oleh

Mematangkan Karakter Peran, Dhea Imut Pelajari Harmonisasi Kehidupan Beragama di Kampus ITB STIKOM Bali

LOKABALI.COM – Jejak Islam di Bali akan diangkat dalam sebuah film dokumenter yang digarap oleh sineas Massayu Chairini. Film itu menggambarkan harmonisasi kehidupan umat bergama di Bali. Film itu mengangkat harmonisasi kehidupan beragama di Bali.

Massayu Chairini melibatkan sang putri yang juga artis peran Claudia Annisa atau akrab dipanggil Dhea Annisa atau Dhea Imut. Untuk memperkuat karakter, Dhea menggali materi yang akan diperankannya dari pengampu organisasi mahasiswa di ITB STIKOM Bali.

ITB-STIKOM-Bali

“Kami bertemu organisasi mahasiswa di ITB STIKOM Bali untuk mempelajari harmonisasi kehidupan antar umat beragama di kampus. Film ini membawa pesan baik bagi publik,” kata Dhea di Kampus ITB STIKOM Bali, Senin, 31 Mei 2021.

Massayu Chairini, sebagai produser dalam film layar lebar itu telah melakukan survei ke sejumlah Desa di Bali yang mayoritas berpenduduk Muslim. Desa-desa itu nantinya akan dijadikan sebagai lokasi syuting.

Perpaduan kultur Hindu dan Islam di Bali itu, kata Massayu akan menjadi cerita utama.

“Di situlah kami ingin menggambarkan bagaimana kehidupan masyarakat, toleransi bergama antara umat Hindu dan Islam di desa tersebut. Bahkan Dea sendiri akan berperan sebagai gadis Bali yang jatuh cinta dengan pemuda Islam,” kata Massayu Chairini.

Sementara, Ketua Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Bali KH Imam Asrorie mengatakan, akulturasi budaya melahirkan semangat toleransi kehidupan umat beragama. Terutama, eksisteni kultur Islam dan Hindu di Bali yang dapat ditelusuri sejak abad ke-13. Islam pertama kali masuk ke Bali melalui Desa Gelgel, Kabupaten Klungkung.

Akulturasi budaya ini melalui beberapa cara. Pertama, proses geneologi atau asimiliasi perkawinan. Kedua, proses kekerabatan secara alamiah sebagai akibat dari asimilasi perkawinan.

Ketiga, proses identitas nama misalnya Nyoman, Made, Ketut yang diikuti dengan nama Islam seperti Abdullah. Keempat, proses pembauran dalam kehidupan.

“FPSI Bali ingin memperkuat kembali harmonisasi seperti yang telah dilakukan para raja terdahulu terhadap komunitas Islam pada masa itu, dan sekarang dilanjutkan oleh keturunan mereka,” kata Imam Asrorie.

“Bali ini daerah tujuan wisata dunia, jadi syaratnya harus tetap damai,” tambahnya.

Sementara, Wakil Rektor 1 Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB STIKOM Bali Ida Bagus Suradarma, SE, M.Si menambahkan, mengenai kehidupan beragama di kampus berjalan wajar.

“Semua mahasiswa apapun agamanya berbaur dengan harmonis, semua kegiatan ekstrakurikuler melibatkan mahasiswa dari berbagai agama. Kegiatan keagamaan berjalan lancar lancar saja,” kata Suradarma. (Ros)



Komentar

Berita Lain