oleh

Sejarah Ringgit, Wayang Dalam Perjalanan Dakwah Walisongo

-Budaya-14.396 views

Di masa Kesultanan Demak Bintoro para wali berkenan membangun dan melengkapi ringgit purwa sehingga semakin bertambah lengkap, baik bentuk wujud maupun gamelan pengiringnya. Sunan Giri berkenan merubah wujud wanara (kera), Sunan Bonang mengarang ricikan dan membuat kapal. Sunan Kalijaga melengkapi kesenian ringgit dari mulai kelir atau geber, lampu blencong, gedebog untuk menancapkan ringgit dan gending pengiringnya.

Baca juga : Keris Pasopati, Pusakanya Raja Raja Tanah Jawa

Tak ketinggalan Sultan Demak juga membangun bentuk gunungan yang biasa di tancapkan di tengah tengah pakeliran. Letak posisi ringgit pada saat di tancapkan di sebelah kiri dan kanan dalang, di desain agar mencukupi pada saat di pakai dalam pementasan ringgit semalam suntuk, dengan mempergunakan pengiring gamelan slendro.  Sejak ringgit purwa melalui berbagai metamorfosis kebudayaan dari para wali, keberadaan ringgit beber yang semula masih menjadi konsumsi tontonan masyarakat kecil, lambat laun mulai menghilang.

Tahun 1447 pada saat Raden Trenggana jumeneng tahta di Kasultanan Demak, beliau merubah bentuk rupa ringgit purwa melalui proses tatah di bagian telinga, mata dan mulut.

Dilanjutkan oleh Ratu Tunggul Giri Kedaton yang mewakili kerajaan Demak juga turut melakukan penyempurnaan ringgit purwa pada bagian bentuk tubuh, rambut yang di urai pada sosok perempuan, pengenaan mahkota, kalung, anting anting dan rambut tokoh ringgit laki laki yang mulai di bentuk sedemikian rupa. Di antaranya ada yang di gelung, di urai dan diberi jamang.

Sedangkan sosok dewa, raksasa dan wanara di buat dalam perwujudan hanya mengenakan cawat seperti halnya bentuk pada arca.

Follow Lokabali.com di Google News



Komentar

Berita Lain