oleh

Sosok Kyai Kalang Dan Kyai Poleng Penunggu Goa Raja PB VI

-Budaya-168 views

LOKABALI.COM- Patung PB VI atau yang di kenal sebagai Sinuhun Banguntapa di dirikan di simpang PB VI Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali bertepatan pada malam tutup sura dalam penanggalan jawa.

Patung setinggi 3 meter tersebut berada di jalur perbatasan dua gunung yakni, Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

ITB-STIKOM-Bali
Keterangan gambar : Patung PB VI yang berdiri di simpang PB VI Kecamatan Selo, Boyolali. / Foto : istimewa

Keberadaan patung raja yang memperoleh gelar pahlawan nasional ini tak lepas dari sejarah masa silam kawasan tersebut, yang dulu pernah di pakai sebagai tempat untuk berjuang sekaligus laku bertapa PB VI.

Sedangkan tempat laku bertapa PB VI sekarang di kenal dengan nama Goa Raja.

Goa raja berbeda dengan goa biasa pada umumnya yang memiliki lorong menjorok kedalam tanah atau tebing. Goa raja hanya celukan batu yang menjorok kedalam tebing di lereng Gunung Merbabu.

Goa Raja berada di Dusun, Ngaglik, Kecamatan Selo, Boyolali. Dari kejauhan Gua Raja hanya tampak seperti terowongan kecil menempel di dinding tebing bebatuan. Oleh masyarakat sekitar Goa Raja di kenal sebagai tempat untuk menjalani laku ritual.

Tidak hanya warga dari desa sekitar, tetapi banyak juga pelaku ritual datang dari Kudus, Semarang, Pekalongan dan daerah lain di pulau jawa.

Dari keterangan Turut, warga Desa Ngaglik yang biasa menggarap ladang di sekitar Goa Raja di ceritakan, Goa Raja penunggunya adalah Kyai Kalang, sosok harimau loreng yang biasa menampakan wujudnya kepada para pelaku ritual.

Menurut keyakinan warga sekitar, pelaku ritual yang melihat penampakan sosok harimau tersebut biasanya akan di kabulkan penyuwunanya.

Selain Kyai Kalang yang berwujud Harimau, juga ada Kyai Poleng yang bertubuh tinggi besar. Kedua penunggu Goa Raja ini dahulu kala merupakan abdi dalem kinasih PB VI yang setia mengikuti junjunganya laku bertapa

Di karenakan kesetianya kepada PB VI, kedua abdi dalem tersebut lantas di beri tugas di alam ghaib untuk menjaga Goa Raja dan Keraton Solo. Kyai Kalang hanya bertugas menjaga Goa Raja sedangkan Kyai Poleng menjaga Goa Raja dan Keraton Solo.

Menurut keyakinan warga desa, semasa meninggal jasad Kyai Poleng di makamkan di Dusun Kembang Lampir, Desa Gumukrejo, Boyolali. Sampai saat ini makam tersebut masih bisa di jumpai di dusun Kembanglampir.

Keangkeran Goa Raja sampai saat ini masih di akui oleh penduduk desa. Salah satunya pernah ada seseorang yang menjalani laku ritual di pindah dari Goa Raja ke daerah Tuntang, Ungaran. Konon di yakini Goa Raja memiliki pintu ghaib tembus sampai ke Rawa Pening.

Penampakan wujud ghaib Goa Raja dari pengakuan warga sekitar sama halnya dengan bangunan megah Keraton Solo. Sehingga banyak yang mengatakan wujud ghaib Goa Raja sebenarnya merupakan kembaran Keraton Solo, meski yang satu nyata sedangkan yang satunya ghaib.

‘ Bagi mereka yang ingin datang ngalap berkah ke Goa Raja, biasanya membawa nasi rassulan, ingkung dan sesaji jajan pasar. Kebanyakan mereka yang datang ngalap berkah dikabulkan permohonananya.’ Terang mbah Turut mengungkapkan kebiasaan para pelaku ritual di Goa Raja.

Sesaji kenduren yang mereka bawa bukan untuk memberi makan jin dan setan penunggu Goa Raja, tetapi sebagai ungkapan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu sesudah di ujubkan nasi rasulan tersebut lantas di bagikan dan di makan bersama sama. /Jk



Komentar

Berita Lain