oleh

Ngaji Budaya, Pentingnya Pelestarian Budaya Di Tengah Terjangan Kapitalisme Global

-Berita-671 views

LOKABALI.COM- Kebudayan Nusantara saat ini tengah menjadi pertaruhan menangkal kapitalisme global, demikian disampaikan KH.Ngabehi Agus Sunyoto pada acara ” Ngaji Budaya ‘ (27/8/19) yang di selenggarakan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Surakarta.

Hadir sebagai narasumber pegiat budaya KRMH. Ario Hidayat Adisena, S.H,M.H sekaligus wakil dari Keraton Pura Mangkunegaran. KH.Ng Agus Sunyoto, ketua Lesbumi PBNU, serta Waluya S.Kar, M.sen, dosen ISI Surakarta selaku perwakilan akademisi budaya.

Acara yang di gelar di gedung PCNU Kota Surakarta, di hadiri juga oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Surakarta, Muspida Kota Surakarta dan tokoh masyarakat dari berbagai keyakinan yang ada di kota Solo.

‘ Ngaji budaya mengambil tema, ‘ Islam Nusantara dalam pergulatan ideologi Islam Transnasional ‘.Terang Ketua PCNU Kota Surakarta, H. Mashuri dalam keteranganya

Islam Nusantara adalah Islam yang mencerminkan kepribadian bangsa. Islam yang tetap berpegang teguh pada nilai nilai luhur budaya bangsa.

‘ Islam rahmatan lil alamin, memayu hayuning bawono, menjaga dan merawat kelestarian alam semesta’ imbuh Mashuri dalam keteranganya.

Senada dengan Mashuri, KH. Agus Sunyoto dalam paparanya menegaskan, Islam Nusantara saat ini tengah berada dalam pergulatan ideologi Islam transnasional. Untuk mencapai tujuan kapitalisme global, penghancuran kebudayaan menjadi salah satu cara melenyapkan sebuah peradaban bangsa.

‘ Sehingga tidak ada lagi batas teretorial negara dan toleransi.” Terang ketua Lesbumi PBNU pada acara ngaji budaya.
Hal ini tentu saja menjadi kekhawatirkan seluruh pihak yang peduli terhadap keutuhan bangsa.

Menilik dari berbagai peristiwa sejarah di dunia, banyak peradaban yang telah dibangun sejak ratusan tahun silam hilang karena ketiadaan peninggalan budaya.

Sebagai bangsa majemuk yang memiliki ribuan kebudayaan, tentu saja Indonesia menjadi target utama kapitalism global. Pengikisan budaya dengan dalil musrik dan syirik oleh sebagian kelompok yang tidak sejalan dengan Islam Nusantara, dinilai K.H Ngabei Agus Sunyoto, dipakai sebagai cara demi tercapainya kapitalism global.

Di tambahkan oleh Kiai yang juga penulis buku Atlas Walisongo, indikasi adanya gerakan pengkapitalisasian global sudah ada sejak era Presiden Abdurahman Wahid.

Terbukti dari beberapa hasil study Agus dipedesaan di daerah Jawa Timur, perubahan kultur masyarakat tradisional ke modernisasi saat itu sudah mulai tampak. Perubahan ini jika tidak di ikuti dengan pelestarian budaya maka di khawatirkan tidak akan lama lagi seluruh budaya yang ada di Nusantara terkikis hilang.

Untuk itu Islam Nusantara hadir sebagai wajah Islam rahmatan lil alamin. Islam yang mencerminkan toleransi, cinta kasih, berbudaya serta menjunjung tinggi nilai nilai luhur budaya bangsa.

Selain K.H.Agus Sunyoto, K.R.MH Aryo Hidayat dalam narasi kebudayaan menyampaikan tentang akan di gelarnya acara kirab malam satu sura di Pura Mangkunegaran.

Kirab malam satu sura kata Aryo, merupakan aplikasi nyata ajaran tasawuf yang di ajarkan para wali. Laku tapa bisu saat kirab adalah upaya perenungan diri masyarakat jawa didalam memohon kepada Allah SWT, agar senantiasa mereka di berikan kekuatan menapaki hidup satu tahun yang akan datang.

‘ Kirab tanpa memakai alas kaki di maknai jika manusia kelak akan kembali ke tanah.” Kata Arya Hidayat memaparkan makna kirab satu sura di Pura Mangkunegaran.

‘Dengan Ingat kematian di harapkan masyarakat Jawa senantiasa memahami makna tujuan hidup. ‘Eling purwaning dumadi, selalu ingat dengan asal usulnya ” Papar Aryo.

Sebagai individu yang memiliki kepribadian, manusia di tuntut harus mampu bersosialisasi, di umpamakan seperti belajar gamelan. Masing masing penabuh harus belajar tenggang rasa, toleransi antara penabuh yang satu dengan yang lainya sehingga terciptalah sebuah laras dalam gending gamelan.

” Gamelam dalam kebudayaan Jawa juga di pakai sebagai cara belajar bersosialisasi bersama, sehingga terciptalah kebersamaan ‘ Tutup Waluya S.Kar dalam paparan ngaji budaya /Jk

Komentar

Berita Lain