oleh

Sumur Sumpah Nyai Ageng Bakaran: Pembohong Minum Air Dari Sumur Ini Bisa Celaka

LOKABALI.COM- Punden Nyai Ageng merupakan sumur tua yang di perkirakan berumur ratusan tahun. Dari pengakuan penduduk desa, sumur tersebut adalah milik Nyai Ageng yang sekarang di kenal dengan nama punden Bakaran.

Banyak versi menceritakan asal usul punden Bakaran, akan tetapi hal itu tidaklah menjadi soal. Sebab bagi penduduk desa sekitar bukan cerita asal usul Desa Bekaran yang mereka pegang, melainkan keberadaan punden yang mereka anggap sebagai leluhurnya. Sedangkan sumur punden yang disebut warga sebagai sumur sumpah, dahulu berada di pekarangan rumah milik Nyai Ageng.

ITB-STIKOM-Bali
Keterangan gambar: Punden Nyai Ageng Bakaran di Kota Pati / Foto: lokabali

Dari pandangan mata bathin orang orang yang memiliki linuwih, sumur tersebut di percaya sebagai tempat bersemayamnya Nyai Ageng Bakaran. Dari pengakuan penduduk desa, sumur Nyai Ageng kerap di jadikan sebagai tempat untuk menguji kejujuran. Membuktikan siapa yang salah dan siapa yang benar, oleh sebab itu warga menyebutnya dengan nama sumur sumpah.

Di lihat dari dekat sumur sumpah tak seperti sumur biasa pada umumnya. Sumur tersebut berada di dalam ruangan khusus di beri kain penutup kelambu. Lubang sumur di tutup dengan mengunakan papan kayu. Sekilas jika belum pernah berkunjung ke punden mbah Ageng, pelaku ritual akan menyangka jika sumur keramat yang mereka datangi adalah tempat pemakaman. Karena di atas papan kayu penutup lobang sumur banyak bertebaran bunga dan sesaji.

‘ Selain bunga mawar ada juga sesaji buah buahan, pisang setangkep, kinang suruh ayu, songsong payung dan sesaji lainya. Sesaji sesaji ini adalah persembahan para pelaku ritual yang ingin ngalap berkah di sumur mbah Ageng ‘ Terang mbah Rah juru kunci punden Bakaran.

Di dalam kawasan punden selain sumur sumpah terdapat juga petilasan Ki Dalang Soponyono, namun keberadaanya tidak setiap hari terbuka untuk umum. Hanya pada malam Jumat dan malam tertentu saja punden Bakaran di buka untuk ritual. Dua tempat keramat yang berada dalam satu lokasi di balai Desa Bakaran posisinya memang bersebelahan. Hanya di batasi bangunan pendhapa tempat para pelaku ritual beristirahat.

‘Setiap malam Jumat banyak sekali warga yang menggelar ritual melek di pendhapa punden’ Tutur mbah juru kunci.

Uniknya, tak seperti lazimnya orang menjalani laku ritual melek di tempat keramat yang kerap di lakukan dengan cara tidak banyak berbicara.

Para pelaku ritual yang menjalani laku melek di pendhapa punden Bakaran seperti menghadiri pesta hajatan, bercengkrama bebas dan santai. Bagi pelaku ritual yang baru pertama kali datang berkunjung ke punden Bakaran tentu mereka akan kaget, tetapi tidak demikian bagi warga di sekitar punden, pemandangan seperti itu sudah lazim. Kebiasaan itu di yakini terkait dengan aura Ki Dalang Soponyo sebagai dalang kondang yang memiliki kesaktian mampu menghadirkan keramaian di setiap pementasanya.

Dalam babad sejarah kota Pati yang sebelumnya di kenal dengan nama Pesantenan, dalang soponyono di kenal sebagai dalang kondang yang memiliki ilmu kesaktian tinggi. Konon di setiap pementasan wayang kulit, seluruh jejeran wayang dan nayaga para penabuh gamelan di jalankan para lelembut. Sedangkan Ki Dalang Soponyono sendiri hanya bertindak sebagai orang yang melakonkan alur cerita. Petilasan dalang Soponyo berbentuk batu gilang dengan lebar kurang lebih sekitar satu meter.

