oleh

Putri Suastini Koster Bawakan Puisi ‘Aku Melihat Indonesia’ Karya Bung Karno

-Berita, Seni-857 views

LOKABALI.COM – Putri Suastini Koster membawakan teatrikal puisi saat peringatan. hari Lahir Pancasila di Taman Budaya Denpasar, Sabtu (1/6/2019). Sebuah puisi berjudul ‘Aku Melihat Indonesia’ yang ditulis Bung Karno, dibawakan apik oleh istri dari Gubernur Bali Wayan Koster.

Puisi tersebut menggambarkan keharuan sekaligus kebanggaan, saat Bung Karno menatap hamparan sawah, gelora ombak, keagungan gunung, serta keindahan budaya Indonesia.

Lantunan lafal dan penjiwaan Putri Suastini Koster seolah jadi bius bagi pengunjung yang hadir di tempat itu.

Seperti diketahui, Putri Koster adalah sastrawan yang telah menghasilkan banyak karya.

Dalam pementasan itu, Oratorium Kolosal Gerakan Kekuatan Pancasila digarap oleh seniman serba bisa kelahiran Gianyar, I Made Sidia. Oratorium memaparkan perjalanan panjang Bangsa Indonesia, mulai dari masa keemasan Majapahit, jaman penjajahan hingga masa kemerdekaan.
 
Sesanti bangsa ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang termaktub pada Kekawin Sutasoma karya Mpu Tantular, menjadi benang merah yang menghubungkan masa keemasan Majapahit dengan masa kemerdekaan.

Sosok Bung Karno hadir dalam puncak pemanggungan Oratorium tersebut sebagai Bapak Bangsa Indonesia. (*)

AKU MELIHAT INDONESIA

JIKALAU aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar lautan Hindia bergelora
Membanting di pantai Ngilyep itu
Aku mendengar lagu sajak Indonesia

Jikalau aku melihat sawah-sawah yang menguning-menghijau
Aku tidak melihat lagi batang-batang padi yang menguning menghijau
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku melihat gunung-gunung
Gunung Merapi,Gunung Semeru,Gunung Merbabu,Gunung Tangkuban Perahu,Gunung Kelabat dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengarkan lagu-lagu yang merdu dari Batak, bukan lagi lagu Batak yang ku dengarkan
Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku mendengarkan Pangkur Palaran, bukan lagi Pangkur Palaran yang ku dengarkan
Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku mendengarkan lagu Olesio dari Maluku, bukan lagi aku mendengarkan lagu Olesio
Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku mendengarkan burung perkutut menyanyi di pohon ditiup angin yang sepoi-sepoi, bukan lagi aku mendengarkan burung perkutut
Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia

Jikalau aku melihat anak-anak di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar
“Pak Merdeka…pak Merdeka…pak Merdeka!”
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia.

Komentar

Berita Lain