oleh

Kenang Arwah Para Leluhur, Warga Khonghucu Gelar Upacara Ching Bing Di Tiong Ting

-Tradisi-108 views

LOKABALI.COM- Seperti umumnya masyarakat jawa yang menggelar tradisi sadranan setiap bulan sya’ ban atau bulan ruwah dalam penanggalan jawa. Warga Konghucu juga memiliki tradisi yang sama seperti tradisi sadranan untuk mengingat para leluhur yang sudah lama meninggal.

‘ Tradisi tersebut di kenal dengan nama sembahyang Ching Bing ‘ Jelas Dian Subagio, selaku ketua peyelenggara upacara sembahyang Ching Bing

Ching Bing menurut keyakinan umat Khonghucu, merupakan cara bagi anak cucu untuk mengenang kembali para leluhur yang sudah lama tiada. Baik yang masih bisa di ingat ataupun yang sudah lama hilang dari ingatan.

Keterangan gambar : Sesaji Ching Bing/ Foto:Lokabali

Melalui upacara Ching Bing anak cucu mengirimkan doa kepada para leluhur di sertai sesaji, baik sesaji yang berupa vegetarian ataupun non vegetarian. Dua macam sesaji tersebut di sajikan, mengingat kala itu masih banyak leluhur umat khonghucu yang menjalani hidup dengan cara laku vegetarian.

Upacara sembahyang Ching Bing tahun ini sebut pendeta Dian, biasanya di selenggarakan bertepatan pada tanggal 5 April, terkecuali jika tahun kabisat.

Ching Bing di hitung104 hari setelah Tangcik, yang jatuh tanggal 22 Desember, atau pada saat upacara sembahyang musim dingin di lakukan.

Sedangkan pelaksanaan Ching Bing bisa jatuh pada 10 hari atau 15 hari sebelum sampai atau sesudah tanggal 5 April. Karena saat itu di sebut masa Ching Bing.

Umat Khonghucu dan masyarakat keturunan Tionghoa di Kota Solo, setiap jatuh pada masa Ching Bing umumnya selalu melakukan ziarah ke makam para leluhur leluhurnya.

Ching artinya cerah atau terang, oleh sebab itu pada saat bulan April cuaca umumnya mulai memasuki musim panas. Sehingga nyaman untuk pelaksanaan upacara sembahyang bagi umat Khonghucu.

Di Indonesia, Ching Bing merupakan satu dari empat belas hari raya Khonghucu yang di akui oleh pemerintah .

Ching Bing biasanya dikaitkan dengan dua cerita Tionghoa kuno tentang kisah Raja Cin Boen Kong yang mengenang Menteri Kai Chu Chui yang sangat setia kepada Raja dan tanah airnya.

Di kisahkan saat Cin Boen Kong masih dalam masa pelarian sampai ia berhasil menjadi raja, Cin Boen Kong melupakan jasa menteri Kai Chu Chui. Sampai akhirnya saat ia menemukannya, sang menteri telah meninggal.

Raja Cin Boen Kong yang sangat berduka, saat Ching Bing tahun berikutnya ia memberi perintah agar seharian tidak menyalakan api atau memasak dan makan secara dingin dinginan. Tradisi tersebut akhinya terus berlanjut sampai sekarang ini.

Kisah yang lain menceritakan tentang Kaisar Chu Gwan Chiang, pendiri dinasti Ming yang di awali dari seorang anak yatim piatu yang desanya terkena wabah. Hingga suatu ketika ia berhasil menjadi kaisar mendirikan dinasti Ming.

Di ceritakan, suatu waktu kaisar Chu Gwan Chiang kesulitan mencari makam kedua orang tuanya yang bercampur dengan makam makam lain. Oleh sang kaisar, rakyat di instruksikan melakukan sembahyang dan diwajibkan memasang kertas Tek atau kertas warna Kuning diatas makam, sebagai tanda bahwa makam tersebut sudah disembahyangi.

Melalui cara tersebut, kaisar akhirnya menemukan sepasang makam tanpa tanda kertas kuning yang diyakini merupakan makam kedua orang tuanya. Oleh karena adanya peristiwa tersebut, sampai saat ini tradisi memasang kertas Tek masih terus di lakukan.

Upacara sembahyang Ching Bing yang di selenggarakan umat Khonghucu di Kota Surakarta, difasilitasi oleh PMS sejak puluhan tahun dan di selenggarakan di Tiong Ting. Di karenakan tempat tersebut dahulu merupakan komplek pemakaman tionghoa dan banyak makam makam tidak terurus.

Seiring dengan perkembangan jaman, komplek makam tionghoa di tiong ting akhirnya di bongkar dan dipindahkan ke delingan. Tak terkecuali abu jenasah warga tionghoa yang pernah di titipkan di tiong ting juga di pindahkan ke delingan.

Hanya tersisa dua makam milik pasangan Liem Djie Boo selaku pendiri sekaligus pemilik Tiong Ting./ Jk



Komentar

Berita Lain