oleh

Asal Usul Keris Pusaka Dapur Nagasasra

-Budaya, Tradisi-4.835 views

LOKABALI.COM- Keris pusaka Nagasasra merupakan salah satu pusaka ampuh yang pernah di buat di tanah jawa. Bahkan sampai saat ini keampuhan keris tersebut tetap masih diyakini, meski jaman terus semakin maju.

Sebagai sebuah keris pusaka, tentu saja banyak empu yang meniru dapur keris nagasasra. Apalagi keberadaan senjata tradisional milik masyarakat Jawa tersebut, sudah menjadi sebuah maha karya dunia yang harus di lestarikan keberadaanya oleh Unesco.

Keris dapur nagasasra di yakini tidak hanya cocok di pakai oleh para penguasa dan pejabat, akan tetapj juga mampu menumbuhkan sipat kandel dalam diri si pemiliknya. ( menjadi ageman)

Di kutip dari literasi serat serat kuno di ceritakan, Keris Dapur Nagasasra pertama kali di buat oleh Ki Enom Supa, putra Empu Supo atau keponakan Sunan Kalijaga.

Di kisahkan, masuknya Islam di tanah Jawa membuat raja Majapahit berada dalam kebimbangan. Ia di bujuk oleh putranya, Adipati Natapraja yang lebih dulu mengikuti jejak para wali memeluk agama Islam. Sementara itu di sisi yang lain dia masih ingin mempertahankan agama Buda yang sudah di yakini oleh para leluhur leluhurnya.

Raja Majapahit beralasan ia belum bisa memeluk agama rasul, lantaran belum mengetahui secara dalam ajaran yang ada di dalam agama tersebut.

Sebagai seorang raja yang memiliki derajat kapanditan, Wilatikta ( sebutan untuk raja Majapahit ) mampu mengendalikan nafsu amarahnya dengan senyum dan kesabaran, pada saat berdebat tentang agama dengan putranya, Adipati Natapraja.

‘ Jalan keyakinan kepada Hyang Manon tidak bisa di paksakan untuk seseorang. Yang baik di sanjung, yang berbeda di cacat. Begitulah kehidupan di dunia ‘ Tutur sang Wilatikta kepada putranya

Di tengah keresahan menghadapi situasi Majapahit dimasa yang akan datang, Wilatikta mendengar wisik dari angkasa yang berkata, Hei Raja di Wilatikta, jika kamu ingin anak turunmu semua selamat maka carilah syarat untuk kebaikan yakni keris satu dapur seribu. Anak turunmu di masa yang akan datang tentu tidak akan pisah dan tetap menetap di tanah jawa. Keris dapur sasra kelak akan menjadi pusaka raja.

Usai mendengar wisik ghaib, raja Majapahit lantas mengumpulkan patih kerajaan, bupati dan para punggawa istana. Mereka di perintahkan mencari empu untuk membuat keris dapur seribu. Akan tetapi semua empu di Majapahit tak ada yang sanggup. Sampai akhirnya Tumenggung Supagati dan Tumenggung Supadriya di beri tugas mencari empu yang mampu membuat keris dapur seribu.

Tumenggung Supagati mencari di pelosok timur dan selatan, sedangkan Supadriya mencari di wilayah barat. Pencarian Tumenggung Supadriya saat itu langsung menuju ke kediaman putranya, Ki Supa yang juga seorang empu linuwih. Setibanya di rumah Empu Supa, Tumenggung Supadriya hanya mendapati cucunya ki Enom Supa yang masih berusia sembilan tahun.

Saat di tanya kedatangan sang kakek di rumahnya, Supadriya menyampaikan apa yang di perintahkan oleh sang nata Majapahit. Usai mendengar cerita sang kakek, Ki Enom Supa menyanggupi membuat keris dapur sasra. Ucapan cucunya tentu saja mengagetkan Tumenggung Supadriya. Ia merasa apa yang di katakan cucunya bukanlah ucapan dia sebenarnya, melainkan perkataan dewa yang keluar dari mulut cucunya.

Mendengar apa yang disampaikan oleh cucunya, Tumenggung Supadriya lantas mengajak cucunya pergi ke istana untuk bertemu dengan nata Majapahit. Di hadapan nata Majapahit, Ki Enom menyanggupi, tetapi proses pembuatan keris akan di lakukan di dalam samudera.

Sementara itu sang nata Majapahit akan memberikan anugerah pangkat bupati jika Ki Enom Supa mampu membuat keris dapur sasra.

Sampai pada proses pembuatan, para Bupati dan punggawa di perintahkan menjaga dan menunggu di pinggir laut siang dan malam. Besi baja pilihan di siapkan untuk bahan pembuatan keris. Tak selang lama setelah semua siap, Ki Enom Supa masuk ke dalam samudera mulai membuat keris seperti yang di perintahkan oleh sang nata Wilatikta. Padahal ia sama sekali belum mengetahui seperti apa keris dapur sasra.

Di dalam samudera Ki Enom Supa memakai sikutnya untuk menempa besi, sedangkan paron atau tempat menadah tempaan menggunakan dengkul kaki. Besi baja pilihan yang telah di siapkan rupanya tak mampu menahan tempaan sikut Ki Enom Supa. Setiap kali besi di tempa, hancur berantakan larut bersama air laut. Hingga berhari hari proses keris dapur sasra belum juga jadi.