Batu tersebut diyakini pernah di pakai oleh Ki Dalang Soponyono bersemedi pada saat ia membawa lari seorang putri. Petilasan Ki Dalang Soponyo sama halnya dengan sumur mbah Ageng, di beri penutup kain krobyongan untuk menghormati sosok ghaib yang bersemayam di dalamnya. Para pelaku ritual yang ingin sowan biasanya lebih dulu membakar kemenyan atau hio yang ada di dalam krobyongan. Setiap tahun, kain penutup krobyongan Ki Dalang Soponyono selalu diganti dengan kain yang baru. Sedangkan kain lama bekas penutup punden di simpan di dalam lemari yang tak jauh dari krobyongan.

Banyak pelaku ritual datang dari luar daerah menggelar ritual di petilasan Ki Dalang Soponyono, utamanya mereka para dalang yang ingin cepat kondang. Begitupun orang orang yang menggelar ritual di sumur Nyai Ageng, setiap malam Jumat selalu ramai di kunjungi para pelaku ritual. Untuk melengkapi syarat ritual mereka, di sepanjang jalan di depan balai Desa Bakaran banyak warga menjual bunga dan sesaji. Sesaji sesaji tersebut biasanya di perlukan bagi pelaku ritual yang memiliki hajat permohonan, agar apa yang mereka mohon bisa terkabulkan.

‘Sebagai punden desa, warga meyakini permohonan yang mereka haturkan kepada Tuhan akan di kabulkan namun melalui perantara. Untuk itu syarat sesaji yang mereka bawa sebagai wujud keihklasan dalam bersedekah, sekaligus cara menyambung talirasa antara anak cucu dengan para leluhur leluhurnya’ Terang Juru Kunci Punden Bakaran

Selain ritual ngalap berkah, sumur sumpah kerap di pakai untuk membuktikan sebuah kebenaran, seperti cerita juru kunci punden. Pernah pada suatu hari juru kunci punden Bakaran kedatangan dua orang yang ingin menguji kebenaran karena di fitnah telah mencuri barang berharga milik tetangganya. Keduanya menghadap kepada sang juru kunci dan menceritakan maksud kedatanganya.

Oleh sang juru kunci maksud hati mereka sebenarnya di tolak, karena tidak menginginkan sesuatu terjadi kepada para tamu tamunya. Namun karena terus mendesak dan memaksa ingin mengetahui siapa yang benar dan yang salah, akhirnya keduanya di ajak ke sumur sumpah untuk menguji kebenaranya. Tak lama setelah minum air dari sumur sumpah, orang tersebut kembali ke rumah mereka masing masing .

Selang beberapa minggu setelah minum air dari sumur sumpah, orang yang di tuduh mencuri mendatangi kembali punden Bakaran untuk menggelar selamatan. Ia merasa jika tuduhan yang di alamatkan kepadanya tidak benar, sehingga usai meminum air dari sumur Nyai Ageng ia tidak mengalami kejadian apa apa.

‘Sedangkan orang yang satunya lagi sampai saat ini tidak pernah kembali lagi’ Kenangnya

Bagi mereka yang termakan sumpah, kata juru kunci punden, tidak hanya hidupnya sengsara akibat menderita sakit yang tidak bisa di sembuhkan, tetapi ada juga yang menjadi gila. Tak jarang mereka yang termakan sumpah karena bohong mati mendadak tanpa sebab. Kekeramatan sumur sumpah sampai sekarang memang masih di percaya oleh penduduk desa, tidak hanya di pakai untuk membuktikan sebuah kebenaran, tetapi air dari sumur sumpah di percaya mampu menjadi obat untuk penyakit yang tak kunjung sembuh..

‘Selain untuk mengobati orang yang terkena guna guna ‘ imbuhnya

Ada makna di balik kemujaraban sumur sumpah dalam membuktikan sebuah kebenaran.

Jika semua yang bersumber dari bumi adalah sebuah kebenaran yang hakiki. Sebab tidaklah mungkin bumi di tanami jagung akan tumbuh padi, begitupun rasa ihklas menerima tiada lain yang ada kecuali bumi. Meski di gali dan di rusak sedemikian hebat tetapi tetap saja ihklas menerima. Apa yang terjadi pada alam adalah akibat ulah manusia. Oleh karena itu kebohongan manusia tidak akan pernah mampu menipu alam. Ibarat sumpah yang mereka lakukan dengan cara minum air dari sumur sumpah untuk membuktikan kebenaran siapa yang salah dan siapa yang benar.

