LOKABALI. COM – Sebuah makam kuna di komplek pemakaman Selo Bentar di Desa Krasak, Kecamatan Teras, Boyolali oleh penduduk desa sampai saat ini masih terus di keramatkan. Tak di ketahui secara pasti jejak apa yang pernah di tinggalkan dari keberadaan makam tersebut. Hanya cerita tutur turun temurun dari penduduk desa yang sampai saat ini masih bisa di dengar sebagai pegangan, tentang keberadaan makam kuna yang di yakini milik Raden Ayu Bronto Telih.
Menurut cerita tutur yang pernah di sampaikan oleh sesepuh desa kepada penduduk, makam keramat di komplek makam Selo Bentar tersebut adalah makam milik Raden Ayu Bronto Telih.
Di ceritakan, Ki Ageng Kembang Lampir memiliki putri bernama Raden Ayu Bronto Telih yang mengandung tetapi tak di ketahui siapa pria yang menghamilinya. Merasa malu dengan kondisi perut putrinya yang kian hari kian bertambah besar, Ki Ageng Kembang Lampir lantas mengusir putrinya.
Di tengah rasa keputusasaan karena di usir oleh ayahnya, Bronto Telih hidup menyendiri di sebuah bukit di dalam hutan. Di dalam hutan Bronto Telih akhirnya melahirkan seorang bayi laki laki yang sangat tampan, namun naas ia mati konduran ( meninggal dunia usai melahirkan ).
Sementara itu di desa, Ki Ageng Kembang Lampir merasa menyesal karena telah mengusir putrinya dari rumah. Menyadari kesalahanya, Ki Ageng Kembang Lampir lantas meminta tolong kepada salah seorang penulup ( pemburu ) untuk mencari keberadaan putrinya yang pergi entah kemana.
Setelah di cari kemana mana belum juga ditemukan, di sebuah gumuk atau bukit di dalam hutan, sang penulup mendengar suara tangisan bayi dan menemukan putri Ki Ageng Kembang Lampir dalam keadaan telah meninggal dunia usai melahirkan.
Oleh sang penulup jasad Raden Ayu Bronto Telih kemudian di makamkan di tempat ia wafat. Sedangkan bukit dimana ia di makamkan sekarang di sebut dengan nama Selo Bentar.
Cerita tutur turun temurun yang pernah di sampaikan oleh sesepuh desa ini memiliki kesamaan dengan cerita dalam Serat Babad Tanah Jawa.
Di kisahkan dalam babad tanah jawa, Ki Ageng Kudus memiliki tiga orang putra laki laki. Dua orang putra pertama dan kedua satu ibu, sedangkan putra lelaki satu satunya bernama Ki Jaka dari ibu yang berbeda.
Kepada Ki Jaka, Ki Ageng Kudus meminta agar ia segera menikah seperti halnya kedua orang kakaknya. Akan tetapi putra bungsu Ki Ageng Kudus rupanya masih enggan menuruti kemauan ayahnya. Meski ayahnya sudah menawarkan diri, siap melamar gadis idaman yang di inginkan di manapun asalnya.
Merasa terus di paksa oleh orang tuanya, Ki Jaka lantas memilih pergi meninggalkan rumah menuju Gunung Kendeng. Di sana ia bertapa hingga berbulan bulan. Usai bertapa di Gunung Kendeng, Ki Jaka kemudian melanjutkan perjalanan tanpa arah dan sampailah dia di sebuah sendang taman Beji yang sangat indah.
Sendang tersebut di penuhi tanaman bunga dan pohon besar yang sangat rindang, sehingga membuat Ki Jaka merasa betah beristirahat di bawah pohon kepoh yang berhimpitan dengan pohon gayam. Taman beji tempat dia istirahat rupanya milik Ki Ageng Kembang Lampir yang sangat di hormati oleh penduduk Desa Kembang Lampir.
Sebagai seorang tokoh yang sangat di hormati, Ki Ageng Kembang Lampir memiliki putri berparas sangat cantik yang sudah saatnya untuk menikah. Hanya saja putri tersebut rupanya masih enggan untuk menikah, meski orang tuanya kerap meminta ia segera mencari jodoh.
Hingga pada suatu hari, putri Ki Ageng Kembang Lampir pergi ke sendang taman beji untuk mengambil air. Melihat air mengalir dari sumber mata air sangat bening dan tampak sangat segar sekali, timbul keinginanya untuk mandi. Merasa di tempat yang sunyi di dalam hutan jauh dari keramaian, ia kemudian melepas seluruh pakainya menceburkan diri mandi di dalam sendang.
