oleh

Lesbumi Solo Gelar Pementasan Wayang Beber Babaring Cakra Manggilingan Ing Sasi Ramadhan

-Budaya-2.825 views

LOKABALI.COM- Memanfaatkan waktu luang selama bulan ramadhan tak hanya dapat di isi dengan ibadah yang bermanfaat untuk meraih berkah dan rahmat Allah SWT, namun juga dapat di isi dengan siar dan dakwah, seperti halnya yang di lakukan oleh Lesbumi NU ( Lembaga Seni dan Budaya Muslimin ) Solo.

Melalui seni budaya, Lesbumi NU Solo berusaha mengisi waktu luang tersebut dengan cara melakukan siar dan dakwah lewat pementasan wayang beber dengan tema  ‘Babaring Cakra Manggilingan ing sasi ramadhan oleh dalang Ki Amar Paradopo , jelas Arif, selaku ketua Lesbumi NU Solo dalam keteranganya

Di ambilnya tema Babaring Cakra  manggilingan ing sasi ramadhan sebenarnya untuk mengingatkan, betapa pentingnya kita harus mawas diri selama bulan suci ramadhan. Umat muslim hendaknya dapat memanfaatkan bulan tersebut dengan sebaik baiknya untuk menggapai berkah dan mengembalikan kesucian hati.

Agar di penghujung bulan ramadhan kita berada pada siklus nyakra manggilingan dalam keadaan yang benar benar fitri, suci lahir dan bathin.

‘ Selain pementasan wayang beber, Lesbumi juga menampilkan geguritan  kutipan serat kalatida karya R.ng.Ronggowarsito’ Imbuhnya

Arif berharap, siar dan dakwah yang dilakukan Lesbumi melalui pementasan wayang beber dapat lebih diterima oleh masyarakat, selain untuk melestarikan keberadaan seni budaya itu sendiri.

Pagelaran wayang beber Lesbumi NU Solo di selenggarakan di serambi masjid Al Wusto Pura Mangkunegaran, dengan di hadiri oleh Ketua PCNU Solo, para budayawan dan tokoh seni di Kota Surakarta

Wayang beber merupakan kesenian wayang yang  berkembang di bumi wengker, ( Ponorogo sampaj Pacitan) Catatan asing pertama mengenai pertunjukan ini dilaporkan oleh Ma Huan dan Fei Xin dalam kitab Ying Yai Sheng Lan. Kitab yang menceritakan perjalanan Cengho ke Jawa  sekitar abad 14.

Dalam catatan kitab Ying Yai Sheng Lan di tulis,  orang-orang berkerumun mendengarkan seseorang bercerita mengenai gambar-gambar yang ditampilkan pada lembaran kertas yang sebagian tergulung.

Keterangan gambar : Pertunjukan wayang beber di serambi masjid AlWusto, Mangkunegaran, Solo / Foto : Lokabali

Pencerita memegang sebilah kayu yang dipakai untuk menunjuk gambar-gambar yang terdapat pada lembaran tersebut. Praktik semacam ini sama seperti pertunjukan wayang beber pada masa-masa kemudian.

Akan tetapi menurut catatan para pujangga Jawa, wayang beber diawali pada masa Kerajaan Pajajaran.

Gambar atau adegan pewayangan dilukis pada lembaran kain atau deluwang. Setiap lembar deluwang berisi beberapa adegan sesuai dengan urutan cerita.

Seiring dengan masuknya Islam di tanah jawa, wayang beber kemudian juga dipakai oleh para wali untuk melakukan siar. /Tok

Follow Lokabali.com di Google News



Komentar

Berita Lain