Tak sekali dua kali sumur sumpah di pakai untuk menguji kebenaran. Mereka yang terbukti tidak bersalah biasanya akan menggelar selamatan wilujengan di punden Bakaran. Banyak cara di lakukan saat mengungkapkan wujud rasa syukur. Ada yang membawa sesaji nasi tumpeng ingkung ayam, tetapi ada juga yang menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk, tergantung dari keinginan dan kemampuan mereka masing masing.

Nama punden Bakaran tak lepas dari kisah perjalanan Nyi Ageng, wanita cantik yang hidup di masa peralihan Majapahit ke Demak. Tak banyak kisah sejarah yang bisa diambil dari perjalanan hidup Nyi Ageng Bakaran. Meski ia di akui sebagai punden cikal bakal Desa Bakaran, tetapi ada juga cerita yang mengisahkan jika Nyi Ageng Bakaran masih memiliki keterkaitan sejarah dengan salah satu daerah yang ada di kota Solo.

Dalam salah satu versi di ceritakan, nama Desa Bakaran berasal dari hutan yang dibakar kemudian menjadi asal nama Desa Bakaran. Sejarah itu terjadi pada kisah cinta Nyai Ageng dengan Joko Pekuwon. Seperti halnya kisah asmara Bandung Bondowoso dengan Rara Jonggrang, yang harus membuat seribu candi untuk mas kawin cintanya. Di Desa Bakaran, Nyai Ageng meminta syarat membuat tujuh sumur dalam semalam kepada Joko Pekuwon untuk membuktikan cintanya. Namun sebelum fajar menyingsing, ketujuh sumur tersebut harus sudah terwujud.

Syarat mas kawin Nyai Ageng kepada Joko Pekuwon memang sangat berat di wujudkan jika di lakukan oleh orang biasa, hanya saja sebagai orang yang memiliki linuwih, Joko Pekuwon kemudian meminta pertolongan kepada bangsa lelembut, jin, setan, gendruwo, periyangan, sehingga ketujuh sumur akan terwujud dalam waktu semalam. Mengetahui kesaktian Joko Pekuwon yang akan mewujudkan tujuh sumur dalam semalam, Nyai Ageng lantas meminta kepada warga desa membakar damen dan kayu, serta menabuh lesung untuk mengelabui bangsa lelembut jika fajar telah menyingsing.

Melihat merahnya cahaya di kajauhan bagaikan sang surya di ufuk timur, bangsa lelembut lari tunggang langgang meninggalkan pekerjaanya yang baru menyelesaikan enam buah sumur. Keesokan harinya Joko Pekuwon mendatangi Nyai Ageng dan mengatakan, jika sumur yang diminta Nyi Ageng sudah selesai ia buat. Tetapi pengakuan Joko Pekuwon di bantah oleh Nyai Ageng, ia mengetahui jika Joko Pekuwon hanya mampu menyelesaikan enam sumur dari tujuh sumur syarat yang harus ia buat. Satu sumur yang di akui oleh Joko Pekuwon adalah sumur milik Nyai Ageng yang ada di pekarangan rumah.

Mengetahui Joko Pekuwon berbohong, Nyai Ageng kemudian membuktikan kebenaran ucapannya dengan cara minum air dari sumur. Tak selang lama setelah minum air dari dalam sumur, Joko Pekuwon tiba tiba meregang nyawa. Nyai Ageng mengetahui jika kebohongan tidak akan pernah bisa mengelabui alam, meski sesakti apapun manusia, alam adalah jagad gede tempat dimana manusia harus menjalani kodrat yang telah di gariskan oleh Gusti Allah.

Sumur keramat yang sekarang di kenal sebagai sumur sumpah konon di buat sendiri oleh Nyi Ageng Bakaran. Setiap hari Nyi Ageng merawat dan memakai sumur untuk keperluan sehari hari. Lahir dari kisah perjalanan cinta Joko Pekuwon kepada Nyi Ageng, sumur sumpah akhirnya di keramatkan dan kerap dipakai untuk menguji sebuah kebenaran. Bagi penduduk Desa Bakaran mereka percaya, jika Nyi Ageng muksa dan bersemayam di punden Bakaran. Warga juga masih percaya, siapa yang kuat menjalani laku puasa mutih atau puasa Senin Kamis maka bisa bertemu dengan Nyi Ageng.

