecintaan masyarakat Jawa terhadap budaya ringgit. Sehingga melalui kreatifitasnya Sunan Kalijaga akhirnya menjadikan wayang sebagai sarana siar dan dakwah.

Keterangan gambar : Walisongo /Foto: istimewa

Wayang bagi masyarakat Jawa tidak hanya sekedar tontonan namun sudah menjadi bagian dari tuntunan, sekaligus pengambaran para tokoh leluhur masyarakat Jawa yang kala itu meyakini keberadaan para dewa sebagai leluhurnya. Seperti yang tertulis dalam manuskrip serat jawa kuna tentang asal usul ringgit yang pertama kali di ciptakan dalam bentuk coretan gambar oleh Prabu Jayabaya, yang memuat penggambaran sosok Dewa Bathara Guru dan dewa dewa lain beserta kisah perjalananya.

Tak terkecuali para bidadari, ratu, ksatriya, para pendeta, raksasa (buta) dan para wanara (kera). Prabu Jayabaya juga menggambarkan kisah perjalanan dirinya, para putra, punggawa kerajaan dan semua tokoh yang kala itu sejaman dan semasa denganya. Dalam manuskrip ringgit purwa, Prabu Jayabaya mulai menggambar para dewa leluhurnya di tahun suryasangkala 861 ( melalui penghitungan matahari).

Setelah gambar gambar tersebut selesai, kemudian di sebut dengan nama ringgit purwa. Coretan gambar di buat dengan media rontal yang di kemudian hari dijadikan gambar obyek tiruan dalam pembuatan arca. Sosok dewa dan manusia dalam gambar rontal di gambarkan sebagai penggambaran manusia dan dewa pada zaman purwa (awal).

Follow Lokabali.com di Google News



Komentar

Berita Lain