oleh

Ruwatan Anak Bangsa Nusantara

-Berita, Budaya-2.916 views

LOKABALI.COM-Anak Wangsa Salaraya yang di dalamnya berisi para budayawan, pegiat budaya dan seni, Kamis malam(3/2) menggelar acara Ruwatan Anak Bangsa Nusantara, di titik nol tugu pamandengan kota Surakarta.

Ruwatan di lakukan dalam rangka mengembalikan kembali ingatan para generasi muda, terhadap pentingnya nilai budaya kearifan lokal, sebagai bentuk jati diri bangsa yang berbudi pekerti luhur.

Keterangan gambar : Para budayawan dan pegiat seni budaya di tugu pamandengan usai prosesi ruwatan / foto: Lokabali

Hal tersebut di sampaikan oleh Dosy Marta, selaku ketua pelaksana di dampingi Diah Ayu Ardianti, selaku wakil ketua panitia acara Ruwatan Anak Bangsa Nusantara.

Marta mengatakan, pentingnya budaya kearifan lokal di gali dan di hidupkan kembali di tengah masyarakat. Agar generasi muda mengenal dan mencintai adi luhung budaya bangsa, yang di dalamnya berisi karakter nilai nilai luhur budi pekerti.

Keterangan gambar : Kirab merah dan putih sebagai simbol lahirnya peradaban baru di Nusantara / foto: lokabali

Kearifan lokal sebut Marta, mengajarkan tentang nilai kebersamaan, toleransi dalam menghargai segala perbedaan warna dan pandangan. Sehingga mampu menjadi jembatan pemersatu bangsa.

Sementara itu Ki Lawu Warta, budayawan jawa yang melakukan upacara ruwatan mengatakan, prosesi ruwatan di lakukan dengan cara mempertemukan iring iringan kirab merah dan putih dari Pura Mangkunegaran dan Keraton Kasunanan.

Pertemuan ini dimaknai sebagai simbol peradaban berdirinya bangsa Indonesia yang di awali dari bersatunya keraton keraton Nusantara kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berkaca dari sejarah peradaban keraton keraton Nusantara inilah, jatidiri bangsa Indonesia terbangun menjadi karakter luhur budaya bangsa.

Keterangan gambar : Prosesi ruwatan anak bangsa Nusantara di Tugu Pamandengan / foto : Lokabali

‘ Oleh sebab itu melalui tradisi ruwatan, kita diingatkan kembali pentingnya menghargai sebuah waktu. Setiap detik waktu berputar dan berjalan tak dapat di putar balik. Sehingga budaya kearifan yang hilang pada proses perjalanan waktu, butuh jalan panjang untuk mengembalikanya ‘ Jelas Ki Lawu Warta

Sementara itu penggunaan sesaji dalam upacara Ruwatan Anak Bangsa kata Ki Lawu Warta, menjadi bahasa simbol agar mudah di pahami dan di maknai masyarakat secara luas. Pemaknaan ini dalam kesadaran diri pribadi masyarakat jawa di istilahkan dengan Panaraga. Tersambungnya rantai kesadaran antara jagad alit dan jagad gede.

Oleh karena di dasari kesadaran terhadap peradaban warisan para leluhur, maka Anak Wangsa Salaraya menghaturkan darma bakti kepada ibu pertiwi melalui ruwatan anak bangsa Nusantara.

Dengan harapan, dapat kembali merasakan keindahan dan keselarasan hidup sejati. Seperti halnya pada proses awal kelahiran manusia yang di saksikan oleh alam semesta dan diperkenankan hidup oleh Tuhan Sang Maha Pencipta.

Pada prosesi Ruwatan Anak Bangsa Nusantara, lebih dulu di lakukan upacara wilujengan di omah Purwonegaran. Setelah prosesi wilujengan, di lanjutkan dengan kirab merah dan putih dari Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran.

Selanjutnya pertemuan dua iring iringan kirab merah dan putih, bersama sama menuju titik nol tugu pamandengan untuk dilakukan prosesi ruwatan.

Saat upacara prosesi ruwatan di lakukan, dinyalakan juga seribu dupa sebagai simbol kemanunggal, tali doa dan permohonan kepada Dzat Yang Maha Tunggal. /jk

 

Follow Lokabali.com di Google News



Komentar

Berita Lain