oleh

Taman Sriwedari Riwayatmu Dulu

-Nusantara-2.465 views

LOKABALI.COM-Taman Sriwedari, jejak sejarah masa lalu di Kota Surakarta kini hanya tinggal kenangan saja. Tak seperti wajah taman Sriwedari di masa silam yang menjadi ruh dari keberadaan Kota Surakarta.

Dikisahkan dalam Serat Arjunasasra, Sriwedari merupakan taman buatan milik Prabu Arjunasasra yang keelokannya tiada beda dengan taman-taman yang ada di surga, karena di buat langsung oleh Sang Hyang Batara Wisnu.

Sementara itu Taman Sriwedari di Kota Surakarta sebagaimana di ceritakan, sepulang dari lawatanya ke Ponorogo, Sinuhun Pakubuwana II di Kartasura mendapati keratonnya dalam keadaan rusak berat akibat pemberontakan cina.

Sinuhun bertitah untuk segera menyiapkan tempat yang tepat dan memadai untuk pindah keraton. Dari para utusanya di jumpailah tempat tersebut  yakni Dusun Sala. Nama Sala sebenarnya mengacu pada nama seorang tokoh setempat,  abdi dalem jajar Ki Busala. Letaknya di ujung tenggara benteng keraton. Di situ kita masih dapat menemui petilasan makam Ki Busala yang kerap dikunjungi para peziarah untuk tirakat.

Penetapan titik awal pembangunan keraton konon dilakukan dengan patokan  langkah gajah Sinuhun. Di manapun langkah tersebut berhenti, di situlah titik awal pembangunan keraton akan ditancapkan.

Dari Kartasura langkah gajah sinuhun di bebaskan sembari diiringi para abdi dalem melenggang ke timur hingga berhenti dan  bergeming di satu titik. Titik bergeming sang gajah saat itu menurut cerita orang-orang tua dahulu, tepatnya berada di selatan Loji Sriwedari yang  dikenal sebagai Balekambang.

Di radius kanan-kirinya kemudian ditetapkan sebagai bakal keraton. Pohon beringin pun ditanam sudah. Nama Dusun tersebut adalah Kadipala dan sampai sekarang masih ada.

Akan tetapi kemudian bergeser setelah adanya ramalan yang menyatakan bahwa jika dibangun di Kadipala maka keraton terancam tidak akan langgeng. Setelah di geser ke timur maka di temukan titik pendirian keraton yang tak lain adalah Dusun Sala.

Ikhwal Dusun Kadipala dan titik gajah selanjutnya tidak disebut lagi. Kanan kirinya mulai berkembang pesat, menjadi permukiman yang sangat luas.

Pada masa Sinuhun Keraton Surakarta bertakhta, lahan Taman Sriwedari hanya tiga bagian. Di sisi timur dan belok terus ke selatan merupakan pemukiman milik keraton. Di situ dapat di jumpai loji agung yang sekarang sudah dialihfungsikan menjadi museum.

Loji tersebut konon dibangun oleh Tuan Susman. Tidak lama setelah ditempati warga Belanda, loji kemudian dikosongkan cukup lama karena dianggap sangat angker.

Sekali waktu Kanjeng Pangeran Arya Mangkudiningrat pernah menempatinya hingga beberapa tahun, tapi setelah itu kosong lagi. Di sisi barat loji agung adalah rumah milik Ki Padmasusastra. Ketika masih tinggal di sana, Ki Padma dan rumahnya menjadi tempat belajar-mengajar kesusasteraan Jawa. Tempatnya dijuluki Lamongan, diambil dari nama cikal-bakal penghuninya yang bernama Mas Ngabei Lamong.

Makin ke barat lagi ada rumah Mas Ngabei Karyadongsa yang tertutup lebatnya semak bambu ori, hingga susah terlihat dari luar.

Segera setelah lokasinya ditetapkan sebagai bakal taman raja (Sriwedari), orang-orang yang bermukim diperintahkan untuk pindah. Sedangkan yang ditunjuk untuk mewujudkan, sekaligus yang memberi nama taman tersebut adalah Kanjeng Raden Adipati Sasradiningat alias Kanjeng Ngendrapastha.

Pada awal dibangun, hampir semua tanaman yang ada di dalam semuanya masih baru. Saat itu Taman Sriwedari terasa panas sekali. Akan tetapi seiring dengan berjalanya  waktu, panoramanya menjadi semakin elok hingga mirip keelokan taman Sriwedari.

Lebih-lebih di sana dilengkapi pula dengan museum berisi barang-barang kuno dan Jawa tulen, taman pustaka berisi buku-buku yang bebas dibaca, serta aneka fauna. Bisa dipastikan Sriwedari telah menjadi tempat hiburan favorit.

Siapa pun yang datang ke Taman Sriwedari dijamin tidak akan kecewa. Kalau lapar sudah ada penjual berbagai ragam jenis makanan. Manakala akhir pekan tiba atau saat Sriwedari dijadikan sebagai panggung hiburan, banyak orang akan datang menyaksikanya. Sehingga  mengundang decak kagum siapapun orangnya. .

Terdapat sebuah pulau di tengah telaga nan indah yang airnya jernih. Bunga tunjung berbunga menawan yang terapung-apung membuat telaga menjadi makin tampak indah. Di tengah pulau menjulang huma yang teduh karena dirindangi pohon-pohon besar. Jalan menuju ke sana dibuat melengkung dengan cantiknya. Selain itu, pulau dilengkapi dengan goa di atas kolam dan arca yang tampak mengapung di air.

Semua seakan mengisyaratkan bahwa di situlah tempatnya orang bersuka-ria.
Barangsiapa yang ke Sriwedari pada akhir pekan, sudah pasti terhibur perasaannya. Betapa tidak, ada banyak hiburan bagus dan menyenangkan. Suara band mengalunkan musik yang dipadu oleh lembutnya semilir angin segar bisa memabukkan sekaligus membuat mata mengantuk.

Paduan semua rasa nikmat itu seakan-akan menciptakan ekstase. Tetapi, berhubung itu tempat hiburan, rasa semacam ekstase tersebut berganti dengan rasa ingin tidur saja.

Jadi bisa dibilang siapa pun orang dari luar daerah, apabila bertandang ke Surakarta tapi belum melihat Sriwedari dengan mata kepala sendiri, sama artinya dengan belum mengenal “jiwa”-nya Surakarta.

Sumber: Kajawèn, Balai Pustaka, 28 Maret 1928, hlm. 486-8 . Yasri Surakarta

Follow Lokabali.com di Google News



Komentar

Berita Lain