oleh

Onggojoyo, Petilasan Brawijaya Di Karangpandan

-Jelajah-541 views

LOKABALI.COM-Seperti layaknya pemakaman umum biasa tempat mengubur jasad orang yang sudah meninggal. TPU Onggojoyo di Dusun Sintru, Doplang, Karangpandan juga menjadi tempat mengubur jasad warga desa yang sudah mati. Akan tetapi siapa sangka jika di dalam tempat pemakaman umum tersebut terdapat petilasan Prabu Brawijaya V, saat Majapahit runtuh yang di tandai dengan sengkalan sirna ilang kertane bumi ( 1400 saka / 1478 M ).

Sekilas petisan tersebut tidak tampak seperti halnya petilasan keramat peninggalan raja Majapahit yang selama ini kerap dijadikan sebagai tempat laku ritual dan sesirih. Petilasan tersebut hanya berupa gundukan tanah di payungi cungkup kayu beratapkan seng.

Tak jauh dari petilasan tumbuh pohon aren dan tanaman keras yang di perkirakan sudah berusia ratusan tahun.

Menurut keterangan parmin, salah satu warga Desa Doplang mengatakan, warga desa meyakini jika petilasan tersebut adalah petilasan Prabu Brawijaya. Dari cerita tutur dikisahkan, pada jaman dahulu Brawijaya V pernah bertapa di tempat tersebut sebelum beliau membangun Candi Sukuh dan Candi Cetha.

Cerita ini sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, karena sudah menjadi cerita tutur warga desa secara turun temurun.

Berbeda dengan cerita tutur, tokoh spiritual sekaligus budayawan Gus Aryo mengatakan, dari pandangan mata bathin petilasan tersebut pernah di pakai sebagai tempat bertapa para rsi pengikut Prabu Brawijaya.

‘ Dikarenakan petilasan ini berada berdekatan dengan Pura I Gusti Ki Ageng Pemacekan yang masih dalam satu wilayah Karangpandan’ Jelas Gus Aryo saat mengulik keberadaan petilasan Onggojoyo di Desa Doplang.

Lebih jauh dikatakan Gus Aryo Jati, tak dipungkiri daerah ini memang satu garis dengan jejak pelarian Brawijaya. Karena selain dekat dengan Pura Pamacekan, juga dekat dengan makam Ki Ageng Jamboleka di Dusun Tal Pitu dan petilasan atas angin, tempat para Mpu menempa pusaka pusaka Majapahit.

Nama Onggojoyo berasal dari kata onggok dan joyo. Onggok diartikan seonggok tanah atau tanah yang sempit. Sedangkan Joyo dimaknai sebagai kekuatan.

‘ Tempat merenung mencari kekuatan untuk mempertahankan kejayaan Majapahit, bukan merenung mencari wisik membangun candi sukuh dan candi cetha ‘ Terang Gus Aryo menjelaskan.

Karena dalam sejarah peradaban candi para ahli meyakini, Candi Sukuh dan Candi Cetha sudah ada jauh sebelum Majapahit berkuasa, serta mengalami evolusi peradaban pada jamanya.

Selain menarik benang merah antara petilasan Brawijaya di TPU Onggojoyo dengan beberapa petilasan lain di daerah Karangpandan, Gus Aryo juga mengungkapkan adanya sosok penunggu seorang rsi berjubah putih di petilasan Brawijaya.

Sosok ini jelas Gus Aryo, bertugas menjaga kesucian asli petilasan. Oleh karena itu sampai sekarang tidak ada orang yang berani membangun petilasan, meski banyak pelaku ritual yang kabul hajadnya ingin membangun petilasan.

Beberapa bangunan tambahan di sekitar petilasan hanya cungkup dan tempat istirahat yang di bangun di luar area petilasan. Pelaku ritual yang datang dengan niat tidak baik dipastikan tidak akan kuat menjalani laku ritual, akan banyak godaan yang datang menerpa.

Kesucian diartikan bukan tempat yang bersih dari kotoran secara harafiah, akan tetapi tempat suci dari orang orang yang kotor hati dan perilakunya. Terbukti tanah petilasan ini menurut warga desa, bisa membuat celaka seseorang yang berbuat jahat tetapi tidak mengakui perbuatan jahat tersebut.

Petilasan atau pertapaan di TPU Onggojoyo tak jauh beda dengan pelenggahan ageng Srigati Prabu Brawijaya di alas Ketonggo. Tanah yang ada di petilasan tersebut sama dengan yang ada di alas ketonggo, hanya saja kemegahan bangunanya saja yang membedakanya, pungkas Gus Aryo / Jk.

.

Komentar

Berita Lain