Dimasa pemerintahan Raden Panji Kastriyan atau Prabu Suryamisesa di Kerajaan Jenggala, sang Prabu berkenan membangun gambar ringgit purwa dari kepala sampai kaki, namun media yang di pakai masih tetap mempergunakan rontal (daun). Pada masa itu gending pengiring ringit purwa menggunakan laras salendro (slendro) yang di iringi dengan suluk.
Sedangkan gambar gambar ringgit purwa dari rontal di simpan dalam wadah tembaga. Di saat Kerajaan Jenggala menyelenggarakan pasamuan agung, ringgit purwa tersebut di lakonkan dalam sebuah pertunjukan dan yang menjadi dalang pementasan Prabu Suryamisesa sendiri.
Baca juga : Para Penguasa Ghaib Merapi
Runtuhnya Kerajaaan Jenggala membuat Prabu Suryamisesa beserta para punggawa kerajaan pindah dan bertahta di Pajajaran dengan gelar Prabu Maesatandreman dan menyempurnakan gambar wayang purwa berdasarkan babon asli ringgit dari Jenggala.
Selanjutnya pada masa Raden Jaka Suruh menjadi raja di Kerajaan Majapahit dengan gelar Prabu Branata di taun suryasangkala 1283, ia mulai menggunakan media lembaran kain yang dapat di gulung sebagai media pertunjukan dan akhirnya di kenal dengan sebutan ringgit beber. Pagelaran ringgit beber pada masa itu hanya di iringi rebab dan gamelan slendro. Di gelar hanya untuk kebutuhan ruwatan pada masa masa tertentu.
Bersambung di masa pemerintahan Prabu Brawijaya pertama, beliau memiliki seorang putra yang berbakat melukis bernama Raden Sungging Prabangkara. Oleh Raden Sungging Prabangkara ringgit beber di sempurnakan dengan cara di beri warna serta di lukis dengan posisi gambar miring.
Lukisan ringgit beber tersebut di kelompokan dalam sebuah gulungan, kemudian pada bagian pinggir gulungan di beri kayu yang berfungsi untuk menancapkanya. Sedangkan tempat untuk menancapkan ringgit beber menggunakan papan kayu yang di lobangi.
Pasca runtuhnya Kerajaan Majapahit di gantikan Kesultanan Demak Bintoro di masa kepemimpinan Raden Patah atau Sultan Sah Ngalam Akbar (1437 ), kala sebagian masyarakat Jawa sudah mulai memeluk Islam. Sultan Demak sangat menyukai sekali kesenian karawitan dan wayang beber. Akan tetapi karena gambar dalam wayang beber tersebut merupakan gambar rupa manusia, para wali kemudian membangun ulang ringgit purwa dengan bahan baku dari kulit.
Kala itu cara pembuatan ringgit belum mempergunakan tatah sungging, hanya di gambar dengan pulas warna hitam dengan posisi gambar miring. Gambar tersebut di beri dasar warna putih dari bahan bubuk tulang. Pada bagian tangan di apit dengan kayu dan pada saat di pentaskan di tancapkan dengan cara berurutan dari kecil sampai dengan yang besar.




















Komentar