Di tempat lain, kabar pembuatan keris dapur sasra oleh Ki Enom Supa menyebar sampai ke pelosok daerah dan di dengar langsung oleh Sunan Kalijaga.

Mengetahui keponakanya menempa keris di di dalam samudera, dengan cepat Sunan Kalijaga menemuinya. Melihat kedatangan uwa’nya, Ki Enom menghaturkan sembah. Di dalam samudera Sunan Kalijaga melihat besi baja yang di tempa keponakanya larut dengan air laut karena tak kuat menahan kekuatan sikut.

Melihat proses penempaan yang sia sia, Sunan Kalijaga lantas memberikan sebuah besi berasal dari insan kamil pemberian Empu Supa, yang tak lain adalah ayah dari Ki Enom Supa sendiri.

Kepada keponakanya Sunan Kalijaga berpesan, agar ia lebih dulu mempersiapkan pola keris dapur sasra. Usai memberikan pesan, Sunan Kalijaga kemudian keluar dari dalam samudera menemui Empu Supa yang saat itu kebetulan berjumpa denganya di sebuah persimpangan jalan, sepulang dari Blambangan.

Di Blambangan Empu Supa memperoleh anugerah seorang istri dan gelar Pangeran dari Raja Blambangan, Siyung Laut. Selama menetap di Sedayu,  Blambangan, ia memperoleh sebutan Pangeran Sendang.

Sampai pada suatu hari, Empu Supa teringat jika ia masih menyimpan keris pusaka Kyageng Sengkelat di tengah samudera yang pernah di buatnya.

Kepada istrinya yang tengah mengandung tujuh bulan, Empu Supa berkata akan pergi mengambilnya. Ia juga berpesan agar kelak jabang bayi yang ada dalam kandunganya jika lahir seorang bayi laki laki maka namailah dia Ki Jaka Sura, sedangkan jika lahir perempuan silahkan istrinya yang memberikan nama bayi tersebut.

Pada saat perjalanan pulang, Empu Supa bertemu dengan Sunan Kalijaga di persimpangan jalan dan di beritahukan, jika anaknya kumenthus membuat keris pusaka dapur sasra. Padahal ia belum tahu seperti apa keris dapur sasra. Hanya mengandalkan kesaktianya saja tidaklah cukup. Sunan Kalijaga meminta kepada Empu Supa agar mengambil Keris Sengkelat luk tiga belas yang pernah ia buat untuk contoh putranya.

Mendengar permintaan kakak iparnya, Empu Supa segera mengambil Kyageng Sengkelat yang di simpanya di tengah laut. Usai di berikan kepada Sunan Kalijaga, Empu Supa di sarankan untuk bergegas kembali pulang ke rumah melalui jalan pintas.

Sementara itu, Sunan Kalijaga dalam sekejap menemui Ki Enom yang tengah menempa besi di dalam samudera.

Kepada keponakanya, Sunan Kalijaga berkata, buatlah keris seperti ini, tinggi besar luk tiga belas, sembari menunjukan keris Kyageng Sengkelat. Akan tetapi di pasangi naga di bagian bawah sampai ke atas.

Naga sasra diartikan naga taksana mandi, sedangkan sasra berjumlah seribu. Jadi seperti itulah yang dinamakan dapur seribu. Tak lama keris dapur nagasasara selesai di buat oleh Ki Enom Supa.

Pada saat selesainya pembuatan keris, air samudera rob, ombak tiba tiba berubah menjadi besar. Ikan dan hewan laut banyak yang mati akibat energi panas yang keluar dari Keris Nagasasra. Melihat kejadian tersebut, Sunan Kalijaga meminta agar Ki Enom segera keluar dari dalam samudera. Sementara itu di luar para Bupati dan Punggawa yang melihat dari atas kaget dengan perubahan yang terjadi pada air laut.

Sembari memegang keris nagasasra dengan tangan kanan di acungkan ke atas, Ki Enom Supa keluar dari dalam samudera. Di atas para bupati sudah menyiapkan wadah gendhaga dari perunggu untuk tempat keris Nagasasra. Setelah di letakan di dalam wadah gendhaga dan di serahkan kepada sang Nata Wilatikta, Keris tersebut kemudian di tayuh untuk memastikan kebenaran dapur seribu seperti yang di wisikan oleh dewa.

Setelah di nyatakan kebenarnya setelah di tayuh, Nata Wilatikta kemudian memberikan nama Keris Luk Tiga Belas Dapur Nagasasra atau dapur seribu dengan nama Ki Segarawedang dengan dapur Dewa Nagasasra.

Nama segarawedang dikarenakan perbawa keris yang membuat samudera rob. Oleh sang nata Wilatikta, Ki Enom Supa kemudian di anugerahi putri sang nata sebagai istri dengan pangkat Bupati.

Keris Sengkelat dan Nagasasra oleh sang Wilatikta disabdakan, kelak akan menjadi ageman para nata di tanah jawa. / Jud

 

 

 

 

Follow Lokabali.com di Google News



Komentar

Berita Lain