LOKABALI.COM- Setiap tahun masyarakat Jawa selalu menyambut bulan sura dengan berbagai ritual adat dan tradisi. Penyambutan tersebut sebagai upaya perenungan diri dari laku hidup satu tahun yang telah terlewati.
Oleh karenanya, ritual adat yang di lakukan selama bulan sura lebih banyak sebagai bentuk perenungan dan mawas diri. Melakukan pendekatan kepadaTuhan Yang Maha Esa, agar tahun yang akan dilewati masyarakat Jawa senantiasa diberikan kekuatan dan kesehatan, jauh dari segala marabahaya.
Sementara itu bagi masyarakat Jawa sendiri, bulan suro merupakan bulan keramat, dikarenakan segala upacara adat dan tradisi yang berkaitan dengan nilai nilai ketuhanan lebih banyak di lakukan pada bulan suro.

‘ Oleh karena itu, segala tradisi hajatan dan suka suka. Disarankan oleh leluhur leluhur kita agar jangan di gelar pada bulan sura ‘ Kata tokoh budaya Nusantara, KP. Dr. H Andi Budi S, SH,.M.Ikom.
Pria yang akrab di sapa Gus Andi ini mengatakan, larangan tersebut bukan berarti bulan sura tidak baik untuk menyelenggarakan hajatan, akan tetapi di dalam melakukan perenungan, hendaknya kita menjauhkan diri dari segala keinginan nafsu. Sehingga kita akan memiliki rasa ihklas.
Selama bulan sura aktifitas kerohanian kerap di lakukan di tempat tempat keramat dengan alasan, tempat tersebut diyakini memiliki energy spiritual alam semesta. Sehingga di dalam perenungan, manusia dapat menyatu bersama alam semesta. Memahami dan merasakan betapa besar nikmat Allah yang sudah di berikan kepada kita semua.
Penggunaan sesaji dalam upacara adat adalah bentuk simbol dan bahasa rasa yang di sampaikan melalui makna makna di dalamnya.
Sedangankan kirab malam satu suro yang di selenggarakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta menurut Sentana Dalem Riya Inggil ini, sebagai upaya mengungkapkan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
‘Agar Keraton Kasunanan Surakarta beserta para kawulanya, senantiasa di jauhkan dari mara bahaya dan di berikan berkah kemakmuran. Umunya bangsa dan negara Indonesia’ Ujarnya / Jk












Komentar