oleh

Merti Bumi Malam 1 Sura Di Pertapan Cetha

-Tradisi-504 views

LOKABALI.COM-Bulan sura oleh masyarakat Jawa di jadikan sebagai bulan penuh perenungan, instropeksi diri terhadap perjalanan kehidupan selama setahun terlewati. Oleh karena itu di dalam menyambut datangnya tahun baru jawa yang jatuh pada malam satu sura, masyarakat Jawa biasanya menggelar berbagai ritus keagamaan baik yang bersifat kepercayaan maupun keyakinan.

Romo Muji, Tokoh Masyarakat Adat Di Kawasan Candi Cetha /Foto:Lokabali.com

Tak hanya ritus persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat Jawa juga mendatangi tempat tempat sakral untuk menjalani laku spiritual dalam rangka mendekat diri kepada Tuhan Sang Maha PenciptaNya.

Seperti halnya masyarakat lereng Lawu yang bermukim di sekitar kawasan candi cetha, warga desa menyambut datangnya malam 1 sura yang jatuh pada tanggal 19 Agustus 2020 / Jimakir 1954 Sakka dengan cara menggelar acara kirab Merti Bumi dari pasraman ke pertapaan cetha yang berjarak kurang lebih 500 meter.

Acara yang di pimpin Romo Muji dan beberapa pemangku adat, membawa iring iringan tumpeng suci, dua buah gunungan sayur dan puluhan uba rampe sesaji sebagai bentuk wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan alam semesta, yang telah memberikan berkah kehidupan hasil pertanian serta sumber daya alam yang berlimpah ruah.

‘ Kirab malam 1 sura dimaknai sebagai upaya pelestarian budaya masyarakat jawa dalam rangka menjaga keselarasan antara manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan Sang Maha PenciptaNya. Sehingga di harapkan melalui kirab malam satu sura keseimbangan alam sekitar terjaga dengan baik’ Terang Romo Muji dalam keteranganya.

‘ Tak seperti tahun tahun sebelumnya, kirab berakhir di Candi Cetha. Tahun ini kirab di arak menuju pertapaan, kemudian di doakan oleh para pemangku adat untuk sedekah bumi’ imbuhnya.

Di gelarnya kirab merti bumi di kawasan Candi Cetha di karenakan tempat ini di kenal sebagai salah satu punjer spirit masyarakat Jawa, khususnya umat Hindu.

Kirab malam satu sura tidak hanya sebagai ungkapan wujud rasa syukur, namun juga sebagai bentuk regalia permohonan masyarakat Jawa menangkal balak dan sengkala, apalagi di masa pandemic seperti sekarang ini.

Melalui kirab malam satu sura kita berharap wabah pandemic corona segera berakhir. Bangsa dan negara Indonesia di lindungi dan di jauhkan dari segala bencana, tukas Romo Muji.

Sementara itu di Kraton Surakarta sendiri, banyak peristiwa penting terjadi pada bulan sura. Salah satunya berdirinya Kraton Surakarta di Desa Sala, sejak perpindahanya dari Kartasura pada tanggal 17 bulan Sura Tahun Je 1670 atau pada tanggal 20 bulan 2 tahun 1745, semasa pemerintahan Paku Buwono II.

Serta berbagai upacara adat tradisi yang di lakukan oleh Kraton Kasunanan Surakarta selama memasuki bulan Sura diantaranya, sesaji Mahesa Lawung, larung sesaji di laut selatan, jamasan pusaka dan upacara tradisi adat lainya, yang kesemuanya bertujuan pada perenungan dan pendekatan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. / Jk

Komentar

Berita Lain