oleh

Gus Aryo, Filosofi Makna Sekaten Dalam Setiap Simbol Yang Ada

-Tradisi-1.277 views

LOKABALI.COM- Kedatangan Walisongo di pulau jawa dalam menyebarkan islam tidak hanya melalui siar dan dakwah, datang dari satu daerah ke daerah lain melebur bersama masyarakat, akan tetapi juga menggunakan simbol simbol sesaji sebagai bahasa siar agar mudah di terima dan disampaikan kepada masyarakat.

Simbol simbol tersebut sampai saat ini masih ada dan lestarikan dalam berbagai perayaan tradisi adat, seperti halnya perayaan sekaten yang di gelar di halaman masjid agung Surakarta yang jatuh pada bulan mulud dalam penanggalan jawa.

Baca juga : Kanjeng Ratu PB XIII Hadiri Haul Ki Ageng Gribig

Sekaten dikisahkan oleh Gus Aryo, tokoh spiritual yang kerap meriwayatkan penyebaran wali di Nusantara, di awali pertama kali dimasa pemerintahan Sultan Syah Alam Akbar Jimbun Sirullah Brawijaya di Kesultanan Demak Bintara. Perayaan tersebut di gelar usai selesainya pembangunan masjid demak pada tahun 1403 Saka.

Gunungan Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta – foto: Lokabali.com

Pada perayaan sekaten di masjid Demak, Sunan Kalijaga menggunakan gamelan sebagai gending pengiring yang jatuh pada puncak perayaan tanggal 12 Rabiullawal.

Sekaten memiliki makna dua kata kesaksian untuk meyakini sebuah kebenaran yaitu syahadat tauhid atau keyakinan akan ke Esa-an Allah “ Tidak ada Tuhan yang patut di sembah kecuali Allah”, dan syahadat Rassul atau keyakinan kepada utusan Allah yaitu Muhammad Rasulullah.

Sekaten selain sebagai cara mensyahadatkan umat secara masal, juga memiliki makna berbudi baik kepada manusia dan beribadah kepada Allah.

Baca juga : Tradisi malam selikuran di Keraton Solo

Follow Lokabali.com di Google News



Komentar

Berita Lain