Sebelum muksa, Nyai Ageng sempat melarang kepada anak keturunanya yang tinggal di Desa Bakaran, siapapun yang menginginkan hidupnya selamat murah sandang pangan jangan sampai melakukan pekerjaan sebagai penjual nasi, mewarnai batik, tukang pande dan membuat rumah dari batu bata merah. Larangan itu sekarang menjadi wewaler bagi penduduk desa.

Wewaler tidak hanya bagi penduduk yang menetap di Desa Bakaran, tetapi seluruh warga asli Bakaran di manapun mereka berada. Wewaler atau larangan sebenarnya sarat dengan maksud dan tujuan luhur agar anak cucu Nyi Ageng Bakaran selalu eling dan waspada.

Seperti larangan menjual nasi, bagi masyarakat adat jawa kuno memang sebaiknya jangan di lakukan karena nasi adalah simbol rejeki, anugerah sandang pangan berkah dewi pangan yang harus di syukuri bukan di jual belikan. Alangkah baiknya jika nasi di berikan kepada orang yang tidak mampu, tidak di jual belikan agar berkah terus mengalir kepada penduduk Desa Bakaran. Nasi bisa di jual belikan tetapi harus dalam rupa dan olahan yang berbeda, seperti, ketupat, bubur dan masakan lainya.

Larangan mewarnai batik oleh Nyai Ageng sebenarnya wujud kecintaanya kepada anak cucu, agar keselamatan mereka senantiasa terus terjaga tidak mengerjakan pekerjaan yang membahayakan dirinya seperti mewarnai batik dengan air mendidih. Jika tidak hati hati maka akan menjadi bencana bagi orang yang mewarnai. Bolehlah pekerjaan itu dilakukan asalkan benar benar merasa mampu. Larangan mewarnai batik sama halnya jangan memande bes,i karena bagaimanapun juga melakukan pekerjaan dengan api akan membuat kita dekat dengan bahaya. Begitupun membuat rumah dengan membangun batu bata merah.

Larangan ini adalah wujud kecintaan Nyi Ageng kepada alam sekitar yang tak ingin rusak akibat ulah penduduk desa. Membuat batu bata merah harus menggali tanah sebagai bahan untuk membuatnya. Bumi bagi Nyai Ageng adalah alam yang harus di lestarikan, di jaga dan di rawat dengan baik. Karena dengan lestarinya alam maka seluruh anak cucu kelak akan bisa menikmati hasil bumi. Jika bumi di gali dan dirusak, maka di masa yang akan datang anak cucunya tidak akan merasakan kemakmuran.

Dalam kisah di ceritakan, Nyi Ageng Bakaran adalah sosok perempuan yang sangat cantik sekali, kulit putih bersih bertubuh langsing. Hidup di Desa Bakaran bersama kedua orang tuanya. Keseharianya Nyi Ageng suka membatik bersama ibunya, selain itu ia juga gemar bermain ayam jago. Dari kegemaranya bermain ayam jago maka tidak mengherankan jika ada pertandingan sabung ayam di punden Bakaran, pihak aparat setempat tidak berani mengusiknya. Karena di yakini siapapun orangnya yang nekad mengusik kesenangan punden Bakaran maka ia akan terkena siku.

Selain sabung ayam, batik Nyi Ageng sekarang menjadi branding batik di Desa Bakaran. Tak sedikit penduduk Desa Bakaran berprofesi sebagai pembatik. Hanya saja batik Bakaran dengan batik Solo berbeda motif dan coraknya. Batik Solo mengalami banyak perkembangan sehingga lebih indah dan banyak sekali corak maupun warnanya. Berbeda dengan batik asal Bakaran yang memiliki corak klasik serta masih merunut pada motif Majapahit.

Perjalanan kisah asmara Nyai Ageng tidak hanya menjadikan awal mula sumur keramat kemudian di kenal sumur sumpah, tetapi nama Desa Bakaran juga berawal dari kisah percintaanya yang menolak seorang pengembara asal negeri Cina, kemudian mengamuk dan membakar hutan karena cintanya di tolak oleh Nyi Ageng. Sejak peristiwa itu, bekas hutan yang terbakar kemudian di kenal dengan nama Desa Bakaran. Desa Bakaran terbagi menjadi dua yaitu, Desa Bakaran wetan dan Desa Bakaran kulon.

