LOKABALI.COM – Klenteng Caow Eng Bio diperkirakan berdiri tahun 1548, atau hanya dua dekade setelah Kerajaan Majapahit runtuh pada 1527. Meski tidak memiliki bukti historis, namun Klenteng ini dikisahkan sudah ada sejak masa Kerajaan Badung 1548.
Kunjungan umat dari seluruh wilayah di Bali terlihat sejak pagi hari. Pengurus Klenteng akan memberikan kesempatan umat untuk berdoa hingga pukul 22.00 WITA.
“Kegiatan kalau hari raya Imlek ya seperti ini. Umat datang silih berganti bersembahyang, kita buka sampai pukul sepuluh malam, tapi kalau masih ada yang datang, bisa jam dua belas malam baru kita tutup,” kata Ketua Pengurus Klenteng Caow Eng Bio Juanda Aditya.
Dia menambahkan, kunjungan ke Klenteng Caow Eng Bio terjadi dua kali. Menjelang Imlek, Senin (16/2/2026) malam, umat yang datang kebanyakan berasal dari luar Bali, atau wisatawan dari Jakarta dan Surabaya.
Pada malam Imlek, menurut Juanda, juga ada persembahyangan yang dimulai pukul 23.40 WITA hingga memasuki hari H Hari Raya Imlek pukul 00.05 WITA.
“Kalau normalnya, di luar Imlek, tujuh puluh persen umat yang datang berasal dari luar Bali. Mungkin mereka bersembahyang sekaligus berwisata,” kata Juanda.
Dalam setiap momen tahun baru Imlek, pengurus menyiapkan 1.000 ikat dupa untuk bersembahyang. Setiap umat menyalakan satu ikat dupa yang berisi 35 batang.
Dari situ menurutnya, dapat diketahui jumlah umat yang berkunjung untuk bersembahyang.
“Tahun ini belum diketahui jumlahnya, tapi tahun lalu ada 700 orang yang datang. Karena dari seribu ikat dupa yang kita siapkan, habis 700 ikat,” ujarnya.
Akulturasi budaya terlihat kental dari ratusan umat yang melakukan persembahyangan. Mereka ada yang mengenakan busana adat Bali dengan kebaya berwarna merah. Juanda mengatakan, pihaknya tidak membatasi latarbelakang umat yang akan bersembahyang.
Pihaknya juga tidak mengeklaim bahwa Klenteng Caow Eng Bio merupakan tempat peribadatan umat Tri Dharma.
“Siapapun boleh datang ke sini untuk bersembahyang, kami tidak bisa melarang keyakinan mereka. Bahkan untuk umat lintas agama sekalipun, ada juga yang datang untuk bersembahyang,” ujarnya.
Sebagai Klenteng yang ada di pesisir, di sisi Utara Tanjung Benoa, dewi tepi laut atau Shui Wei Sheng Niang, memiliki posisi tertinggi dari tingkatan dewa dewi.
Bahkan, figur dewi lautan itu diyakini sebagai tuan rumah di Klenteng Caow Eng Bio. Namun, menurut Juanda, Thian Kong sebagai manifestasi Ketuhanan menjadi tempat pemujaan utama dan pertama dari setiap umat yang bersembahyang. (Jeane)


















Komentar