oleh

Cerita Calon Arang, Ratu Teluh Dari Dirah (Bag.I)

-Cerita-4.320 views

Dan benar adanya, tak selang lama Nyai Baradah menghembuskan nafas  terakhirnya dalam dekapan putri semata wayang yang sangat mencintainya. Jasad halus Nyai Baradah terbang menuju Nirwana,  alam pelanggengan tempat para dewata berada.

Melihat kematian ibunya, air mata  Wedawati semakin deras mengalir. Tangis pilu terdengar di Pasraman Lemah Tulis. Kedua tangan Wedawati merangkul jasad ibunya, seakan enggan berpisah meski maut sudah datang menjemput nyawa ibunya.

‘ Duhh ibu, begitu tega engkau pergi meninggalkan anakmu, siapa yang akan mengasihiku. Duh Dewa jagat batara, ijinkan aku mati menyusul ibuku’, jerit Wedawati pilu.

Kesedihan yang di alami Wedawati sejak di tinggal mati ibunya berlarut hingga berhari hari. Ia enggan meninggalkan pasetran tempat jasad sang ibu di kuburkan.

Melihat kondisi putri semata wayangnya yang terus larut dalam kesedihan, Mpu Baradah dengan sabar mengajak putrinya kembali pulang ke Pasraman. Meski dengan rasa berat hati, akhirnya Wedawati menurut ajakan ayahnya.

Tanpa terasa sejak peristiwa kematian ibunya, rasa sedih di dalam hati Wedawati sedikit demi sedikit mulai hilang. Hanya sewaktu waktu saja ia merasakan sepi dan rasa kangen pada ibunda tercintanya.

Tak lama sejak kepergian istrinya, Mpu Baradah kemudian menikah lagi dan tinggal bersama istrinya yang baru di Lemah Tulis. Di pernikahan keduanya ini, Empu Baradah di karuniai seorang putra laki laki. Seiring dengan berjalanya waktu, semakin hari ia semakin bertambah besar.

Pada suatu hari saat Empu Barada mengajar sesembahan sesaji kepada para murid muridnya di pertapan Wisamuka, Wedawati bertengkar dengan ibu tirinya. Hatinya sakit mendengar ucapan yang menyinggung perasaanya.

Sambil menangis sesenggukan meneteskun air mata, Wedawati pergi meninggalkan rumah ke pasetran, tempat jasad sang ibu di makamkan. Sesampainya di pasetran, Wedawati kaget melihat tiga ada orang  tergeletak di tanah di bawah pohon beringin.

Tampak seorang wanita paruh baya mati tergeletak di tanah. Tubuhnya di kerubuti semut. Di atas dada perempuan itu, seorang anak kecil mendekap  menetek ibunya yang sudah mati.

Melihat pemandangan pilu yang sangat menyedihkan, kesedihan Wedawati seketika  sirna. Ia merasakan masih ada yang jauh lebih pilu dari kesedihanya. Kematian mengenaskan orang orang di pasetran tak lain akibat ulah teluh yang di lakukan Calon Arang..

Sementara itu sepulang dari pertapaan, Empu Baradah tak melihat putri kesayanganya. Ia bertanya kepada istrinya dan di beritahukan , jika Wedawati bertengkar dengan adiknya, lalu pergi meninggalkan rumah tanpa pamit. Mendengar ucapan istrinya, Empu Baradah lantas menyusul putrinya ke pasetran .

Follow Lokabali.com di Google News



Komentar

Berita Lain