Desa Bakaran wetan memiliki punden Nyai Ageng, sedangkan punden Desa Bakaran Kulon adalah mbah Demang suami Nyai Ageng. Mbah Demang adalah pria tampan yang berhasil mencuri hati Nyi Ageng yang cantik. Meski cintanya banyak di perebutkan oleh pria, tetapi perahu cinta Nyi Ageng tertambat pada laki laki yang sudah sejak kecil dikenalnya. Hanya saja sebelum menikah dengan laki laki pujaanya dan memiliki banyak keturunan, Nyai Ageng lebih dulu sudah memiliki anak angkat yang ia temukan di dalam hutan. Bocah bayi tersebut di beri nama Soponyono, yang berarti tak terduga.

Sementara itu versi lain asal usul Nyai Ageng Bakaran juga di ceritakan, jika Nyai Ageng Bakaran memiliki nama asli Nyi Danowati. Ia juga di kenal sebagai Murni Sabirah. Julukan Nyai Ageng atau Ki Ageng pada masa itu biasanya di berikan kepada para pejabat kerajaan Majapahit yang tak lagi berada di dalam istana. Nama tersebut adalah sebuah kehormatan bagi ketokohan seseorang di kalangan rakyat biasa yang dianggap masih memiliki pengaruh.

Di ceritakan pasca runtuhnya Majapahit oleh Demak, banyak pembesar Majapahit yang melarikan diri ke pinggiran, mereka di antaranya Nyi Danowati atau Murni Sabirah yang kemudian di kenal sebagai Nyai Ageng Bakaran, Ki Bicak, Nyai Bicak, Joko Suyono, Ki Dhukut dan Ki Trunojoyo. Mantan para pembesar kerajaan Majapahit ini menyamar sebagai rakyat biasa, agar dalam pelarianya mereka tidak tertangkap oleh bala tentara Demak.

Dalam pelarian sampailah mereka di daerah Purwodadi untuk mencari perlindungan kepada Ki Ageng Sela. Namun oleh Ki Ageng Sela rombongan para pembesar Majapahit tidak bisa di terima, karena ketiadaan jaminan keselamatan bagi mereka. Melanjutkan pelarianya dari padepokan Ki Ageng Sela, rombongan kemudian berpencar. Ki Dhukut, Nyi Danowati dan dan Joko Suyono memilih berjalan ke arah utara, hingga sampailah mereka di sebuah tempat peristirahatan yang di sebut mekuwon atau pekuwon. Di mekuwon Nyi Danowati dan Joko Suyono kemudian tinggal, namun tak selang berapa lama Nyi Danowati menyusul Ki Dukut kakaknya di sebuah daerah yang sekarang di kenal sebagai Juwana.

Di daerah Juwana Ki Dhukut dan Nyi Danowati babat alas membuka lahan untuk membangun desa. Karena pengerjaanya memakan waktu yang lama, Ki Dhukut dan Nyi Danowati lantas membakarnya. Usai dibuka dengan cara di bakar, Ki Dhukut dan Murni Sabirah lantas membagi hutan menjadi dua wilayah. Wilayah yang menjadi bagian Nyi Danowati kemudian di kenal dengan nama Desa Bakaran Wetan, sedangkan wilayah Ki Dhukut berada di Desa Bakaran Kulon. Untuk mengelabui agar keberadaanya tidak di ketahui oleh tentara Demak, Nyi Danowati lantas membangun rumah yang menyerupai mushala dan membuat sumur agar di kira sebagai tempat wudlu. Ia kemudian berganti nama menjadi Murni Sabirah, nama rakyat biasa pada umumnya.

Usai menetap dan membangun Desa Bakaran Wetan, Joko Suyono yang kemudian di kenal sebagai Joko Pekuwon karena menetap di mekuwon, datang berkunjung ke Desa Bakaran Wetan bermaksud melamar Murni Sabirah. Oleh Murni Sabirah, Joko Pekuwon harus bisa memenuhi syarat yang di ajukan, yakni membuat tujuh sumur hanya dalam waktu semalam. Karena tidak mampu mewujudkan masih kurang satu sumur, Joko Pekuwon kemudian berbohong dan mengaku sumur yang di buat Murni Sabirah adalah sumur hasil buatnya. Untuk membuktikan kebenaran pengakuanya, Murni Sabirah meminta Joko Pekuwon minum air dari dalam sumur. Al hasil usai minum air dari sumur milik Murni Sabirah Joko Pekuwon mati akibat kebohonganya./Jk



Komentar

Berita Lain