oleh

Pengrajin Sasando Di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur

-Produk-389 views

LOKABALI.COM – Obeth Malelak (70) bisa jadi satu dari sekian gelintir orang yang masih setia membuat alat musik Sasando. Ia tidak hanya sekedar menciptakan alat musik semata, namun juga butuh perjuangan untuk membuat dan mencari bahan baku.

Selain itu, menjadi seorang pengrajin Sasando juga berarti menjaga tradisi bermusik di Pulau Timor.

Sasando merupakan instrumen musik petik khas kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti di Rote Ndao. Di hampir seluruh kawasan pulau Rote-Ndao saja, para pengrajin ini jarang sekali ditemukan.

Namun, Obeth Malelak tetap bertahan setelah hampir 25 tahun menekuni usaha membuat alat musik petik ini.

“Syarat menjadi pengrajian alat musik Sasando tidak mudah. Pasalnya, orang yang bisa menguasai alat musik baru bisa membuat Sasando. Karena tanpa bisa mengusai cara bermain, mereka tidak akan berhasil membuat suara yang indah,” kata Obeth Malelak.

Di rumahnya di kawasan RT 01, RW 01, Dusun Ba’a Dale, Kecamatan Lobalaian, Kabupaten Rote Ndao Nusa Tenggara Timur (NTT), Obeth memproduksi alat musik petik ini dengan dibantu istrinya yang bernama Orpa Malelak.

Ia mengatakan, bagian utama Sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan. Disitulah, senar atau dawainya direntangkan dari atas ke bawah.

Secara teknis, metode pembuatan alat musik ini mirip gitar atau harpa tapi dalam bentuk yang cukup unik karena hanya mengandalkan tabung resonansi yang terbuat dari Pohon Gebang atau sejenis Pohon Lontar.

Tabung resonansi Sasando ini diletakkan dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Tempat senar-senar diikat terbuat dari bambu yang keras, penahan senar yang sekaligus sebagai pengatur nada senar juga terbuat dari bambu.

Batang bambu itu lalu diikat menyatu dengan daun Gebang yang dibuat melingkar tadi.

“Untuk membuat nada bagus dan suara yang keluar juga bagus, cara membuat tabung harus lebih hati-hati dan menyesuaikan ukuran. Tabung juga tidak boleh terbuka atau lemnya terlepas karena akan berpengaruh terhadap suara yang dihasilkan,” jelas Obeth.

Dikatakan Obeth, untuk memainkan Sasando ini tidaklah mudah. Orang harus berlatih secara tekun sebelum mahir memainkannya. Karena untuk membunyikan alat musik ini harus mengutamakan ritme dan feeling yang tepat dari 28 senar yang ada.

Ya, Sasando memang memiliki cukup banyak senar. Bahkan, ada Sasando dobel yang senarnya sampai 56 buah sampai 84 senar.

“Yang 28 senar itu kami biasa sebut Sasando engkel, kalau lebih dari 28 senar namanya Sasando dobel. Karena alat musik petik cara memainkannya harus dipetik. Hanya saja, chord atau kuncinya tidak ada dan cuma mengandalkan feeling. Cara bermainnya lebih mirip harpa yang dibetot dengan dua tangan,” ungkap Obeth.

Menurut pria yang biasa disapa Opa Obeth ini, semua bahan yang dipakai untuk membuat Sasando adalah bahan asli, kecuali senar Sasando. Saat ini Sasando sudah mulai dimodifikasi. Pemantul bunyi dari daun gebang sudah diganti dengan spul gitar listrik yang ditempelkan pada batang bambu ditengah Sasando.

Tentu Sasando model ini hanya bisa mengeluarkan bunyi keras dengan bantuan sound system.

Jadi tidak mengherankan, kalau kemudian Sasando menjadi alat musik yang bisa mengisi untuk semua jenis musik, dari tradisional, pop, sampai rock bahkan dangdut. Karena menurut Obeth, ciri khas nada yang dihasilkan alat musik ini lebih kental di melodi ketimbang chord-nya.

Menariknya lagi, dalam upacara adat atau tradisi di Rote, para pemain Sasando ini selalu dilengkapi dengan atribut berupa topi mirip koboi yang disebut topi Tii Langa.

“Meski alat musik Sasando bisa menyesuaikan dengan jamannya. Tapi jumlah pengrajinnya semakin berkurang. Kami yang tua-tua ini suatu saat harus berhenti membuat Sasando. Dan seharusnya, generasi berikutnya yang meneruskan,” ungkap Obeth.

Secara umum, Sasando biasa dibuat dari bagian-bagian pohon lontar. Namun, dalam kenangan Obeth Malelak, dulu, para pengrajin Sasando sering membuat dengan bahan baku kayu cendana. Sekarang bahan baku kayu beraroma harum itu sudah sulit didapat.

Bahkan, dalam perjalanannya sekarang, kayu gebang sendiri juga mulai sulit didapat. Padahal, menurut Obeth, ciri khas Sasando adalah bentuk anyaman setengah lingkaran yang dibuat dari daun lontar.

“Semakin hari kita harus lebih kreatif mencari bahan baku pengganti, yang penting bisa dianyam dan dijadikan bahan baku pasti kami akan mencobanya,” jelas Obeth. (Zak)

Komentar

Berita Lain