LOKABALI.COM-Tembang pripih dandanggula tandai puncak perayaan ulang tahun ke 47th SMAN 6 Surakarta, yang di lakukan dengan acara pemotongan tumpeng oleh para alumni tahun 80an.
Tembang pripih dandanggula yang di bawakan komunitas Niki Jawa Mligi menceritakan tentang perubahan jaman yang mulai menggeser nilai nilai budi pekerti dan penalaran sehingga akan menyeret manusia ke dalam kekacauan, yang semua itu akibat ulah manusia.

Karena memaksakan dorongan nafsu serakah dan angkara, akibatnya alam menjadi rusak. Oleh karena itu perlunya menumbuhkan kembali kesadaran anak anak bangsa kepada negeri pertiwi, agar alam kembali lestari. Menjadi rumah bagi seluruh mahkluk hidup ciptaan Tuhan.
‘ Terciptanya keselarasan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan Sang Maha PenciptaNya.’ Jelas Ki Lawu Warta, pegiat budaya jawa asal Solo dalam uraianya.
Baca juga : Griya budaya kemuning gelar sedekah hersamirana di sepaprin
Berbagi kasih sayang mewujudkan rasa adil yang di dasari saling mengenal dan memahami sebagai handai taulan, dengan bersungguh sungguh menauladani kasih Tuhan terhadap seluruh mahkluk ciptaanNya.
Melalui keselarasan kasih sayang manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan Sang Maha PenciptaNya, kesejahteraan alam semesta akan terwujud. Air dan udara sebagai sumber kehidupan pemberi kesejahteraan akan lestari di negeri pertiwi.
‘Kesejahteraan bersama akan terpelihara, sebagai pengejawantahan Memayu Hayuning Bawana’, Jelas Ki Lawu Warta
Andreas Tukimin, alumni SMAN 6 Surakarta yang juga ketua komunitas Niki Jawa Mligi menyampaikan, acara penanaman pohon yang di kemas melalui kegiatan budaya Sedekah Hersamirana di SMAN 6 Surakarta akan menjadi salah satu rangkaian acara milad ke 47th.
Sedekah Hersamirana kata Andreas Tukimin, merupakan bahasa simbol dalam situasi yang sangat penting dan mendesak, sehingga tidak dapat di jelaskan melalui kata kata, namun tersampaikan melalui bahasa alam.
Sebuah komunikasi yang mampu menembus tanpa batas ruang dan waktu sehingga mampu di serap oleh semua mahkluk hidup di alam semesta.
Pohon di istilahkan kayon atau kehendak yang merupakan gambaran pandangan hidup kaweruh sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu, Sikap hidup masyarakat Nusantara yang menjunjung tinggi nilai keluhuran dan adi luhung budaya bangsa.
Pohon sebut alumni 89 SMAN 6 Surakarta ini, di katakan juga sebagai simbol sang pertapa suci. Sebab pohon tidak hanya menyimpan air sumber kehidupan bagi umat manusia, namun juga menyediakan oksigen bagi kehidupan seluruh mahkluk di jagat raya.
Merti bumi, sedekah bumi, merti desa dan berbagai budaya kearifan yang ada di tengah masyarakat bukanlah sebuah acara yang memberhalakan kegiatan religi, akan tetapi sebuah proses kesadaran kolektif universal dalam menjaga keselarasan dan kelestarian seluruh isi alam semesta.
Oleh karena itu penanaman pohon dalam sedekah Hersamirana sebagai upaya membangun kesadaran terhadap para generasi muda, pentingnya air dan udara bagi keberlangsungan mahkluk hidup ciptaan Tuhan. / Tok




















Komentar