Sesampainya di Pasetran, Empu Baradah melihat putrinya merebahkan badan menelungkupi tanah tempat jasad sang ibu di kuburkan. Duduk bersila di atas batu di samping putrinya, Mpu Baradah berkata,
’ Kematian adalah takdir manusia yang harus di jalani setiap orang. Setiap manusia kelak juga akan mati menuju Hyang Tunggal. Ihklaskanlah ngger anaku.’. Ujar Mpu Baradah menasehati putrinya dengan penuh kasih sayang.
Mendengar nasehat orang tuanya, Wedawati sadar, ia kemudian mau diajak kembali pulang kerumah. Sekembalinya di rumah, Wedawati menyibukan dirin dengan belajar ilmu dan bertapa. Hingga berbulan bulan lamanya kehidupanya tenteram tak ada masalah.
Sampai pada suatu hari peristiwa keributan dengan ibu tirinya kembali terulang , kali ini ia merasakan sangat sakit hati.
Seperti kebiasaan sebelumnya, jika hatinya pilu Wedawati pergi ke makam ibunya. Dia menangis memohon hidupnya di akhiri agar bisa bersatu dengan sang ibu. Empu Baradah yang mengetahui keributan putrinya dengan ibu tirinya lantas menyusul ke kuburan.
Kepada sang ayah, Wedawati menyampaikan jika dirinya enggan kembali pulang ke Pasraman, ia memilih tinggal di pasetran di samping makam ibunya. Mendengar perkataan putrinya, Empu Baradah lantas meminta masyarakat membuat gubuk sebagai tempat tinggal putrinya.
Gubuk yang semula hanya menjadi tempat berteduh, lambat laun di bangun semakin bagus. Tak ubahnya seperti sanggar pamujan.
Hidup dengan penuh ketenteraman di tempat yang baru, Wedawati setiap hari tekun melakukan puja brata dan bertapa memperdalam ilmu keutamaan.
Sementara itu diKerajaan Daha, Prabu Erlangga tampak tengah duduk di singgasana mendengarkan laporan para punggawa kerajaan tentang kondisi rakyatnya . Raja Erlangga meminta laporan hasil tugas prajurit yang mengemban perintah mendatangi Desa Dirah, tempat tinggal Calon Arang .
Calon Arang merupakan janda sakti. Ia mempunyai pusaka berupa kitab yang berisi tentang ilmu kesaktian tingkat tinggi. Kitab tersebut sangat sempurna, sebab di dalamnya berisi hal yang baik dan buruk. Bagi Calon Arang, kitab tersebut tak hanya pusaka, namun juga jiwa bagi dirinya.
Di kediamanya di Desa Dirah, Calon Arang mengajar ilmu kesaktian kepada para murid muridnya, Ia memiliki seorang putri berparas ayu bernama Retna Manggali. Hanya saja meski Wedawati sudah beranjak dewasa, tak satupun ada laki laki yang berani mendekatinya, apalagi meminangnya. Para pria takut dengan kemarahan ibunya yang di kenal bengis, gemar menebar teluh kematian. Sebab siapapun orangnya yang berurusan dengan Calon Arang di pastikan akan menemui ajal.
Baca juga : Kolaborasi Kebudayaan Jawa Bali dalam Satu Cita di Pura Mangkunegaran






Komentar