oleh

Lantunan Suara Gamelan Ghaib Kerap Terdengar Di Kedung Kayang

-Budaya-2.162 views

LOKABALI.COM- Kawasan Gunung Merapi dan Merbabu banyak sekali menyimpan misteri, tak hanya wisata religi dan spiritual, wisata alam di sekitar kawasan Gunung Merapi dan Merbabu juga banyak menyimpan cerita mistis. Salah satunya adalah air terjun Kedung Kayang. Air terjun yang bermuara dari dua aliran sungai di gunung, Merapi dan Merbabu ini berada di perbatasan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Boyolali.

Tepatnya antara desa Wonolelo Kecamatan Sawangan Magelang, dan desa Klakah Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali. Berada di ketinggian 950meter dari permukaan air laut, dan berada tepat di jalan tembus Selo-Boyolali-Magelang dengan jarak tempuh kurang lebih sekitar 30km dari pusat kabupaten Boyolali.

Air terjun Kedung Kayang berupa air terjun alami dengan ketinggian lebih dari 30 meter serta memiliki kemiringan sekitar 80 derajat. Air yang mengalir ke air terjun berasal dari empat sumber mata air yaitu mata air umbul sewindu, mata air tuk songo, mata air tuk abang plutungan dan mata air tuk dandang.

Menurut Surono ( 32 th) salah seorang penjaga obyek wisata Kedung Kayang diceritakan, kedung kayang memiliki cerita tutur turun temurun. Cerita tersebut berkaitan era kerajaan mataram kuno.

Di kisahkan, kala itu para empu mempercayai jika aliran sungai Pabelan yang bersumber dari gunung Merapi dan Merbabu diyakini memiliki kekuatan tak akan pernah mengalirkan lahar panas saat gunung Merapi meletus. Kepercayaan yang sudah di anut sejak dari dulu ini, lantaran para empu mempercayai kalau sungai Pabelan dijaga oleh dua orang sosok ghaib bernama Kyai Gadung melati dan Nyai Widari Welas Asih.

Oleh sebab itu, kedung kayang lantas dijadikan tempat pertemuan tiga orang empu untuk mengadu kesaktian. Ketiga empu tersebut adalah Empu Panggung, Empu Puthut dan Empu Khalik.

Setiap kali bertemu di sungai Pabelan ketiganya beradu ilmu dengan cara melempar telur ke arah kedung ( sumber mata air ). Adu kesaktian ini biasa di lakukan tiap bulan Muhharam dengan menggunakan telur angsa. Telur yang di lempar dari atas tebing ke arah kedung apabila masih utuh, maka dialah yang dianggap sebagai pemenangnya.

Namun pada saat pertandingan dilakukan, ketiga telur yang di lemparkan oleh ketiga orang empu tersebut semuanya pecah dan masuk ke dalam kedung. Namun cangkang telur ketiganya ternyata lenyap tak berbekas, tak satupun dari ketiga telur angsa menyisakan cangkang.

Oleh ketiganya lantas di sepakat memberi nama sumber mata air dengan nama kedung kayang. Sedangkan cangkang telur yang lenyap tanpa bekas itu oleh Kyai Gadung Melati dan Nyai Widari Welas Asih akhirnya di sabda keluar sumber mata air baru.

‘ Tiga mata air yang keluar dari bekas lemparan telur berada di sisi sebelah barat, timur dan utara kedung kayang Tegas Surono.

Selain memiliki keindahan alam air terjun, kedung kayang sarat dengan nuansa mistis. Beberapa keanehan seringkali terjadi pada saat bulan suro dalam penanggalan Jawa. Pada malam jumat kliwon yang bertepatan di bulan sura, seringkali di tempat ini terdengar lantunan gending gamelan Jawa. Suaranya terdengar menggema hingga ke seluruh desa desa disekitar kedung kayang. Suara ini layaknya seperti tengah menggelar suatu hajatan ageng.

Selain suara gending gamelan, pada malam Kamis Wage di bulan yang sama, kedung kayang biasanya di penuhi kera yang datang entah darimana, hingga mencapai ribuan ekor. Kera kera ini seakan-akan mendatangi hajatan besar, berkumpul dan berpesta di atas kedung kayang. Pemandangan ini lazim dilihat oleh masyarakat sekitar dan para pengunjung, tak terkecuali pelaku ritual yang biasa menggelar ritual tiap bulan sura/Jk

Follow Lokabali.com di Google News



Komentar

Berita Lain