oleh

Tenganan, Desa Bali Asli dengan Tradisi Kuno yang Masih Lestari

-Jelajah-192 views

LOKABALI.COM – Tenganan merupakan Desa yang juga disebut Desa Bali Aga atau Bali Mula, yang masyarakatnya masih cukup kuat menjaga dan mempertahankan tradisi yang ada. Melihat Desa itu, yang nampak adalah keunikannya yang tidak ditemukan desa lain di Pulau Dewata. Secara kasat mata, perbedaan itu terlihat pada bentuk bangunannya, kekhasan pakaian yang digunakan dalam upacara adat sampai kehidupan sosial disana.

Untuk mencapai desa ini melalui jalan darat, berjarak sekitar 60 kilometer dari Kota Denpasar ke arah timur. Desa Tenganan masuk ke dalam struktur pemerintahan Kabupaten Karangasem Bali, atau tepatnya berada di wilayah kecamatan Manggis. Dari pelabuhan Padang Bai, Klungkung, perjalanan hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit.


Total luas Desa Bali Aga ini mencapai 917.200 hektar, termasuk tanah diatas perbukitan. Desa Tenganan sendiri terbagi menjadi dua wilayah, Tenganan Pegringsingan dan Tenganan Dauh Tukad. Keduanya memiliki banyak kesamaan dalam budaya. Dua wilayah ini pula yang menjadi desa wisata budaya. Dari keduanya, Desa Tenganan Pegringsingan bidang pariwisatanya berkembang jauh lebih pesat akhir-akhir ini.

Di Pegringsingan itu, wisatawan yang berkunjung harus melewati pintu utama yang didepannya terdapat sebuah loket. Tapi jangan salah, untuk masuk ke Desa Tenganan Pegringsingan, pengunjung tidak ditarik biaya sama sekali. Tenganan Pegringsingan menempatkan posisi sebagai Desa asli yang dijadikan pusat dalam setiap kegiatan sosial maupun keagamaan. Karena itu, wilayah Pegringsingan dikelilingi oleh tembok. Wilayah Pegringsingan luasnya 8.000 are di dalam tembok pembatas, dengan jumlah penduduk yang tercatat 215 kepala keluarga.

Suasana di Desa Bali Aga itu memang terlihat masih sangat asli. Aliran listrik memang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Tenganan Pegringsingan. Namun, sisi tradisionalnya masih jelas terlihat. Jika melihat bangunan rumah yang ada, hampir seluruh atapnya tidak menggunakan genting, tapi atap rumbia yang terbuat dari daun kelapa. Bentuk rumahnya pun berjejer di pinggir dengan pintu masuk berjumlah satu, seukuran orang dewasa.

Artshop tradisional yang menjual hasil kerajinan tangan asli yang hanya ada di Desa Tenganan. Desa Tenganan terkenal dengan tenun ikat yang dibuat secara handmade - foto: Lokabali.com

Sementara, di kampung itu tidak ada aspal atau beton untuk menghaluskan jalan. Semua berupa jalan tanah dengan batu kali untuk.menapaki jalanan yang berundak. Jika berada disana, pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat asli Tenganan Pegringsingan, yang kesehariannya menjual cenderamata khas desa tersebut.

Kalau posisi rumah berderet di sebelah kanan kiri jalan, sedangkan dibagian tengah, terdapat bale-bale untuk aktifitas sosial seperti, persiapan upacara, kerja bakti, maupun pertemuan adat desa setempat. Semua bangunan bale-bale itu terbuat dari kayu beratap rumbia. Ukuran bale ada yang kecil dan ada yang besar. Masing-masing bale punya fungsi masing-masing.  Pakemnya, satu bale, satu kegiatan yang tidak dapat dirubah tempat dan fungsinya.

Persis di tengah-tengah Desa, antara Selatan dan Utara, pada Hari Raya Sambah akan dipasang ayunan yang digunakan remaja putrinya untuk bermain. Makna yang terkandung dalam ayunan itu adalah, kehidupan terus bergulir, adakalanya kehidupan berada di atas dan di bawah.  Hari Raya Sambah merupakan hari raya terbesar di masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan. Kegiatan fenomenal yang menandai perayaan Hari Raya Sambah adalah, diadakannya perang pandang, atau warga setempat menyebutnya dengan istilah Mekare.

Selain berfungsi sebagai Desa Adat, Tenganan Pegringisingan juga memiliki Desa Adat Khusus yang penghuninya berjumlah 25 kartu keluarga. Letaknya di bagian selatan atau saat  pengunjung pertama kali masuk melalui gerbang utama, disitulah Desa Adat Khusus Tenganan Pegringsingan, berada. (jean)

Komentar

Berita Lain