oleh

Pertapaan Pringgondani, Jujugan Pelaku Ritual Di Bulan Sura

-Budaya, Tradisi-4.926 views

LOKABALI.COM-Selama bulan sura dalam penanggalan Jawa, banyak tempat keramat seperti gunung, gua, pantai dan punden di jadikan sebagai tempat untuk menjalani laku ritual mawas diri.

Banyak orang melakukan ritual perenungan, memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar di berikan kekuatan dan keberkahan dalam menjalani proses kehidupan setahun yang akan terlewati.

Salah satu tempat keramat yang menjadi jujugan para pelaku ritual di bulan sura salah satunya adalah Pertapaan Pringgondani di Dusun Blumbang, Tawangmangu, Gunung Lawu.

Selama satu bulan penuh setiap hari, ratusan warga datang silih berganti menjalani laku ritual di Pertapaan Pringgondhani. Kedatangan mereka tidak hanya berasal dari desa sekitar, akan tetapi para pelaku ritual dari berbagai daerah di Indonesia. Selain masyarakat biasa dan para pelaku ritual, banyak juga pejabat pemerintah, anggota dewan hingga presiden, yang pernah berkunjung ke Pertapaan Pringgondani.

Keterangan gambar : Sendang Gedang di Pertapaan Pringgondani/ foto:lokabali

Bagi masyarakat jawa sendiri, Pringgondani di yakini merupakan punjer spiritual tanah jawa. Apalagi keberadaan pertapaan tersebut berada di lereng Gunung Lawu yang kala itu bernama Wukir Mahendra. Pusat peradaban di jaman kadewatan bumi Nusantara. Seperti yang banyak di tulis dalam serat serat kuna.

Cerita tutur masyarakat lereng lawu menceritakan, Pringgondani merupakan sanggar pertapaan Eyang Kacanegara. Seorang resi yang pernah bertapa di lereng gunung lawu sampai akhirnya ia muksa dan menjadi penguasa ghaib di lereng lawu.

Turun temurun cerita tersebut di yakini oleh masyarakat, apalagi kesakralan Pringgondani sampai saat ini masih di jaga serta diakui oleh para pelaku spiritual, tak terkecuali tokoh spiritual Aryo Jati asal Jogja.

Keterangan gambar : Telaga wali / Foto: lokabali

Pria yang kerap di tunjuk memandu laku spiritual para pejabat di lereng lawu ini mengungkapkan, baginya nama Pringgondani lebih bermaksud kemakna sanepa. Simbol dari sebuah tempat perenungan, mawas diri yang pernah di lakukan oleh Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V usai runtuhnya kerajaan Majapahit yang di tandai dengan Sirna Ilang Kertaning Bhumi.

Di katakan pria yang akrab di sapa Gus Aryo, nama Pringgondani jika di pisah terdiri dari tiga suku kata yang masing masing memiliki arti. Pring ( bambu ), sedangkan Nggon adalah tempat dan Ndani di artikan adalah memperbaiki. Sebuah tempat perenungan untuk memperbaiki diri.

Bambu ujar Gus Aryo, sebagai simbol tonggak kepribadian manusia.
Sedangkan nama Kacanegara di maknai berkaca kepada jagad besar ( alam semesta ). Berusaha memperbaiki diri dengan cara laku manembah kepada Tuhan dan mendekat kepada alam semesta yang menjadi bentuk manifestasi kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Keterangan gambar : Tokoh spiritual asal Jogja, Aryo Jati ( Gus Aryo) /foto: lokabali

Oleh karena makna dan kesakralan yang ada, maka tidak hanya pada bulan sura saja pertapaan Pringgondhani ramai di kunjungi para pelaku ritual. Akan tetapi hari hari biasa banyak juga pelaku ritual yang datang menjalani laku ritual di Pringgondani.

‘Apalagi jika bertepatan dengan Pileg dan Pilkada, banyak bakal calon anggota dewan dan pejabat daerah, menjalani laku ritual ngalap berkah agar hajad hajadnya terkabulkan’ Jelas Gus Aryo

Pertapaan Pringgondani terletak di lereng Gunung Lawu, Desa Blumbang, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Tempat tersebut berada di dalam wana wisata atau hutan lindung KPH. Surakarta yang tak jauh dari atas puncak Gunung Lawu. Akses yang harus di tempuh para pelaku ritual untuk mencapai Pertapaan Pringgondani sangat mudah. Dari pusat kota Solo atau terminal Bis Tirtonadi bisa di tempuh dengan angkutan umum, maupun mobil dan motor pribadi dengan menempuh jarak kurang lebih 50km ke tujuan obyek wisata Tawangmangu.

Setelah berada di kawasan wisata Tawangmangu, para pelaku ritual menempuh perjalanan lagi menuju Desa Blumbang yang hanya berjarak sekitar 5km dari terminal Bus Tawangmangu. Setibanya di Desa Blumbang pelaku ritual kemudian melanjutkan perjalanan jalan kaki mendaki ke Pertapaan Pringgondani.

Hampir secara keseluruhan akses jalan setapak menuju Pertapaan Pringgondani berada di pinggir jurang, untuk itu para pelaku ritual harus berhati hati jika melakukan perjalanan pendakian pada malam hari. Suasana di dalam hutan sangat lengang, hanya bunyi binatang malam yang bersahut sahutan serta suara gemericik air terjun yg terdengar dimalam hari.

Pemandangan tersebut tampak jauh berbeda jika di tempuh pada pagi atau siang hari. Pemandanganya tampak indah dengan hawa pegunungan yang sangat sejuk. Dari Desa Blumbang, jarak yang harus di tempuh memakan waktu kurang lebih satu jam perjalanan.

Beberapa tempat keramat di Pertapaan Pringgondani diantaranya, Sendang Gedang, Sendang Penguripan, Sendang Temanten, Air Terjun Pringgosari, Goa Kebo Ndanu, Telaga Wali dan Sanggar Pamelengan. / Jud

Follow Lokabali.com di Google News



Komentar

Berita Lain