oleh

Patung GWK Perpaduan Seni, Teknologi dan Science

-Jelajah, Spot-282 views

LOKABALI.COM – Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) pembangunannya sempat tertunda selama 28 tahun. Namun sekarang, patung setinggi 75 meter itu telah berdiri lengkap.

Perjalanan pembuatan patung yang diklaim melebihi tinggi patung Liberty di Amerika itu memiliki kesan tersendiri bagi I Nyoman Nuarta, sebagai kreator yang mencetuskan ide pembuatannya.

“Bali terwakili dari tiga negara yang punya ikon Garuda. Tapi Bali punya gambaran Garuda yang khas dari candi Trowulan,” jelas Nyoman Nuarta.

Material tembaga untuk pembuatan patung Garuda Wisnu menghabiskan 3.000 ton tembaga atau setara dengan 2,5 hektar lempengan tembaga. Patung tersebut sekaligus menjadi patung terbesar dan paling unik yang dibuat oleh manusia karena dengan memadukan seni, teknologi dan science.

Ide awal pembuatan patung Garuda Wisnu muncul di era pemerintahan Presiden Soeharto. Ketika itu, pematung asal Bali I Nyoman Nuarta bersama Joop Ave yang merupakan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Republik Indonesia era Orde Baru, menghadap presiden Soeharto.

Sedianya, pada masa itu, Mega proyek itu akan didanai oleh pemerintah. Namun krisis moneter tahun 1998 akhirnya memaksa rencana pembuatan patung Garuda Wisnu terhenti sampai 28 tahun. Hingga kemudian berlanjut kembali setelah ada kucuran dana dari pihak ketiga.

“Kami mencoba efisien di anggaran. Maka terciptalah ‘spiderman’ untuk memasang bagian-bagian patung, kalau menggunakan steger perlu dana sampai Rp 175 milyar,” jelas Nyoman Nuarta.

Sebelum dirancang untuk berdiri seperti sekarang, rupa GWK mengalami lima perubahan bentuk. GWK di Bali sekarang, berdiri setinggi 75 meter dengan pedestal setinggi 46 meter. Lokasi sekarang berada di atas bukit Ungasan setinggi 121 meter dari atas tanah dan 271 meter dari permukaan laut.

Rancangan pembuatan mega proyek Garuda Wisnu Kencana ini diawali di tahun 1993. Rencana ini diperbincangkan bersama dengan Gubernur Bali pada masa itu, Ida Bagus Oka dan mendapatkan dukungan dari Menteri Pertambangan dan Energi era Orde Baru, Ida Bagus Sudjana.

Di tahun 1994, dengan desain dan konsep yang lebih matang, rencana pembangunan GWK disetujui dan mendapatkan dukungan dari presiden Soeharto. Menurut Nyoman Nuarta, respon baik dari presiden Soeharto ditunjukkan dengan memberikan perintah kepada Ida Bagus Sudjana untuk mencari tenaga kerja.

Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, Joop Ave diberikan tugas untuk mencari anggaran. Demikian halnya, Tri Sutrisno juga terlibat dalam rencana pembangunan GWK.

Namun, era kemudian berubah yang dibarengi krisis moneter di tahun 1998. Rencana membangun GWK kandas seiring lengsernya Soeharto.

“Kemudian tanggungjawabnya kembali pada diri saya soal kelanjutan rencana pembangunan patung GWK. Janji dari Krakatau steel pada masa itu juga tidak terlaksana seiring krismon 1998,” jelas Nyoman Nuarta.

Gagasan mendirikan patung GWK pun mangkrak selama 28 tahun. Sampai akhirnya di tahun 2013, taipan The Ning King bersedia mengucurkan anggaran melalui perusahaan dibawah bendera PT Alam Sutera Realty Tbk.

Patung GWK dirancang dengan teliti dan memenuhi standar pelayanan publik. Berbagai solusi rekayasa diterapkan dari struktur tahan gempa hingga perhitungan menahan hembusan angin. Dari dua kali uji terowongan angin di Melbourne, Australia dan Toronto, Kanada, kulit patung akan hancur setelah mendapatkan hempasan angin dengan kecepatan 250 km per jam. (Way)

Komentar

Berita Lain