oleh

Kyai & Budayawan Di Solo Gelar Umbul Donga Untuk Keselamatan Bangsa Dan Negara

-Budaya-293 views

LOKABALI. COM- Menyikapi kondisi bangsa saat ini yang tengah mengalami krisis budi pekerti dan toleransi  demokrasi berasaskan Pancasila, para kyai dan budayawan yang tergabung dalam brayat ageng kyai santri walisongo, menggelar doa dan ritual umbul donga memohon keselamatan untuk bangsa dan negara.

Umbul donga di pimpin oleh budayawan Ki Joko Budaya dan Ki Lawu Warta  diiringi dengan kidung dan tembang solawat macapat wedhatama, bertempat di kampung Baluwarti, Solo.

Prosesi umbul donga di awali dengan pembacaan tahlil dan doa untuk para leluhur, raja raja jawa, para pendiri bangsa dan para pahlawan yang telah gugur berjuang  mewujudkan kemerdekaan  bangsa dan negara Indonesia.

Dalam keteranganya pangarsa umbul donga, Ki Joko Budaya menyampaikan, memanasnya kondisi bangsa saat ini bukan sekedar persoalan kepentingan politik praktis saja, melainkan dampak dari semakin memudarnya jatidiri dan budi pekerti yang ada dalam diri generasi penerus. Sehingga mereka berjalan tanpa arah dan mudah di kendalikan untuk kepentingan global.

Hal tersebut dapat di lihat dari sejumlah generasi yang mengaku intelektual, namun menggunakan cara cara yang jauh dari tata kesopanan, adab dan budi pekerti dalam berdemokrasi. Hujatan dan caci maki menjadi cara untuk mengkitrik atas nama demokrasi dan kebebasan berekspresi.

Padahal jika kita melihat kondisi bangsa ini jauh sebelum kemerdakaan berlangsung, para leluhur telah menanamkan cara cara demokrasi berdasarkan falsafah timur yang menjunjung tinggi kebebasan bereskpresi tanpa melukai perasaan dan harga diri orang lain.

Filosofi dan ajaran para leluhur Nusantara tentang nilai nilai demokrasi seperti halnya mikul duwur mendhem jero, menang tan ngasorake, jer basuki bawa laksana dan filsafat jawa lainya yang di miliki oleh bangsa ini, sebenarnya ajaran bagi kita para penerus bangsa untuk berdemokrasi tanpa harus melukai dan mencederai.

Nilai nilai luhur yang terkandung dalam ajaran tersebut tidak hanya relevan di pakai dalam keseharian, namun juga  untuk menata bangsa dan negara. Padahal jauh sebelum negara barat berdemokrasi, Nusantara telah membangun toleransi dan demokrasi dalam kehidupan sehari hari. Perbedaaan berkeyakinan yang terjadi di masa silam hingga berlangsung di era pemerintahan Mataram Islam yang mendaulat raja sebagai panatagama, adalah bukti bahwa bangsa ini telah memiliki demokrasi sejak ribuan tahun silam.

Sebagai bangsa timur yang menjunjung tinggi nilai nilai luhur budipekerti, etika dan adab, sudah seharusnya kita malu melihat demokrasi yang terjadi saat ini. Demokrasi impor barat yang hanya mementingkan kelompok dan golongan dengan mengkapitalisasi kepentingan atas nama kebebasan berekspresi dan pemikiran intelektual.

Padahal dalam ajaran luhur para winasis dan agama, ilmu tanpa di barengi etika adab dan budi pekerti, maka hanya akan menjadi alat perusak. Oleh sebab itu demokrasi bangsa ini harus tidak boleh tercabut dari akar budaya yang ada.

Penguatan nilai nilai sejarah dan budi pekerti harus di kembalikan lagi, agar generasi muda tidak hilang ingatan pada sejarah bangsanya sendiri.

Cita cita menuju Indonesia emas 2045 tak hanya bagian dari arah perjalanan bangsa yang harus memiliki konsistensi kebijakan, jika kemakmuran menjadi alasan bagi generasi penerus dalam membangun bangsa dan negara tercinta ini. Usaha menuju Indonesia emas bukan hal yang mudah untuk di capai, butuh kerja keras dan gotong royong bersama dalam mewujudkanya.

Meski pujangga agung Ronggowarsito telah meramal akan datangnya jaman kalasuba atau masa ke emasan setelah jaman edan. Akan tetapi kemakmuran dan kesejahteraan tentu tidak akan pernah dapat terwujud jika tidak ada usaha dan kerja keras.

Berbagai situasi dan kondisi bangsa saat ini itulah yang mendasari para kyai dan budayawan menggelar umbul donga memohon keselamatan bangsa dan negara, agar Indonesia di jauhkan dari bencana, mara bahaya dan perpecahan.

Pada ritual umbul donga di sertakan juga sedekah  nasi gurih, sega golong, ingkung dan jajaran pasar pala pendem, pala sampar dan pala gantung. Sebagai sebuah symbol permohonan, harapan dan cita cita kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar senantiasa memberikan berkah keselamatan dan kemakmuran.

Nasi gurih atau sega wudug memiliki makna kesucian hati di setiap perilaku. Sebagai umat ciptaan Tuhan yang tak lepas dari kesalahan dan dosa, manusia harus sadar akan hal itu. Sebab melalui kesadaran tersebut akan tumbuh rasa eling lan waspada. Senantiasa ingat bahwa segala perilaku akan menimbulkan ekses hukum sebab dan akibat.

Untuk menghindari timbulnya dampak hukum kehidupan tersebut, manusia harus belajar berlaku sabar sebagai jalan menuju keihklasan. Rasa ihklas di simbolkan dalam sesaji sega golong yang memiliki makna gumolonging ati. Kedalaman hati manusia yang tak dapat di ukur, jauh lebih luas dan dalam jika di bandingkan dengan samudera lepas.

Melalui keluasan dan kedalam hati tersebut manusia harus mampu membangun kesabaran, menjaga hati agar tidak di kalahkan oleh nafsu dan pikiran.

Pala pendem, pala sampar, pala gantung dan ingkung,  sebagai symbol kehidupan manusia yang tak selamanya mengenyam kebahagiaan, akan tetapi juga kesampar kesandung. Kesulitan dan kesusahan di alami oleh manusia dalam kehidupan sehari hari.

Sebagai umat yang di berikan anugerah akal dan pikiran, cobaan tersebut bagian dari proses manusia agar memiliki cita cita dan semangat hidup.

Mensandarkan semua pada ke Esaan Tuhan tanpa mengurangi semangat usaha. Dengan mensandarkan kehidupan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, manusia akan mengingat juga bahwa kelak semua yang hidup akan mati, kembali kepada Sang Khalik.

Seluruh rangkaian ritual umbul donga memiliki esensi dharma kebaikan tidak hanya bagi manusia dengan manusia, tetapi juga manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan Sang Maha PenciptaNya.

Oleh karena itu melalui keselarasan yang di bangun dalam umbul donga, ketenteraman dan keselamatan akan terwujud, khususnya keselamatan bagi bangsa dan negara Indonesia./ Tok

 

 

 

Follow Lokabali.com di Google News



Komentar

Berita Lain