oleh

Yakini Dapat Membuat Awet Muda, Warga Serbu Air Sisa Jamasan Selambu Makam Pangeran Samodra Gunung Kemukus

-Budaya, Tradisi-2.955 views

LOKABALI.COM- Ratusan warga dari berbagai daerah, Sabtu pagi (30/7) memenuhi pelataran makam Pangeran Samodra di Gunung Kemukus untuk berebut air bekas rendaman selambu pada saat upacara ritual Larab Selambu dari makam Pangeran Samodra.

Keterangan gambar : Kain selambu penutup makam Pangeran Samodra yang di kirabkan mengitari Gunung Kemukus / Foto: Lokabali

‘ Tradisi larab selambu di gelar setiap tahun sekali, bertepatan pada hari pertama bulan sura dalam penanggalan Jawa’ Jelas Tini, warga kemukus yang setiap hari berjualan makanan di kios depan makam Pangeran Samodra.

Di bandingkan dengan masa sebelum pandemi, tahun ini menurut Tini relatif sedikit warga yang datang berebut air sisa jamasan.

Keterangan gambar : Tokoh spiritual asal Jogja, Aryo Jati ( Gus Aryo) /foto: lokabali

Tradisi ritual larab selambu secara resmi di buka oleh Bupati Sragen, Dr. Hj. Kusdinar Yuni Untung Sukowati.

Ritual larab selambu di awali dengan pelepasan selambu dari makam Pangeran Samodra. Selanjutnya kain selambu di kirab mengelilingi Gunung Kemukus, kemudian di cuci di sebuah tempat khusus di depan makam Pangeran Samodra.

Tujuh buah ember besar berisi air dan bunga setaman di siapkan untuk mencuci kain selambu. Usai di cuci kain selambu kemudian di bawa ke makam Pangeran Samodra untuk di pasangkan lagi. Sedangkan air bekas cucian selambu oleh warga di jadikan rebutan untuk keperluan ngalap berkah. Di yakini air tersebut mampu membuat seseorang awet muda karena di ambil dari Sendang Ontrowulan.

Selain diyakini dapat membangkitkan aura awet muda, air sisa jamasan juga kerap dijadikan sarana oleh masyarakat yang meyakini untuk pelarisan usaha dan menyuburkan lahan pertanian.

Semua tergantung dari keyakinan seseorang masing masing, hal itu di sampaikan oleh tokoh spiritual asal Jogjakarta, Aryo Jati.

Pria yang akrab di sapa Gus Aryo ini menyampaikan, air sisa jamasan hanyalah sebatas perantara dari ihtiar manusia. Di karenakan hal yang paling utama dalam berihtiar adalah doa kita kepada Allah SWT.

‘ Sedangkan usaha adalah upaya yang harus dilakukan oleh manusia saat memiliki suatu hajad’ Jelas Gus Aryo dalam keteranganya.

Sebagai umat beragama kita di larang keras mendasarkan keberhasilan dan kesuksesan karena benda benda keramat. Semua keberhasilan yang kita peroleh adalah berkah dan rahmat Allah SWT melalui ihtiar yang sudah kita lakukan.

Oleh karena itu dalam setiap upacara adat, sebelum prosesi acara ritual di lakukan, tetua adat lebih dulu berdoa sebagai ungkapan wujud rasa syukur, sekaligus memohon ridha dan berkah keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagai umat manusia kita harus menjaga hubungan vertikal dan horisontal. Hubungan antara manusia dengan Tuhan Sang Maha Pencipta, dan manusia dengan alam semesta sebagai bentuk menjaga keselarasan dan kelestarian seluruh isi alam semesta ( Memayuhayuning bawana ).

Tokoh spiritual Aryo Jati katakan, tradisi adat larab selambu merupakan wujud ungkapan rasa syukur yang di sampaikan melalui pagelaran budaya. Perwujudan tersebut merupakan bentuk keihklasan manusia dalam menjaga hubungan dengan Tuhan Sang Maha Pencipta.

‘ Ngalap berkah dalam sebuah upacara adat, merupakan tradisi masyarakat Nusantara yang memahami betul jika sebuah keberhasilan pastilah melalui proses perantara atas anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa ‘ Tukas Gus Aryo dalam urainya. / Jud

 

 

 

Follow Lokabali.com di Google News



Komentar

Berita Lain