oleh

Kucumbu Tubuh Indahku, Penantian 38 Tahun Karir Garin Nugroho

LOKABALI.COM – Garin Nugroho akhirnya dinobatkan sebagai Sutradara Terbaik dalam film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ di ajang Festival Film Indonesia (FFI) tahun ini. Kamila Andini mewakili ayahnya menerima penghargaan tersebut.

Piala Citra itu, menurut Kamila menjadi penantian panjang setelah 38 tahun ayahnya berkarya. Di atas podium, Kamila membacakan pesan ayahnya, jika menulis tema sensitif memberikan ruang dialog publik.

“Ini merepresentasikan penghargaan pada keterbukaan ekspresi dalam sejarah sinema Indonesia,” kata Kamila Andini membacakan pesan Garin Nugroho.

FFI disebut Garin, sebagai penghargaan terbaik dari semua penghargaan yang pernah diterimanya.

“Karena FFI adalah sejarah film Indonesia dan rumah untuk film Indonesia. Rumah saya sebagai sutradara film Indonesia,” kata Kamila.

“Dan yang membahagiakan saya adalah saya bisa terus mencipta di antara anak-anak muda baru sinema Indonesia dengan beragam karya dan inovasinya,” tambahnya.

Film Kucumbu Tubuh Indahku memborong 8 Piala Citra pada FFI 2019 dengan masing-masing kategori, Penata Busana Terbaik, Penata Artistik Terbaik, Penata Musik Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Sutradara Terbaik, serta Film Cerita Panjang Terbaik.

Produser ‘Kucumbu Tubuh Indahku’, Ifa Isfansyah berharap, pencapaian film yang mewakili Indonesia di ajang Academy Award di Amerika ini, jadi simbol kebebasan dalam berkarya dan berekspresi.

“Semoga semakin banyak film (Indonesia) yang berani mengatasnamakan kemanusiaan, menyuarakan suara yang terpinggirkan, dan menceritakan karakter-karakter yang minoritas,” kata Ifa Isfansyah.

Muhammad Khan, pemeran tokoh Juno mengatakan, film yang sempat memicu kontroversi itu merupakan debut pertamanya dalam film layar lebar.

Bagi aktor terbaik FFI 2019 itu, dunia seni peran memberikan pelajaran hidup sangat penting.

“Tugas saya sebagai seorang aktor adalah harus bisa melihat manusia dari berbagai sisi. Dari situ saya gak boleh ngejudge orang. Itulah tujuan mulia ilmu keaktoran. Belajar memanusiakan manusia,” kata lulusan Institus Seni (ISI) Yogyakarta ini.

“Ketika peran itu penting untuk disuarakan, saya mau,” tambah Khan. (*/Jeane)

Komentar

Berita Lain