oleh

Gus Aryo: Menerawang Sura Tahun Alip Windu Sancaya

LOKABALI.COM-Menyambut tahun baru jawa atau lebih tepatnya bulan sura, masyarakat Jawa selalu beranggapan bulan sura merupakan bulan keramat sekaligus di sakralkan.

Pada bulan tersebut masyarakat Jawa selalu melakukan aktifitas kerohanian seperti laku prihatin bersemedi di tempat tempat keramat ataupun berkunjung kemakam para leluhur dengan cara menggelar ritual doa dan memberikan sesaji. Tahun baru Jawa berbeda dengan tahun Masehi yang selalu di warnai keramaian terompet menyambut datangnya malam tahun baru.

ITB-STIKOM-Bali

Perenungan mawas diri dengan mendekat kepada Tuhan Yang Maha Esa sampai saat ini masih terus di jaga dan di lestarikan oleh masyarakat Jawa dengan cara tidak menggelar hajatan dibulan Suro. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian dan kesakralan bulan Suro. Selain melakukan ritual perenungan diri, segala upacara adat dan tradisi yang berhubungan dengan kegiatan spiritual seperti jamasan, kirab pusaka, sedekah bumi dan upacara adat ritual lainya juga di lakukan selama bulan suro.

Lantas, kenapa bulan Suro sangat di sakralkan di kalangan masyarakat tradisi jawa?

Di sampaikan oleh Gus Aryo Jati Al Dzat, selaku tokoh spiritual sekaligus pemerhati budaya jawa menyoal awal mula bulan Sura di masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Tahun baru jawa di inisiasi Sultan Agung Hanyakrakusuma dalam rangka mempersatukan seluruh kekuatan rakyat.

Sebagai seorang raja yang memiliki pengaruh besar di Nusantara, Sultan Agung dengan tegas menolak penjajahan. Bersama pasukannya ia berusaha menghadang kolonialisme, akan tetapi serangan besar besaran yang di lakukan Sultan Agung kerap kandas di tengah jalan akibat kurang bersatunya rakyat kala itu.

Melalui inisiasinya Sultan Agung lantas mempersatukan dua penanggalan ditengah masyarakat yakni, penanggalan tahun saka dan tahun hijriyah menjadi penanggalan tahun baru Jawa yang di awali dari bulan sura.

Melalui penyatuan dua kalender tahun saka dan tahun hijriyah Sultan Agung berharap, rakyat Nusantara dapat bersatu sehingga perjuanganya mengalahkan kolonial penjajahan dapat berhasil.

“Dalam penanggalan tahun jawa hanya dikenal penghitungan selama sewindu ( delapan) atau delapan tahun yang masing masing tahun memiliki nama diantaranya Alif, Ehe, Jimawa, Je, Dal, Be, Wawu dan Jumakir.’ Jelas Gus Aryo dalam paparanya.

Sedangkan dalam keyakinan masyarakat jawa selama bulan sura sebut Gus Aryo, pantang menggelar hajatan berkaitan dengan kemeriahan. Keyakinan tersebut sebagai bentuk perenungan diri masyarakat jawa dalam menempuh perjalanan hidup satu tahun kedepan agar di berikan kekuatan dan di mudahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara itu terkait dengan bulan sura tahun ini yang jatuh tahun Alip windu Sancaya, Gus Aryo ungkapkan. Makna Windu Sancaya adalah sarawungan atau berteman. Di artikan memiliki perwatakan akan banyak orang orang baik bermunculan.

‘ Jika di kaitkan dengan kondisi wabah pandemi saat ini dari kaca mata petung pawukon jawa diperoleh gambaran, tahun jawa 1955 Alip akan banyak bermunculan orang orang baik yang peduli terhadap kondisi bangsa dan negara. Terbukti saat ini mulai banyak masyarakat saling bahu membahu memberikan bantuan kepada masyarakat lain terdampak wabah corona’ Jelas Gus Aryo mengungkap gambaran tahun baru jawa 1955 Alip yang akan di lalui.

Dengan adanya semangat gotong royong dan kebersamaan dalam kebaikan tersebut wabah pandemi di harapkan akan segera berakhir. Kebaikan kebaikan ini akan menjadi kunci perjalanan bangsa Indonesia di masa yang akan datang, sebagai bangsa besar yang mampu berdiri tegak menghadapi kerasnya hantaman peradaban dan perkembangan zaman.

Perjalanan menghadapi tantangan jaman juga akan menjadi penentu bagi kepemimpinan bangsa ini di masa yang akan datang, tutupnya /Jk



Komentar

Berita Lain