oleh

Pelestari Budaya Ingatkan Pentingnya Maksimalisasi Eskavasi Situs Cagar Budaya Candi Sirih

LOKABALI.COM- Balai Pelestari Cagar Budaya Jawa Tengah, akhirnya melakukan eskavasi terhadap situs Candi Sirih di Dukuh Kersan, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Sukoharjo.

Sebelumnya keberadaan situs Candi Sirih ini sudah pernah di laporkan oleh tim pelestari budaya Kabupaten Sukoharjo sekitar tahun 2005, akan tetapi baru tahun 2019 dinas terkait menindaklanjuti dengan melakukan penelitian di situs Candi Sirih.

KSU-Pemogan
Keterangan gambar : Candi Sirih atau Candi Asto Sesaji / Foto: Lokabali

 

Dari hasil penelitian yang pertama di ketahui, Situs Candi Sirih di perkirakan di bangun di era Mataram Kuna sekitar abad ke VIII – X Masehi. Candi Sirih merupakan komplek candi Hindu yang terdiri dari sebuah bangunan induk menghadap ke barat dengan tiga buah candi perwara di depanya yang di lengkapi pagar, talud serta tangga masuk halaman yang pertama.

Selain data monumental berupa struktur, penelitian Candi Sirih juga mendapatkan data artefak seperti sebuah arca tokoh dewa. Lingga pathok ( Brahmastana), tiga buah kemuncak berbahan batu tufaan, lingga berbahan batu andesit, serta beragam pecahan tembikar / gerabah berbentuk bahan yang polos ataupun berhias.

Lingga berbahan batu andesit tersebut di duga berasal dari candi induk yang memastikan Candi Sirih merupakan komplek candi hindu.

‘ Oktober tahun 2021, BPCB Jawa Tengah kembali melakukan eskavasi di situs Candi Sirih dan menemukan beberapa benda cagar budaya. Diantarnya arca yang terbuat dari perunggu, pecahan tembikar, tulang dan gigi manusia yang di perkirakan telah berusia ratusan tahun’ Kata Kokor salah satu pelestari budaya asal Sukoharjo yang bersama Forum Budaya Mataram( FBM) dan Dewan Pemerhati Pelestari Seni Budaya Indonesia melakukan tinjauan ke lokasi Candi Sirih guna menggali jejak sejarah untuk upaya penyelamatan dan pelestarian.

Sementara itu terkait dengan pelestarian, Ketua FBM yang juga Dewan Penyelamat Pelestari Seni Budaya Indonesia, Dr. BRM. Kusuma Putra, S.H, M.H menyampaikan pentingnya perhatian dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat ataupun dinas terkait terhadap upaya pelestarian situs cagar budaya, khususnya Candi Sirih.

Eskavasi Candi Sirih seharusnya dapat di lakukan secara maksimal jangan hanya sesaat saja, bahkan terkesan pembiaran. Di akui atau tidak banyak situs cagar budaya di Jawa Tengah mangkrak usai di lakukan penelitian tahap awal karena kurangnya perhatian dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Imbasnya banyak benda cagar budaya hilang dan rusak.

Undang Undang pelestarian cagar budaya mengamanatkan adanya upaya pelestarian oleh semua pihak. Jika ada pihak yang menghambat upaya pelestarian dan penyelematan situs cagar budaya, maka akan di sanksi dengan ancaman denda dan kurungan. Untuk kebutuhan menyelamatkan situs cagar budaya juga tidak di cantumkan dalam Undang Undang berapa batasan anggaran untuk penyelamatan dan pelestarian.

Oleh sebab itu Pemerintah harus semaksimal mungkin memberikan anggaran penyelamatan dan pelestarian situs cagar budaya. Baik melalui pemerintah daerah ataupun liwat kementerian terkait.

Candi terang Kusuma, tidak hanya menyimpan karakter jati diri bangsa, akan tetapi juga menyimpan kemajuan peradaban Nusantara. Candi juga menjadi pusat edukasi dari kemajuan tehnologi arsitektur pada masanya, Yang saat ini banyak di jadikan sebagai referensi dan rujukan perguruan tinggi di berbagai bidang program studi.

Indonesia di kenal sebagai negeri seribu candi yang memiliki kekayaan sumber daya alam berlimpah ruah. Tak terkecuali kemajuan sumber daya manusia yang tersimpan pada arsitektur candi. Candi juga wujud konsistensi para pemangku kebijakan yang terus berkesinambungan untuk mencapai titik kejayaan pada masanya.

Menilik penemuan situs cagar budaya di Indonesia, kepedulian datang justru dari para peneliti luar negeri. Oleh sebab itu di ingatkan oleh Ketua FBM, jangan sampai tehnologi nenek moyang kita di curi orang luar dengan dalih penelitian, akibat tidak adanya pedulian dari kita sebagai anak cucu.

Pemerintah harus memberikan anggaran lebih untuk pelestarian cagar budaya. Tak terkecuali mengajak keterlibatan lembaga pelestari budaya dalam melakukan pelestarian benda cagar budaya. Sehingga tidak hanya upaya penyelamatan dan pelestarianya saja, tetapi pemanfaatan dan keberlangsungan situs cagar budaya dapat terus di jaga.

Keterlibatan unsur masyarakat harus dilakukan, tak terkecuali melakukan edukasi agar terbangun kesadaran untuk melestarikan situs cagar budaya.

Ketua FBM berharap, Pemerintah melakukan regenerasi kepegawaian dan rekrutmen sumber daya manusia, khususnya para lulusan arkeolog dan ahli kepurbakalaan ataupun sejarah. Agar pelestarian situs cagar budaya di Indonesia dapat dilakukan semaksimal mungkin.

Ketidak maksimalan penelitian dan eskavasi terbukti di candi Sirih, meski sudah di laporan puluhan tahun silam namun tindak lanjut dari dinas terkait baru di lakukan dua kali.

‘Itupun waktunya hanya singkat.’ Jelas Kusuma menandaskan.

Candi Sirih di katakan oleh Kusuma, di sebut juga Candi Asto Sesaji. Sebab dari keterangan warga desa, tempat tersebut kerap di jadikan sebagai tempat untuk pemujaan dan sesirih, sehingga oleh salah satu perangkat desa kemudian di sebut Candi Sirih.

Selain artefak yang sudah berhasil di ketemukan saat penggalian pertama dan kedua, di dekat tangga masuk halaman Candi Sirih juga terdapat sumur untuk sesuci. Di bagian selatan candi di kedalam 1,5 meter saat di lakukan eskavasi yang kedua, BPCB Jawa Tengah menemukan pecahan tembikar, gigi dan potongan tulang yang di perkirakan tulang tangan manusia.

Galian tempat penemuan tulang dan gigi manusia menurut Sugiyanto, penjaga tanah tempat Candi Sirih berada, juga mengeluarkan bau mayat manusia yang tidak sedap. Di yakini masih banyak artefak ataupun jejak peradaban yang bisa di temukan di Candi Sirih, jika eskavasi di lanjutkan guna membuka tabir sejarah yang terpendam di dalamnya./ Tok



Komentar

Berita Lain