oleh

Melihat Jejak Peninggalan Joko Tingkir Di Sendang Senjaya

LOKABALI.COM-Jejak sejarah Joko Tingkir, raja Kasultanan Pajang yang di kenal sebagai Sultan Hadiwijaya, merupakan hikayat kearifan lokal yang sampai saat ini masih tetap di pegang teguh oleh masyarakat jawa di mana jejak sejarah tersebut berada.

Sultan Hadiwijaya adalah raja besar tanah Jawa, yang pada masanya mampu merubah konsep pembangunan ekonomi negara dari konsep negara bahari menjadi agraris.

KSU-Pemogan
Keterangan gambar.KP.Dr.H.Andi Budi S Sosrohamijoyo, SH,M.Ikom. /foto : Lokabali

‘ Terbukti hasil pertanian bumi Pajang sampai saat masih di kenal di seluruh Nusantara ‘ Jelas tokoh budaya Nusantara KP. Dr. H. Andi Budi Sulistijanto Sosrohamijoyo, S. H, M. Ikom

Salah satu jejak sejarah raja Pajang yang sampai saat ini masih ada dan di lestarikan adalah Sendang Senjaya. Secara administratif Sendang Senjaya masuk wilayah Desa Tegalwaton, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, namun secara kultur kawasan yang memiliki
tujuh mata air ini milik masyarakat Salatiga.

‘Tujuh mata air tersebut diantaranya Sendang Slamet,
Sendang Bandung, Sendang Putri, Sendang Lanang, Sendang Teguh, Tuk Sewu dan Sendang Senjaya.’ Jelas tokoh budaya Nusantara yang akrab di sapa Gus Andi dalam keteranganya.

Dari cerita tutur, Gus Andi sampaikan asal mula terjadinya Sendang Senjaya.

Berawal dari nama tokoh
pewayangan Arya Sunjaya, anak dari Yuyutsuh cucu Yama Widura yang masih merupakan keluarga Pandawa, Raden Pandudewanata. Secara garis keturunan Arya Sunjaya masih merupakan saudara dekat keluarga Pandawa dan keluarga Astina.

Arya Sunjaya memiliki saudara laki-laki bernama Arya Subrasta. Dalam perang baratayudha kedua orang kakak beradik tersebut memiliki pandangan yang berbeda dimana Arya Sunjaya mendukung tahta Astina untuk Pandawa, sedangkan Arya Subrasta mendukung Kurawa.

Saat perang besar baratayudha, Aryo Sunjaya secara kebetulan harus berhadapan dengan Karna, senopati perang kurawa yang sangat diandalkan oleh Raja Duryudana. Di tangan Karna Arya Sunjaya gugur, roh dan jasadnya muksa berubah menjadi sendang Senjaya.

Ketokohan Arya Sunjaya yang dianggap ksatria jujur, pemberani dan membela kebenaran seperti para Pandawa, membuat masyarakat Jawa mempercayai siapapun yang menjalani laku kungkum di Sendang Senjaya jika hajadnya menyimpang dari kejujuran maka akan menerima akibatnya.

Di era abad ke 8 Raja Sanjaya dari kerajaan medang pernah membangun sebuah candi di Sendang Senjaya, bukti pembangunan tersebut sampai saat ini masih tampak dengan adanya sisa sisa batu candi yang berserakan di tepi kolam.

‘ Di awal sebelum berdirinya Kerajaan Pajang, Joko Tingkir pernah laku kungkum di Sendang Senjaya ‘ Imbuh Dr. Andi Budi menambahkan sasta tutur cerita Sendang Senjaya

Di masa mudanya Joko Tingkir merupakan seorang pemuda yang memiliki kegemaran laku bertapa dan nenepi di hutan. Ia pernah berguru kepada Ki Ageng Sela. Dan gurunya tersebut mengetahui jika kelak Joko Tingkir akan menjadi raja di tanah Jawa. Masa depan Joko Tingkir atau Mas Karabet tak hanya di ketahui oleh Ki Ageng Sela, Sunan Kalijaga juga mengetahui jika kelak kerajaan yang akan di pimpin Joko Tingkir akan menjadi kerajaan Majapahit terakhir di tanah Jawa.

Hikayat cerita, Jaka Tingkir oleh Sunan Kalijaga di perintahkan bertapa laku kungkum di Sendang Senjaya. Akan tetapi saat menjalani laku kungkum, air yang mengalir dari sumber mata air mengalir sangat deras sekali. Untuk menghambat derasnya air yang mengalir dari Sendang Senjaya, Joko Tingkir lantas menyumbat dengan potongan rambutnya.

Selain di jadikan sebagai tempat untuk bertapa, kawasan Sendang Senjaya juga di jadikan tempat berlatih ilmu kanuragan. Konon dari Sendang Senjaya Joko Tingkir memperoleh ilmu kanuragan Lembu Sekilan yang membuat tubuhnya terlindungi kekuatan ghaib tidak dapat tersentuh oleh senjata tajam jenis apapun.

‘ Di sebelah utara Sendang Senjaya juga terdapat makam
Ki Ageng Slamet dan Nyai Welas Asih. Makam tersebut menurut pengakuan Juru Kunci diyakini Makam Joko Tingkir dan isterinya’ Imbuh Gus Andi menceritakan sejarah Sendang Senjaya.

Dikisahkan pasca runtuhnya Kerajaan Pajang, Sultan Hadiwijaya beserta istrinya
meninggalkan istana tanpa sepengetahuan anak cucunya. Masyarakat Tegalwaton mempercayai rumah
Joko Tingkir yang pertama ada di makam tersebut. Rumah yang kedua di mata air
Sendang Senjaya. Sedangkan rumah ketiganya adalah Istana Kesultanan Pajang.

Sampai sekarang Sendang Senjaya masih tetap di keramatkan oleh masyarakat. Setiap malam Jumat Kliwon dan Malam Selasa Kliwon banyak pelaku ritual menjalani laku di Sendang Senjaya. Tak terkecuali pada malam satu sura. Masyarakat menggelar acara sedekah megengan sebagai ungkapan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar selama satu tahun ke depan masyarakat Desa Tegalwaton di berikan kekuatan dan kesehatan dalam menjalani tahun yang baru./Jk



Komentar

Berita Lain