oleh

Asal Usul Nama Kampung Sondakan

-Cerita-2.385 views

LOKABALI.COM-Banyak orang tak pernah menyangka jika nama kampung yang ada di Solo saat ini memiliki kaitan erat dengan peristiwa sejarah masa lalu. Baik di masa Kasultanan Pajang maupun  peralihan Mataram Islam Kartasura dan Kasunanan Surakarta.

Kampung Laweyan, Pajang dan Makamhaji sudah ada sejak era Kasultanan Pajang.

Di masa pemerintahan Sunan Amangkurat Kartasura Makamhaji merupakan kawasan pinggiran, sehingga Sunan Amangkurat menyebut masyarakat yang bermukim di daerah tersebut dengan sebutan orang pinggiran.

Berbeda pada masa Kasultanan Pajang, kawasan Makamhaji, Laweyan, Sondakan dan sekitarnya merupakan kawasan kota praja. Hal itu dapat kita lihat dari jejak peradaban masa silam yang saat ini masih dapat kita temukan di daerah Pajang, Laweyan dan Sondakan.

Di daerah Pajang kita masih mengenal nama Lor ing pasar, sebuah sebutan yang dulu pernah di berikan oleh Sultan Hadiwijaya kepada Danang Sutowijaya . Begitu juga dengan nama Laweyan, kampung ini sudah ada sejak jaman Kasultanan Pajang.

Dalam manuskrip babad Pajang di ceritakan, Ki Ageng Henis di beri kekuasaan oleh Sultan Hadiwijaya  menjadi pembesar di daerah Laweyan, sehingga akhirnya di kenal juga dengan sebutan Ki Ageng Laweyan.

Pun juga kampung Sondakan, banyak petilasan di era Kasultanan Pajang yang masih dapat kita lihat  di kampung Sondakan.  Salah satunya adalah makam patih Mas Manca dan para pembesar Pajang yang ada di makam Mutihan, Sondakan, yang di kenal warga sekitar dengan sebutan makam mbah putih.

Di komplek pemakaman tersebut masih banyak kita temukan jirat atau nisan nisan kuna di masa peralihan Pajang ke Mataram. Begitu juga asal usul nama kampung Sondakan, tak lepas dari cerita sejarah perpindahan Keraton Mataram Kartasura ke Surakarta.

Prosesi perpindahan Keraton Kartasura ke Surakarta tentu banyak peristiwa yang tidak tercatat dalam sejarah. Rangkaian peristiwa tersebut di simpan dalam tutur sesepuh yang di sampaikan secara turun temurun di dalam lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika dalam sebuah sejarah kita banyak mengenal sumber literasi seperti manuskrip, cerita tutur sejarah, cerita tutur legenda, tutur sesepuh dan sumber literasi lainya.

Menurut pegiat budaya dan sejarah Yayasan Forum Budaya Mataram, R. Surojo, nama Kampung Sondakan di berikan oleh PB II.  Saat peralihan Keraton Kartasura ke Desa Sala, Sinuhun PB II beserta kerabat , para punggawa dan abdi dalem menempuh perjalanan dari Kartasura ke Desa Sala.

Setibanya rombongan di sebuah pertigaan jalan, PB II meminta kepada seluruh pengikutnya untuk istirahat menghilangkan lelah.

Ki Sondaka, sesepuh kampung sekitar yang melihat PB II dan rombongan  kelelahan,  lantas mencari buah kelapa di persembahkan untuk minum PB II dan para pengikutnya. Dalamperilaku sikap masyarakat jawa di sebut munjungake. Berawal dari peristiwa tersebut, pertigaan di daerah Laweyan lantas di kenal dengan nama  Jungke dari kata Munjungake.

Mengingat jasa Ki Sondaka waktu itu, Sinuhun lantas memangginyal ke keraton dan di beri hadiah pangkat abdi dalem panewu dengan nama Mas Ngabehi Singondoko.

Sinuhun PB II juga memberikan sebutan nama kampung tempat  Ki Sondaka menetap dengan nama Kampung Sondakan, agar masyarakat mengetahui tempat tinggal Ki Sondaka yang berganti nama menjadi Mas Ngabehi Singondoko.

/Tok

 

 

 

Follow Lokabali.com di Google News



Komentar

Berita Lain