oleh

Ritual Kirab Boyong Pusaka Nusantara

-Budaya-104 views

LOKABALI.COM-Dalam rangka HUT RI ke 75 Tahun dan menyambut datangnya tahun baru Jawa 1954 Jimakir , masyarakat Dusun Bowan, Kalurahan Kudu, Baki menggelar ritual kirab budaya Boyong Pusaka Nusantara, Kamis (20 /8).

Menurut Ki Lawu Warta selaku pegiat kirab budaya boyong pusaka Nusantara menyampaikan, Tahun baru jawa di awal bulan sura ini di tengarai dengan Jantra Kisaran Comet Rembulan berdasarkan perhitungan kosmis. Di mana makna dalam perhitungan tersebut merupakan saat yang tepat bagi masyarakat Jawa untuk mawas diri, menyikapi segala perilaku dengan kesadaran instropeksi diri

Penari bedaya kirab boyong pusaka nusantara

Mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa di jauhkan dari segala mara bahaya, balak dan sengkala di dalam menjaga keselarasan alam semesta raya, memayu hayuning bawana. Sehingga masyarakat Jawa tidak akan mengulang kesalahan kesalahan yang sama di tahun yang akan di lewati.

Ritual Kirab Botong Pusaka Nusantara merupakan ungkapansikap dalam berproses membangkitkan kesadaran sebagai bangsa besar berdaulat yang di bingkai satu kesatuan Negara Republik Indonesia.

Kirab merupakan perwujudan kreatifitas masyarakat di dalam menggali nilai nilai kearifan lokal budaya para leluhur yang kemudian di kembangkan agar selaras dengan tuntutan jaman, sebagai bentuk pengabdian dan darma bakti anak cucu kepada bumi pertiwi utamanya Sang Maha Esa.

Nusantara terbukti dan di akui oleh bangsa bangsa di seluruh penjuru dunia sebagai tempat indah layaknya swargaloka yang menyimpan ribuan pusaka kekayan alam semesta beserta dengan nilai nilai kearifanya.

Kekayaan tersebut sudah ada tidak hanya jejak dari peradaban pra sejarah, tetapi sejak jaman es hingga era milenial Nusantara tetap penuh warna warni keindahan budayanya.

Oleh karena terbangun dari rasa kepedulian cinta bumi pertiwi, maka kirab Boyong Pusaka Nusantara tahun ini di gelar bertepatan pada HUT RI ke 75th dan menyabut bulan sura dalam penanggalan jawa.

‘ Kegiatan kreatifitas ini dalam rangka menjaga keselamatan dan keselarasan kehidupan bersama, ( Memayu Hayuning Bawana).’ Jelas mbah Lawu Warta,

Alasan di gelarnya Kirab Pusaka Imbuh dia, mengingat perkembangan global saat ini yang cenderung meninggalkan dasar dasar nilai moral yang pada akhirnya di khawatirkan merusak citra diri bangsa di sebuah negara.

Terbukti saat ini sudah banyak sumber daya alam alam dan kebudayaan adiluhung rusak. Kekayaan alam yang indah berupa gunung dan hutan belantara yang di kelilingi samudera raya tempat bersemayamnya mata rantai kehidupan lambat laun mulai putus dan rusak.

Sehingga anasir kehidupan di alam semesta rusak tercemar limbah dan racun. Belum lagi bocornya lapisan atmosfir yang membuat bumi semakin panas bak neraka dunia.

Kondisi ini tidak hanya mempengaruhi ekosistem jagat bebrayan ageng, tetapi juga akan menumbuhkan nafsu keserakahan manusia, sehingga semakin lama manusia akan terjebak dalam belenggu ego.

Esensi Boyong Pusaka Nusantara bukan membawa seperangkat benda pusaka, namun pusaka nusantara yang memiliki keragaman budaya. Nilai nilai luhur pusaka nusantara tak berbenda yang jauh lebih tinggi nilainya di bandingkan dengan benda apapun.

Spirit Memayu Hayuning Bawana saat ini terasa memudar dari lubuk jiwa yang paling dalam. Oleh sebab itu melalui kegiatan berkebudayaan, generasi muda di harapkan mampu menemukan kembali pusaka pusaka Nusantara lewat proses penggalian kearifan para leluhur. Sehingga perlu di boyong atau di bawa kembali ke kandang bumi pertiwi sebagai jati diri bangsa.

Keikut sertaan anak anak dan pemuda pemudi dalam kirab boyong pusaka Nusantara menjadi bukti bahwa penyemangat itu masih ada sebagai pendorong kebangkitan bangsa yang besar di bumi Nusantara.

Anak anak sebagai salah satu pemilik hak waris bangsa, tentunya patut kita apresiasi peranya dalam kirab boyong pusaka nusantara. Dengan harapan dari pundak merekalah bangsa Indonesia kembali lagi ke dalam jati dirinya, apalagi di tengah situasi masa pandemic yang penuh kebimbangan seperti sekarang ini.

Penguatan generasi harus terbentuk, tidak menjadi generasi yang penuh rasa ketakutan, tercekam oleh keadaan dan situasi yang tak berkesudahan akibat wabah virus corona.

Anak anak, pemuda pemudi adalah mata ranti kehidupan sebuah bangsa. Gambaran bayang bayang penegak peradaban yang bermoral di masa yang akan datang. Dan masyarakat kebayanan Bowan hanyalah titik kecil di negara ini yang tenagh berusaha mewujudkan harapan masyarakat bahagia, sejahtera di wilayahnya.

Merebaknya wabah corona di seluruh dunia yang mencekam kehidupan umat manusia di maknai oleh para pemuda pemudi kebayanan bowan sebagai pertanda peringatan dari Tuhan Sang Maha Kuasa agar manusia sadar dan berhati hati dalam melakukan tindakan yang menyangkut kehidupan bersama di dunia.

Oleh karenanya masyarakat yang sadar atas peringatan tersebut, hendaknya bisa berdamai dengan corona melalui cara beradab dan bermoral. Adab baru die ran new normal yang berakar dari nilai nilai kearifan budaya lokal Caraka Balik, sebuah siklus yang di yakini sebagai datangnya jaman penceraahan atau cikal bakal Kalasuba.

Secara umum acara kirab boyong pusaka Nusantara tetap mengutamakan protokoler kesehatan dan mengatus jarak agar tidak terjadi kerumunan yang bisa membahayakan kesehatan bersama.

Makna acara Kirab Boyong Pusaka Nusantara untuk membangkitkan semangat kembali kepada nilai nilai dasar adab bermoral, sehingga akan tumbuh kesadaran menjaga keselamatan hidup bersama di dunia.

Dengan tujuan masyarakat lokal dan global mampu berdaulat serta saling bergotong royong dalam semangat kebhinekaan untuk menciptakan kehidupan yang damai dan sejahtera.

Prosesi iring iringan kirab di awali dari Dusun Bowan menuju museum Samiharjo di Kalurahan Kudu, Baki, Sukoharjo.

‘ Selain acara kirab, juga di gelar workshop permainan tanah liat, melukis wayang di dinding tembok, pelatihan tari bedaya, musik bamboo, penanaman pohon dan membuat prasasti museum pusaka Samiharjo dan sarasehan ilmu kesehatan pro biotic pencegah covid 19 ‘ Jelas Mbah Lawu warta

Beberapa jenis pusaka yang di kirab di antaranya, songsong agung, tosan aji, wayang cara walik, gunungan tri rupa pala, tumpeng sesaji bancakan dan ragam tanaman hias./jk

Komentar

Berita Lain