oleh

Gus Aryo : Abai Dan Merusak Bangunan Keraton Bisa Kena Siku

-Budaya-89 views

LOKABALI.COM-Peristiwa di bongkarnya bekas tembok keraton Kartasura di kampung Krapyak Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, tidak hanya menimbulkan keprihatinan bagi para pemangku adat dan budaya, akan tetapi para budayawan dan pelestari budaya juga turut prihatin atas kejadian tersebut.

Tak terkecuali tokoh spiritual asal Jogjakarta, Aryo Jati. Pria yang akrab di sapa Gus Aryo ini mengungkapkan, tembok keraton Kartasura tidak hanya sekedar bangunan kuna, akan tetapi tembok tersebut sarat dengan sejarah sekaligus saksi bisu peradaban masa silam.

‘ Tembok keraton kartasura juga benda sejarah yang memiliki nilia edukasi sangat besar bagi perkembangan dunia pendidikan di tanah air’ Jelas Gus Aryo mengungkapkan

Keterangan gambar : Bekas tembok keraton kartasura / foto: lokabali

Oleh karena itu keberadaan benda cagar budaya harus di jaga, jangan sampai di biarkan mangkrak tidak terawat.

Secara spiritual Gus Aryo katakan, Keraton Kartasura memang bukan lagi keraton, baik secara kasad mata karena memang sudah rusak dan pindah di Solo maupun secara tak kasad mata.

Keraton bagi Gus Aryo, tidak hanya pusat pemerintahan bagi raja, tetapi juga tempat para leluhur yang tak kasad mata.

Oleh sebab itu, meski keberadaanya sudah tidak lagi di fungsikan sebagai keraton, namun masih menyimpan energi ghaib.

‘ Sehingga jika kita abai dan lalai merusaknya, maka bisa kena siku ‘ jelas Gus Aryo mengatakan

Pria yang kerap di mintai nasehat spiritual ini menceritakan, Keraton Kartasura di bangun pasca kerajaan Mataram Islam berdiri di Plered Jogjakarta. Akibat adanya pemberontakan Trunajaya di masa  Amangkurat I.

Setelah Amangkurat I wafat di perjalanan dan di makamkan di Tegalarum (1677), Adipati Anom lantas menggantikan kedudukan Amangkurat I dan menobatkan diri menjadi Sunan Amangkurat II.

Amangkurat II yang saat itu berada di Semarang, tidak berkenan kembali lagi ke Plered.

Ia ingin membuat keraton baru kemudian merujuk tiga tempat diantaranya, di daerah Tingkir, Logender dan Wonokerto.

Di Wonokerto kraton Mataram Islam kemudian di bangun hingga selesai pada hari Rabu Pon, 16 Ruwah 1603 tahun Alip / 11 September 1680.

Amangkurat II yang membangun keraton Mataram Islam lantas mengganti nama Wonokerto menjadi Kartasura Hadiningrat./ jud



Komentar

Berita Lain