oleh

Puluhan Seniman Gelar Malam Tirakat Di Puncak Jabalkat

LOKABALI.COM-Puluhan seniman dan budayawan dari berbagai daerah di Soloraya yang tergabung dalam Majelis Dzikir dan Mocopat Njeng Sunan di Forum Budaya Luhur Surakarta, Senin malam (16/8) menggelar malam tirakatan memperingati hari kemerdekaan ke 76th di Petilasan Sunan Kalijaga di Gunung Jabalkat, Bayat, Klaten.

Acara malam tirakatan di isi dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan doa tawasul kepada para leluhur dan pahlawan yang telah gugur berperang di medan laga.

KSU-Pemogan

‘ Usai menggelar doa tawasul, dilanjutkan dengan membaca kidung tolak bala, agar pagebluk pandemi corona yang saat ini tengah melanda di berbagai daerah di Indonesia dapat segera berakhir ‘ Jelas Arif, salah satu anggota Lesbumi ( Lembaga Seni dan Budaya Muslimin ) yang bergabung dalam Majelis, Dzikir dan Mocopat Njeng Sunan.

Selain melantunkan tembang dan kidung pujian sholawat, acara malam tirakatan juga di isi babaran makna makna sesaji jajan pasar.

Malam tirakatan yang di selenggarakan Majelis dzikir dan Mocopat Njeng Sunan sebagai bentuk ekpresi nyata dalam memaknai hikmah kemerdekaan. Sebagai sebuah ungkapan rasa syukur di hari kemerdekaan atas berkah dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa melalui ikhtiar perjuangan yang harus mengorbankan jiwa dan raga.

Di gelarnya malam tirakatan di Gunung Jabalkat di karenakan tempat tersebut sarat dengan makna spirit tentang hidup.

Gunung Jabalkat menurut cerita tutur, merupakan petilasan Sunan Kalijaga yang kemudian di jadikan sebagai tempat siar oleh Sunan Pandanaran di sekitar tembayat. Di tempat tersebut selain terdapat surau kecil yang pernah di pakai untuk sholat Sunan Kalijaga, juga terdapat sebuah bangunan pedepokan terbuat dari kayu.

Tinggi puncak gunung Jabalkat dahulu kala konon di yakini lebih tinggi dari pada puncaknya saat ini.

Di kisahkan usai memperoleh wahyu kewalian, Sunan Panda aran atau Ki Ageng Tembayat tiap kali melantunkan adzan dari atas puncak gunung Jabalkat suaranya terdengar sampai ke Kerajaan Demak Bintoro.

Oleh Sultan Demak ia lantas di tegur karena di anggap menyombongkan kewalianya. Karena merasa bersalah, puncak Gunung Jabalkat kemudian di pangkas oleh Sunan Pandanaran dan di letakan di samping Gunung Jabalkat.

Pangkasan puncak Gunung Jabalkat tersebut kemudian di pakai sebagai tempat untuk memakamkan Sunan Pandanaran./Jk



Komentar

Berita Lain