oleh

Memaknai Malam Satu Sura

-Budaya-774 views

LOKABALI.COM -Menyambut malam satu sura atau lebih tepatnya bulan sura dalam penanggalan Jawa, masyarakat Jawa selalu menyambutnya dengan berbagai kegiatan yang bersifat religius.

Bulan sura di anggap bulan suci karena di sakralkan. Pada bulan tersebut masyarakat Jawa selalu melakukan aktifitas kerohanian seperti laku prihatin, bersemedi di tempat keramat dan berziarah kemakam para leluhur dengan cara menggelar doa dan pemberian sesaji, sebagai simbol pengingatan kembali ajaran para leluhur.

Perenungan mawas diri dalam perjalanan laku prihatin malam satu sura atau tahun baru Jawa berbeda dengan Tahun Baru Masehi yang kerap di warnai pesta arak arakan dan terompet kemeriahan menyambut datangnya malam tahun baru.

‘ Selain di lakukan dengan perenungan diri, sebagai wujud menghormati kesakralan bulan sura, masyarakat Jawa tidak menggelar hajatan selama bulan sura’ Kata Gus Aryo, tokoh spiritual yang dekat dengan kerabat trah Mataram Islam.

Di katakan oleh dia, ketiadaan menggelar hajatan selama bulan sura bukan sebab Kanjeng Ratu Kidul tengah menggelar hajatan, sehingga pantang bagi masyarakat jawa untuk menggelar hajatan, tetapi lanjut Gus Aryo, di dalam bulan sura terdapat hari assura, hari dimana berkabungnya cucu Baginda Rasul SAW.

‘ Sehingga sebagai bentuk penghormatan rasa berkabung, masyarakat Jawa tidak menggelar hajatan selama bulan sura. Hal ini seperti yang di ajarkan oleh para wali ‘ Jelas tokoh spiritual sekaligus penyembuh alternatif kepada LOKABALI

Selama bulan sura lanjut Gus Aryo, segala upacara adat seperti jamasan, kirab pusaka dan pemberian sesaji di lakukan sebagai ungkapan wujud rasa syukur kepada Allah SWT. Seperti halnya kirab kebo bule malam satu sura di Keraton Kasunanan Surakarta,

Di jelaskan Gus Aryo, bulan Sura dalam penanggalan Jawa berawal pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Sebagai raja yang menentang kolonialisme, Sultan Agung beberapa kali mencoba menyerang Batavia namun gagal. Kegagalan serangan di Batavia di sebabkan kurang bersatunya rakyat karena adanya dua penanggalan berbeda yang di anut masyarakat kala itu.

‘ Penanggalan tahun Saka dan tahun Hijriyah ‘ Jelas Gus Aryo

Perbedaan dua penanggalan ini menyebabkan tidak bersatunya kekuatan rakyat, sehingga penyerangan Sultan Agung ke Batavia gagal.

Oleh Sultan Agung kedua penanggalan tersebut lantas di satukan menjadi penanggalan Jawa yang pada awal tahun di mulai pada awal bulan sura.

Hanya saja jelas Gur Aryo, perjalanan waktu kalender tahun Jawa mengikuti berjalanya waktu tahun saka. Sedangkan hasil penggabungan tahun saka dan Hijriyah, menjadi tahun 1633 dalam penghitungan penanggalan Jawa.

Pada penanggalan Jawa di kenal delapan penghitungan atau sewindu. Tiap tahun dalam penanggalan Jawa memiliki arti dan nama sendiri sendiri selama sewindu atau delapan tahun. Nama nama tersebut diantaramya, Alif, Ehe, Jimawa, Je, Dal, Be, Wawu dan Jimakir.

Di dalam penanggalan Jawa memiliki ke istimewaan yang berhubungan dengan umur dan weton manusia.

‘ Dalam penanggalan Jawa di kenal dengan istilah tumbuk cilik dan tumbuk gede. Tumbuk artinya bertemu.’ Imbuh Aryo dalam penjelasanya.

Tumbuk cilik, weton dan tanggal lahir manusia bertemu di saat yang bersamaan. Sedangkan Tumbuk besar, hari kelahiran, weton, dukutan dan seluruh petung penanggalan hari lahir semuanya akan bertemu seperti pada saat manusia di lahirkan.

“Tumbuk gede terjadi hanya sekali selama 64 tahun.” Katanya menerangkan

Lebih jauh di katakan, banyak peristiwa terjadi pada bulan sura, salah satunya hijrahnya keraton Kartasura ke Surakarta yang terjadi pada tanggal 17 bulan Suro Tahun Je 1670 atau pada tanggal 20 bulan 2 tahun 1745 di era pemerintahan Sunan Paku Buwono ke II.

Selama bulan sura, berbagai upacara adat di lakukan oleh Karaton Kasunanan Surakarta diantaranya kirab pusaka malam satu sura, larung sesaji, sedekah lawu, jamasan pusaka dan beberapa upacara adat lainya yang kesemuanya pertujuan terhadap pendekatan diri kepada Tuhan YME.

Selama lebih dari setengah bulan keraton menggelar rangkaian upacara adat, dan di akhir rangkaian akan di tutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Pagelaran wayang kulit merupakan persembahan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Rahmat dan berkahNya kepada keraton dan kawulanya di dalam mengarungi perjalanan kehidupan setahun yang telah terlewati. Sedangkan di tahun yang akan dilewati, harapanya senantiasa di berikan kekuatan dan kesehatan.

Pada prosesi kirab malam satu sura, Keraton mengkirabkan pusaka Kiai Slamet sebagai bentuk regalia dan harapan kepada Tuhan Sang Maha Pencipta, agar senantiasa di berikan keselamatan dan di jauhkan dari segala marabahaya, pungkas Gus Aryo dalam penjelasan makna kirab malam satu sura di Keraton Surakarta./jk

Komentar

Berita Lain