oleh

Warga Tionghoa Solo Iringi Kepergian Para Arwah Melalui Sembahyang King Hoo Ping

-Tradisi-1.067 views

LOKABALI.COM- Tradisi sembahyang King Hoo Ping atau sembahyang rebutan, Minggu siang 910/9) di gelar ratusan umat Konghucu yang tergabung dalam  jemaat  MAKIN ( Majelis Agama Khonghucu Indonesia ) di Kota Surakarta.

Keterangan gambar : Altar sesaji sembahyang King Hoo Ping / Foto: Lokabali

Upacara sembahyang doa yang di peruntukan bagi arwah para leluhur dan arwah yang tidak mendapat perhatian dari keluarganya, di gelar  dihalaman  Klenteng  MAKIN, Solo, bertepatan pada tanggal 26 bulan 7 tahun 2574 dalam penanggalan Imlek.

baca juga : Melawan lupa maklumat Sinuhun Negeri Surakarta

Dikisahkan oleh  pendeta  Ws. Adjie Chandra, menurut legenda konon pada bulan 7 Imlek atau Jit Gwe pintu akherat dibuka untuk para arwah  turun ke dunia menengok sanak keluarganya.

Sementara itu di dunia, sebagai bentuk penyambutan dan pengenangan para arwah leluhur yang datang menengok sanak keluarganya,  masyarakat Tionghoa menyambut  para arwah dengan doa di rumah mereka masing masing.

Di akhir Jit Gwe sebelum para arwah kembali pulang ke alamnya, masyarakat Tionghoa menutup ritual keagamaan tersebut dengan melakukan sembahyang King Hoo Ping. Sebagai simbol penghormatan terakhir mengantar kepergian mereka kembali kealamnya.

Sarana pengantar arwah leluhur kealam ruh di wujudkan dengan simbol kayu kertas sepanjang 3,5 meter yang di dalamnya berisi nama nama para arwah.

Baca juga : Mencontoh nilai nilai luhur dari haul Sultan Agung Hanyakrakusuma

Follow Lokabali.com di Google News



Komentar

Berita Lain