Tanpa di ketahui oleh putri Ki Ageng Kembang Lampir, di balik pohon kepoh dan gayam yang saling berhimpitan, sepasang mata seorang pemuda mengawasi kecantikan dan kemolekannya. Tak selang lama setelah mandi ia di kagetkan dengan kemunculan sosok pemuda yang tiba tiba berada di hadapanya.
Dalam kekagetanya pemuda yang tak lain adalah Ki Jaka, putra bungsu Ki Ageng Kudus, mengajak berkenalan dan berlanjut dengan hubungan asmara singkat.
Tiba di rumah, dalam diri putri Ki Ageng Kembang Lampir semakin lama mengalami perubahan. Perutnya semakin lama terus membesar, mengandung sang jabang bayi.
Melihat perubahan dalam diri putrinya, Ki Ageng Kembang Lampir kaget. Apalagi pada saat di tanya siapa lelaki yang menghamilinya, ia tidak dapat menjelaskan. Dalam kemarahanya Ki Ageng Kembang Lampir lantas mengusir putrinya. Di usir oleh orang tuanya, wanita yang tengah hamil tersebut pergi jauh masuk ke dalam hutan. Tiada arah dan tujuan yang ia cari.
Dalam kondisi sedih dan perut yang terus semakin bertambah besar, putri Ki Ageng Kembang Lampir akhirnya melahirkan bayi laki laki seorang diri di dalam hutan. Naasnya, usai melahirkan ia mati konduran. Sedangkan jabang bayi laki laki yang baru di lahirkan tersebut berada dalam dekapan ibunya.
Di tempat yang lain, Ki Ageng Selandaka, seorang pemburu yang biasa berburu binatang dengan senjata tulup, tengah mencari buruan di dalam hutan. Saat berada di dalam hutan ia mendengar suara tangisan bayi laki laki dan ditemukan dengan kondisi masih berlumuran darah berada di dalam dekapan ibunya yang sudah mati.
Melihat keadaan jabang bayi yang sangat memprihatinkan, Ki Ageng Selandaka lantas melepas kain cinde yang di pakainya untuk membersihkan noda darah yang masih menempel di tubuh sang jabang bayi, kemudian ia menggendongnya.
Usai menguburkan ibunya, Ki Ageng Selandaka kemudian melanjutkan perburuanya. Kebetulan pada saat itu ia melihat binatang kijang bertanduk kuning gading tengah berlari di depanya.
Selama berhari hari Ki Ageng Selandaka berusaha mencari kijang buruanya, akan tetapi hasilnya terus nihil. Ia merasa bayi dalam gendonganya melambatkan kakinya. Oleh karena alasan itu, jabang bayi cucu Ki Ageng Kembang Lampir kemudian di tinggalkan di bawah pohon besar.
Tempat dimana jabang bayi tersebut di tinggalkan rupanya sebuah pertapaan milik Ki Ageng Tarub yang beristri Nyi Wulanjar. Setiap hari Nyi Wulanjar selalu mengunjungi pertapaan suaminya, untuk mengenang masa masa indah saat ia masih berdampingan dengan almarhum suaminya.
Sampai pada suatu hari saat Nyi Wulanjar mengunjungi pertapaan suaminya, ia melihat jabang bayi yang di tinggalkan oleh Ki Ageng Selandaka. Hatinya serasa sangat bahagia sekali, sebab semasa masih hidup dengan suaminya, Nyi Wulanjar belum juga di karunia momongan, sehingga setiap hari ia terus berdoa kepada Hyang Widi agar di karunia putra.
Bahkan saat suaminya telah tiada, Nyi Wulanjar masih terus berharap di berikan momongan. Hingga sampai akhirnya ia menemukan jabang bayi cucu Ki Ageng Kembang Lampir yang di tinggalkan oleh Ki Ageng Selandaka, yang kelak di kemudian hari dalam serat babad tanah jawa di sebutkan sebagai Jaka Tarub.
Di usianya yang semakin bertambah dewasa, Jaka Tarub kemudian berganti nama dengan julukan Ki Ageng Tarub. Seorang tokoh yang kelak akan menjadi leluhur raja raja Mataram Islam di tanah Jawa.
Sementara itu di kutip dari Serat Jati dan babad demak di kisahkan, Jaka Tarub adalah putra Dewi Rasawulan dari Tuban. Ia memiliki nama kecil Kidang Telangkas yang dititipkan Syech Maulana Magribi kepada seorang janda di Desa Tarub.
Saat menyerahkan jabang bayi tersebut, Syehc Maulana Magribi juga memberikan Tombak Kyai Plered yang kelak di kemudian hari akan menjadi senjata ageman turun temurun raja raja di tanah Jawa. / Jud




















Komentar