oleh

Tokoh Spiritual Trah Pajang, Gelar Kirab Songsong Tunggul Nagaraja Kasultanan Pajang

-Budaya-3.486 views

LOKABALI.COM-Bagi masyarakat jawa, bulan suro merupakan bulan sakral yang harus di sambut dengan kekhusyukan spiritual. Oleh sebab itu, setiap malam satu suro masyarakat jawa selalu menggelar ritual adat tradisi, dalam rangka ungkapan wujud rasa syukur, sekaligus bentuk permohonan yang di sampaikan melalui rangkaian tradisi adat dan budaya.

Upacara adat tersebut di gelar di tengah masyarakat, tak terkecuali para pelestari di Petilasan Kasultanan Pajang, juga menggelar upacara adat Kirab Songsong  Tunggul Nagaraja sebagai sebuah bentuk ungkapan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kirab di pimpin oleh R. Bambang Sridaya yang di daulat secara spiritual sebagai penyelenggara upacara adat di Petilasan Kasultanan Pajang.

Keterangan gambar : Prosesi penyerahan payung atau songsong tunggul nagaraja dari R. Bambang Sridaya lepada juru kunci petilasan pajang / Foto: Lokabali

‘ Kirab sebagai ungkapan wujud rasa syukur atas nikmat dan rahmat yang telah di berikan Tuhan Yang Maha Esa kepada kita semua. Prosesi kirab merupakan rangkaian dari upacara pergantian songsong tunggul nagaraja di petilasan Pajang ‘ Jelas R. Bambang Sridaya dalam keteranganya.

Songsong tunggul nagaraja adalah payung yang dipergunakan untuk memayungi jejak petilasan Sultan Hadiwijaya di Kasultanan Pajang.

‘ Secara histori penerus raja di Kasultanan Pajang tidak ada. Kami di sini di beri mandat secara spiritual untuk menjaga dan melestarikan petilasan Kasultanan Pajang. Mengenalkan kembali kepada para generasi muda warisan budaya dimasa lalu, sekaligus mengajak mereka agar mencintai budaya bangsa ‘ Jelas Raden Mas Bambang Sridaya dalam uraianya

Menyambut kirab malam satu suro, petilasan Kasultanan Pajang tidak hanya menyelenggarakan kirab, tetapi juga menggelar acara larungan di pantai Parangkusuma, di tutup dengan menyelenggarakan pementasan wayang kulit.

Pria yang masih memiliki darah keturunan dari Sultan Hadiwijaya ini menambahkan, upacara kirab tahun ini dinilainya paling besar yang pernah ia selenggarakan sejak tahun 2000 silam. Berhenti di selenggarakan pada saat masa pandemi covid 19.

Menurutnya, upacara sakral ini tidak boleh di wakili, hanya orang yang dapat petunjuk dari Sultan Hadiwijaya yang boleh menyelenggarakan upacara ritual ganti songsong di petilasan Kasultanan Pajang.

Alasan di selenggarakanya kirab malam satu suro sebut trah Kesultanan Pajang ini, memang sudah petunjuk dari Sultan Hadiwijoyo. Oleh sebab itu, sampai saat ini kesakralanya tetap masih terus di jaga. / Jk

 

Follow Lokabali.com di Google News



Komentar

Berita Lain