oleh

Tradisi Adat Merti Patirtan Kalisodo Warga Lereng Lawu

-Tradisi-180 views

LOKABALI.COM-Masyarakat adat lereng Lawu yang bermukim di Desa Anggrasmanis, Jenawi, Sabtu pagi (7/9/19) menggelar tradisi Merti Patirtan Kalisodo di jalur pamoksan Brawijaya dii kawasan lereng gunung Lawu.

Selain acara Merti Patirtan, di gelar juga ruwatan bocah, sendratari thotok uwok dan prosesi pengambilan air dari sumber mata air Kalisodo dan mata air Sapta Rsi yang berada di jalur pamoksan Brawijaya.

Seluruh prosesi acara di pimpin oleh Ki Lawu warta beserta para budayawan dan tokoh masyarakat adat Desa Anggrasmanis.

‘ Merti Patirtan Kalisodo adalah upacara wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah dan rahmatNya selama ini, sehingga warga desa senantiasa di berikan berkah kehidupan dan hasil bumi dari alam gunung Lawu ‘ Jelas Ki Lawu warta.

Di tambahkan, di galinya legenda Dewi Anggraasmanis dalam cerita sendratari thotok uwok yang di perankan oleh bocah bocah Anggrasmanis, adalah cara memperkenalkan sejarah adat tradisi kearifan lokal melalui sangit cerita.

‘Harapanya agar mudah di ingat serta terus di lestarikan secara turun temurun” Terangnya

Di kisahkan, Dewi Anggrasmanis adalah sosok wanita cantik yang pernah hidup dan menetap di lereng Lawu semasa Prabu Erlangga

Suatu ketika saat ia hamil tua, bayi yang ada di dalam kandunganya lahir atau dalam bahasa jawa di sebut dengan istilah Babaran.

Dalam kondisi lelah usai melahirkan Dewi Anggrasmanis tak lagi mampu berjalan kaki mencari air untuk memandikan si jabang bayi. Oleh karena dalam kondisi seperti itu, Dewi Anggrasmanis kemudian mengambil lidi dan menancapkanya di tanah.

Anehnya tanah bekas tancapan lidi keluar air dan menjadi sumber mata air yang sekarang d kenal dengan nama Patirtan Kalisodo atau sumber mata air yang berasal dari lidi.

Tempat dimana da melahirkan di kemudian hari di kenal dengan nama Dusun Babar. Sedangkan keberadaan Dewi Anggrasmanis di akhir hayatnya konon muksa di atas batu di pinggir mata air yang sekarang di kenal dengan nama Patirtan Sapta Rsi.

Sementara itu versi lain menceritakan, nama Anggrasmanis berasal dari kosa kata Anggoro Manis yang di artinya Selasa Legi. Konon hari Selasa Legi merupakan hari kelahiran seorang perempuan yang di kenal sebagai Dewi Anggrasmanis. Sedangkan nama Petirtan Sapta Rsi di ambil dari kisah di masa akhir kejayaan Kerajaan Majapahit.

Di ceritakan, demi untuk menghindari perseteruan yang tidak di inginkan antara Majapahit dan Demak Bintoro, Prabu Brawijaya V mendaki ke atas puncak lawu di temani tujuh orang rsi yang mengikuti kemana beliau pergi.

Kepergian Brawijaya kepuncak lawu melewati Candi Cetha kemudian berhenti di sebuah sumber mata air tempat moksanya Dewi Anggrasmanis.
Saat berada di patirtan, ketujuh orang rsi memperoleh wangsit agar Prabu Brawijaya dan para rsi lebih dulu mensucikan diri sebelum melanjutkan perjalanan ke atas puncak gunung Lawu.

Berawal dari kisah tujuh orang rsi pengikut Prabu Brawijaya, sumber mata air di atas Candi Cetha kemudian di kenal dengan nama PatIrtan Sapta Rsi. Sedangkan rute pendakian Prabu Brawijaya V di kenal sebagai jalur pamoksan Brawijaya.

Untuk mengenang jejak para leluhur yang ada di gunung lawu, setiap malam sabtu kliwon bulan sura dalam penanggalan Jawa, warga desa Anggrasmanis menggelar tradisi rasulan. Selain itu warga Desa Anggrasmanis juga membanguan monumen surya Majapahit sebagai pertanda pernah adanya kejayaan Kerajaan Majapahit di masa silam./jk

Komentar

Berita Lain