oleh

Kepemimpinan Raja Raja Nusantara

LOKABALI.COM-Pemimpin ada bukan tanpa sebab. Banyak teori ilmiah mengulas teori kepemimpinan dari berbagai sudut pandang dan analis yang berbeda. Membangun karakter kepemimpinan dapat di proses pada suatu pendidikan formal dasar kepemimpinan, akan tetapi pemimpin yang lahir dalam suatu kondisi tertentu tidak dapat di bentuk dalam pendidikan formal. Ia ada karena tempaan alam, asuhan keadaan yang akhirnya melahirkan satu dari sekian juta orang yang di pilih oleh alam untuk menjadi seorang pemimpin.

Keterangan foto : Ilustrasi , Tradisi jumenengan raja di keraton Solo. / foto : istimewa

‘Terlebih lagi pemimpin yang lahir dari genealogi keturunan seperti halnya raja raja Nusantara. Mereka menjadi pemimpin karena (wahyu) secara turun temurun ada dalam garis keturunanya.’ Jelas Tokoh Budaya Nusantara, Kanjeng Pangeran Dr.H.Andi Budi Silulistyonegoro,SH,M.Ikom mengulas dasar kepemimpinan dari sudut pandang budaya Nusantara.

ITB-STIKOM-Bali

Penulis buku ‘ Komunikasi Politik Jokowi’ yang akrab di sapa Gus Andi ini mengatakan, Dalam pendidikan teori kepemimpinan lebih banyak di bangun karakter intelektual dan managemen organisasi. Namun hakikat kepemimpinan sebenarnya dalah memiliki jiwa besar, teguh pada pendirian, adil dan bijak dalam bertindak, asih kepada lawan dan kawan, menjaga kelestarian alam, serta memayu hayuning bawana.

Membangun kepemimpinan seperti itu tentu saja tidak bisa di lakukan melalui jenjang pendidikan formal, namun harus dijalani melalui laku spritual.

Dikatakan oleh Gus Andi, seorang pemimpin harus mampu menjadikan dirinya panutan untuk rakyatnya. Pemimpin harus mampu mendorong orang orang yang di asuhnya, berani berjalan di depan dan bertanggung jawab terhadap segala hal yang akan terjadi.

Dalam teori Great Man, seorang pemimpin besar yang di lahirkan dengan karakteristik tertentu seperti karisma, keyakinan, kecerdasan dan ketrampilan sosial, terlahir sebagai pemimpin alami. Great Man mengasumsikan pemimpin besar di lahirkan bukan di buat.

‘ Hal tersebut menegaskan jika pemimpin besar lahir karena kondisi yang membutuhkan dia untuk ada. Karakteristik dan kepribadian tertentu seperti halnya keberanian dan kepercayaan diri adalah teori sifat potensial seorang pemimpin, akan tetapi tidak semua orang seperti itu mau menjadi pemimpin.’ Ujar Ketua Yayasan Forum Indonesia Maju dan Berbudaya.

Teori karakter kepemimpinan adalah usaha dalam mengidentifikasikan karakteristik atau sifat-sifat khas yang dihubungkan atas keberhasilan seorang pemimpin. Karakteristik tersebut diantaranya intelegensi, kepribadian, karakter fisik, kemampuan pengawasan dan lainya.

Di tambahkan Dr. Andi Budi, teori kepemimpin di banyak negara tentunya jauh dengan teori kepemimpinan yang ada di Indonesia. Sebagai bangsa yang memiliki peradaban besar, Indonesia kaya dengan jutaan kebudayaan. Baik kebudayaan pembangunan, maupun peradaban sumber daya manusia. Ribuan candi yang tersebar di seluruh Nusantara adalah bukti kemajuan peradaban pembangunan. Begitupun peradaban manusia, Maha Patih Gajah Mada adalah bukti pesatnya pembangunan sumber daya manusia di bumi Nusantara kala itu.

Di era kolonialisme lahir pemimpin pemimpin besar revolusi seperti Sultan Agung Hanyakrakusuma, Pangeran Diponegoro, Panglima besar Jenderal Soedirman, Soekarno dan tokoh tokoh besar lainya. Mereka ada karena tuntutan keadaan, di lahirkan oleh alam.

Selama ribuan tahun Nusantara sudah memiliki pedoman filososi kepemimpinan yang di tulis dalam Serat Hastabrata.

Hastabrata sendiri berasal dari bahasa sansekerta yang artinya delapan perilaku atau pengendalian diri yang di dasari atas sifat sifat alam semesta. Kedelapan perilaku adalah karakteristik ideal dari seorang pemimpin. Istilah Hastabrata mengacu pada kitab Hindu berbahasa sansekerta, Manawa Dharma Sastra.

Konsep kepemimpinan di dalam Hastabrata sebenarnya mengadopsi unsur luhur para dewa. Namun seiring dalam perkembanganya dan masuknya Islam di bumi Nusantara, kedelapan unsur luhur tersebut di gantikan dalam symbol delapan unsur alam semesta.

Tranformasi sifat luhur para dewa dalam Hastabrata menjadi delapan unsur alam tercatat dalam naskah Pustakaraja purwa.

Dalam cerita pewayangan, Hastabrata pertama kali ada pada lakon Rama Tundung. Rama Regawa yang merupakan titisan Dewa Wisnu mengajarkan nilai luhur Hastabrata kepada adiknya Raden Barata, sebelum ia di nobatkan menjadi raja di Ayodya bergelar Prabu Barata.

Kedua saat Raden Rama Regawa mengajarkan kepada Wibisono sebelum akhirnya ia menjadi raja di Alengka yang kemudian berganti nama menjadi kerajaan Sindelo. Yang ketiga saat Prabu Kresna mengajarkan nilai luhur Hastabrata kepada Arjuna dalam lakon Wahyu Makutarama.

Wahyu Makutarama bukanlah berwujud benda melainkan petunjuk dewa perihal diturunkanya wahyu kerajaan. Konon diyakini dalam mitologi jawa, penerima Wahyu Makutarama akan menjadi sakti dan menurunkan raja raja di marcapada.

Untuk menerima Wahyu Makutarama pemimpin harus mengemban ajaran luhur Hastabrata. Sehingga kelak dalam keturunanya lahir para pemimpin pemimpin di marcapada.

‘ Selanjutnya dari Janaka ajaran luhur Hastabrata diturunkan kepada Angakawijaya, lalu Parikesit yang oleh masyarakat Jawa di anggap sebagai leluhur raja raja tanah Jawa.’ Tutup Gus Andi mengurai kepemimpinan nusantara./Jk



Komentar

Berita Lain