oleh

Peran Budaya Dalam Penanggulangan Radikalisme

LOKABALI.COM-Usia milenial yang masuk dalam kategori masa produktif dari usia 21th – 30 th saat ini menjadi sasaran virus penyebaran faham radikalisme dan terorisme. Hal tersebut tentu saja sangat memprihatinkan kita semua. Apalagi faham radikalisme tidak hanya menjadi virus teror yang merusak sendi sendi persatuan bangsa, tetapi juga menjadi cara bagi sekelompok teroris untuk menghancurkan bangsa dan Negara Indonesia.

‘ Oleh karena itu untuk mencegahnya di perlukan sinergitas seluruh pihak, baik aparat penegak hukum, instansi pemerintah, tokoh agama , masyarakat serta seluruh anak bangsa. Sebab radikalisme dan terorisme adalah musuh kita bersama ‘ Jelas KP. Dr. Andi Budi, selaku Ketua Yayasan Forum Indonesia Maju dan Berbudaya.



Gus Andi sebut, mengutip dari data tahun 2018, terdapat kurang lebih 100 rumah ibadah milik kementerian atau lembaga, serta BUMN, yang lebih dari empat puluh di antaranya di indikasikan terpapar paham radikalisme. Data tersebut diperkuat oleh temuan GP Ansor tentang kecenderungan yang sama. Hasil investigasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada tahun 2019 juga mengungkapkan, sekitar dua juta pegawai BUMN berpotensi terpapar paham radikal.

‘ Merebaknya faham radikalsme di Indonesia tak lepas dari adanya krisis budaya kearifan di tengah masyarakat. Terbukti di negara di Timur Tengah, kelemahan tersebut di jadikan cara untuk memporak porandakan negara negara yang ada di sana. ‘ Papar Gus Andi mengungkapkan

Keragaman budaya yang ada di Indonesia sebenarnya kunci kekuatan paling efektif untuk menangkal virus radikalisme. Tak terkecuali deradikalisasi bagi para mantan mantan napiter.

Paradigma bahwa dengan menjadi pelaku bom bunuh diri mereka akan mati syahid, merupakan buah dari ketidak rasionalis pola pikir yang telah di cuci lewat doktrin doktrin narasi agama.

Selain itu jiwa para pelaku bom bunuh diri juga lebih banyak gersang, jauh dari kearifan akibat ketidak kenalan mereka terhadap budaya yang ada di tengah masyarakat.

Apalagi modernisasi tehnologi jaman saat ini semakin merusak budaya kearifan yang ada di tengah masyarakat, sehingga di khawatirkan kaum milenial akan semakin mudah terpengaruh virus radikalisme jika budaya kearifan yang ada di tengah masyarakat tidak di jaga dan di lestarikan.

Terbukti dari banyak kasus para pelaku bom bunuh diri dan kelompok radikalisme, sebagian besar dari mereka kering terhadap pemahaman budaya.

Kelemahan ini dibaca betul oleh para komando dilapangan, sehingga kerap banyak acara budaya kearifan di syirikan agar bangsa ini tak lagi memiliki budaya. Karena dengan hilangnya kearifan budaya di masyarakat, virus radikalisme dan terorisme akan semakin cepat di sebarkan.

‘ Karena radikalisme merupakan akar dari aksi terorisme ‘ Terang Gus Andi dalam keteranganya.

Mengelola deradikalisasi tidak cukup dengan memberikan pemahaman bahayanya aksi terorisme dan menata kembali ekonomi mantan para napiter, tetapi juga harus mengisi jiwa dengan nilai nilai luhur budi pekerti, agar tertanam terpatri di dalam hati sanubari.

Sebab hanya dengan kesadaran jiwa paradigma yang sudah tertaman lama di maindset para napiter dapat di cuci kembali menjadi bersih.

Sekuat apapun pikiran tidak akan pernah mampu mengalahkan hati yang di dasari atas kesadaran budi nilai nilai luhur./tk



Komentar

Berita Lain