oleh

BPCB Jateng Eskavasi Situs Watu Genuk Di Boyolali

LOKABALI.COM-Setelah sekian tahun mangkrak tidak terawat, situs candi watu genuk akhirnya di eskavasi kembali oleh Balai Pelestari Cagar Budaya Jawa Tengah. Sebelumnya di tahun 2016, situs watu genuk pernah di eskavasi oleh BPCB Jawa Tengah untuk melakukan penelitian dan kajian awal situs candi watu genuk.

‘ Diperkirakan situs watu genuk di bangun sekitar abad ke 9 – 10 M ‘ Jelas Winarto, S.s, selaku tim eskavasi situs watu genuk.

KSU-Pemogan

Pada eskavasi yang pertama BPCB Jawa Tengah telah melakukan pendataan beberapa temuan di situs watu genuk. Sedangkan pada eskavasi yang kedua di bulan November tahun 2021, BPCB Jateng akan melakukan penggalian di titik titik yang di perkirakan terjadi anomali temuan.

‘ Beberapa titik yang akan di gali di perkirakan merupakan perwara atau candi pendukung dari candi utama situs watu genuk’ Terang Winarto menyampaikan .

Meski dari hasil penggalian tersebut nantinya tidak di temukan benda cagar budaya ataupun struktur bangunan cagar budaya, akan tetapi hal itu juga merupakan data yang sangat di perlukan saat eskavasi situs watu genuk.

Winarto berharap adanya kepedulian bersama baik pemerintah provinsi ataupun pemerintah daerah terhadap upaya penyelamatan situs watu genuk. Tak terkecuali keterlibatan masyarakat sekitar, sebab kepedulian masyarakat merupakan garda terdepan penyelamatan situs cagar budaya.

Di lokasi yang sama saat melakukan peninjauan terhadap eskavasi situs candi watu genuk, Dr. BRM. Kusuma Putra, S.H, M.H, selaku Ketua Forum Budaya Mataram sekaligus Dewan Penyelamat Pemerhati Seni Budaya Indonesia ( DPPSBI) mengapresiasi langkah BPCB Jawa Tengah yang akan melakukan eskavasi selama enam hari di situs watu genuk.

Di katakan Kusuma, tahun 2017 melalui lembaga yang di ampunya, Kusuma terus menyuarakan agar situs watu genuk yang di duga merupakan struktur bangunan candi pemujaan umat Hindu di eskavasi secara menyeluruh.

Tak terkecuali mendata dan menyelamatkan seluruh hasil temuan agar tidak hilang di curi orang. Mengingat kondisi kawasan situs watu genuk saat itu tidak terawat di penuhi semak dan alang alang.

‘ Sehingga mudah bagi siapapun untuk mengambilnya ‘ Terangnya.

Sebagai pemilik wilayah dimana candi tersebut berada, Pemerintah Kabupaten Boyolali harus pro aktif dalam upaya melakukan penyelamatan. Tak terkecuali menjaga kearifan kawasan di sekitar situs watu genuk. Baik dampak sosial ataupun upaya pelestarianya, agar semuanya dapat sejalan seirama, sehingga bisa menjadikan situs watu genuk destinasi wisata yang bermanfaat tidak hanya bagi kepentingan sejarah dan pendidikan, tetapi juga pariwisata yang memiliki manfaat untuk kemaslahatan masyarakat sekitar.

‘ Nilai sejarah dan peninggalan benda cagar budaya akan sangat lebih berarti jika mampu memberikan dampak kemaslahatan, baik untuk ilmu pendidikan ataupun ekonomi sosial masyarakat ‘ Imbuh Ketua FBM menandaskan

Dua faktor dalam upaya penyelamatan ini sebut Kusuma Putra, tidak hanya akan membuat masyarakat aktif berperan melestarikanya, tetapi juga bangga terhadap peninggalan sejarah yang dimilikinya.

Di contohkan seperti halnya candi sukuh dan candi cetha. Dua candi tersebut tidak hanya merupakan destinasi wisata yang mampu mendongkrak popularitas daerah sebagai tujuan wisata nasional dan internasional, tetapi juga mampu mendongkrak ekonomi warga sekitar.

Oleh karena itu peran pemerintah daerah dalam mengeksplor peninggalan benda cagar budaya hendaknya diupayakan semaksimal mungkin, sehingga dampak upaya penyelamatan tersebut benar benar dapat di rasakan langsung oleh masyarakat.

‘ Serta mampu menjadi bagian dari khasanah pariwisata di daerah.’ Tukasnya /tok



Komentar

Berita Lain